Menginsafi Kekerasan Terhadap Anak


Ahad, 21 Juni 2015 - 18:36:17 WIB
Menginsafi Kekerasan Terhadap Anak

Ada beberapa bentuk kekerasan yang dapat ter­jadi dan mengancam kehi­dupan anak, yaitu kekerasan emosional, kekerasan ver­bal, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual (Man­syur Hidayat, 2015).

Baca Juga : Elektabilitas Capres Oposisi, Gatot & Rocky Gerung Tertinggi

Menakar (akar) kekerasan

Menelusuri akar keke­rasan yang terjadi dalam perilaku manusia, dapatlah kita petakan berdasarkan struktur jiwa dalam teori psikoanalisanya Sigmund Freud (1983). Menurut Freud, pada dasarnya peri­laku manusia digerakkan oleh dua dorongan dasar, yaitu do­ro­ngan untuk hi­dup (eros) dan dorongan untuk mati (thanatos).

Baca Juga : THR Pekerja Wajib Dibayar H-7 Lebaran

Dorongan untuk hidup ke­­mu­dian oleh Freud dispe­sifikkan pada dorongan seks (libido) se­bagai intinya. Ini dise­bab­kan karena Freud melihat berdasarkan penga­laman praktiknya, banyak pasien yang mengalami gang­­g­uan mental dise­bab­kan mereka tidak mampu me­ngeks­pre­sikan dorongan seks mereka secara wajar. Libido ini yang mengisi energi pada id.

Pada bagian lain, energi superego berasal dari tha­natos. Itulah sebabnya me­nga­pa orang yang supe­re­gonya kuat dan men­domi­nasi kepribadiannya, mudah diliputi kecemasan dan rasa bersalah yang pada akhirnya membuat individu diliputi perasaan putus asa dan depresi (bahkan keinginan untuk bunuh diri). Ini ter­jadi karena energi thanatos diarahkan kepada diri sen­diri. Sedangkan bila energi thanatos diarahkan ke luar, ini akan muncul dalam ben­tuk perilaku agresi yang bersifat destruktif termasuk di dalamnya rupa-rupa tin­dak kekerasan.

Baca Juga : Tertarik Beasiswa LPDP, Ini Syarat dan Cara Pendaftarannya

Berdasarkan pandangan psikoanalisa tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya dorongan untuk melakukan tindak kekerasan memang sudah menjadi sifat dasar manusia (bawaan). Semua manusia berpotensi (tanpa kecuali) untuk melakukan tindak kekerasan (entah terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain).

Thomas Hobbes meng­­gambarkan bahwa, ma­­nu­sia adalah makhluk yang memi­liki tendensi do­­ro­ngan-dorongan ira­sio­nal, anarkis, saling iri, serta benci se­hing­ga men­jadi jahat, buas, kasar, dan ber­­pikir pendek. Da­lam isti­lahnya Hobbes di­sebut dengan “homo ho­mini lu­pus”, bahwa ma­nu­sia adal­ah serigala bagi manu­sia lain.  Serigala-se­ri­gala itu bah­­­kan mem­bayangi ke­selamatan jiwa anak “da­lam selimut”. Orang tua, keluar­ga dekat, baby sitter juga pembantu rumah tang­­ga dapat men­jadi an­caman bagi ke­hi­du­pan anak. Ma­­­­rak­nya tin­­­dak ke­ke­ra­san ter­­ha­dap anak yang ter­­jadi da­lam ma­­sya­­ra­kat mo­­dern mem­­buk­­ti­kan sudut pan­dang ini.

Baca Juga : Aa Umbara Tersangka, Hengky Kurniawan Ditunjuk Jadi Plt Bupati

Tanggungjawab perlindungan anak

Perlindungan terhadap anak adalah tanggungjawab setiap elemen bangsa yang masih menginsafi bah­wa­sanya anak merupakan tu­nas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita per­juangan bangsa. Bahwa se­tiap anak berhak atas ke­lang­sungan hidup, tumbuh dan berkembang serta ber­hak atas perindungan dari kekerasan dan diskri­mi­nasi, sebagaimana dia­ma­natkan dalam UUD 1945. Undang-undang menem­patkan negara dan peme­rintah sebagai pengawas penyelenggaraan perlin­dungan anak (Lihat pasal 23 ayat (1) UU Per­lindungan Anak).

Pengasuhan, perwalian, dan pengangkatan anak mes­­­ti diawasi betul oleh negara agar terjaminnya hak-hak dasar anak. Hak-hak dasar itu melingkupi bidang agama, kesehatan, pendidikan, maupun sosial.

Pemerintah dan lem­baga negara lainnya ber­kewajiban dan ber­tang­gung­jawab untuk memberikan perlindungan khusus ke­pada anak dalam situasi darurat, anak yang ber­hadapan dengan hukum, anak dari kelompok mino­ritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara eko­nomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penya­lahgunaan narkotika, alko­hol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan sa­lah dan penelantaran.

Perlu diinsafi ber­sama, sebagaimana Noam Cho­msky menasihatkan da­lam Failed States: The Abuse of Power and the Assault on Democracy (2006), seti­daknya ada dua karakter utama atau dua kategori yang membuat negara ter­tentu dapat di­sebut sebagai negara gagal. Salah satunya adalah ne­gara yang tidak memiliki ke­mauan atau kemampuan melindungi warga negara dari berbagai bentuk keke­rasan, dan bahkan kehan­curan. Itulah negara yang tidak dapat melindungi ge­ne­rasi muda penerus cita-cita per­jua­ngan bangsanya. ***

 

ALEK KARCI KURNIAWAN
(Peneliti Muda Konstitusi (PUSaKO) — FH Unand,
Pengamat Hukum UKM Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas, Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]