Pessel Miliki 860 Hektare Lahan Pengembangan Sayur


Selasa, 23 Juni 2015 - 19:01:19 WIB

Terkait ditemukannya hamparan lahan sayur-ma­yur itu, Bupati Nasrul Abit dihadapan warga setempat saat Safari Ramadan di Mesjid Khalis meminta Pemerintah Nagari setem­pat membuat laporan dan grand desain rencana pe­nge­lolaan lahan 860 hek­tare tersebut.

“Misalnya jenis tana­man sayuran apa yang akan dibudidayakan di sana. La­lu prasarana dasar yang diperlukan. Kepada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura juga di­min­ta segera lakukan kajian komprehensif terkait lahan itu,” katanya.

Disebutkannya, Keca­matan Bayang Utara sebe­tulnya ditetapkan sebagai sentra hortikultura Pesisir Selatan, namun produksi sayur mayur di Bayang Uta­ra masih belum maksimal akibat banyak faktor. Wila­yah Bayang Utara yang menjanjikan untuk dikem­bangkan tersebut, hingga kini belum diolah secara maksimal disebabkan ba­nyak persoalan.

Ia menyebutkan, kenda­la utama dalam pengelolaan kawasan pertanian di sana adalah penguasaan tekhno­logi pertanian yang masih sederhana. Pada beberapa tempat proses poduksi jus­tru jauh dari pelatan dan ilmu pertanian.

“Selain itu, warga petani juga dihadapkan pada sulit­nya memperoleh benih ung­­­gul untuk pengem­ba­ngan jenis tanaman tertentu. Misalnya bawang merah. Warga disini, kadang tidak mendapatkan bibit bermutu untuk ditanam, dengan de­mi­kian hasil yang diperoleh masih belum memuaskan,” katanya.

Sementara Wali Nagari Pancungtaba menyebutkan, kendala utama warga di dalam mengembangakan berbagai tanaman pangan adalah penguasaan tata­laksana pertanian yang ma­sih tradisionil. Warga disini cenderung menggunakan alat dan tata cara yang ma­sih lama, sehingga hasil yang didapatkan tidak mak­simal.

“Tapi selain itu, tentu pemerintah kabupaten da­lam hal ini dinas terkait perlu juga memikirkan soal benih dan pemasaran pro­duk pertanian. Pemasaran produk pertanian juga ber­kaitan dengan pengelolaan hasil pertanian pasca panen. Jadi semuanya kendala yang ada saling berkaitan. Arti­nya perlu penguatan dan peningkatan kapasitas ma­sya­rakat,” katanya.

Dia menyebutkan, pe­ngem­bangan tanaman pa­ngan dan sayuran terken­dala dengan beratnya me­dan dan mahalnya biaya angkut di daerah tersebut. Medan yang berbukit dan jalan sempit menyulitkan petani untuk memobilisasi produksi pertanian.

Hingga kini pengem­bangan lahan pertanian di daerah itu masih diha­dap­kan pada besarnya ongkos angkut dan sulitnya men­dapatkan benih.

“Warga Ngalau Gadang misalnya, bila panen cabai atau bawang, harus mem­bayar mahal upah angkut meng­­gunakan ojek untuk bisa sampai ke Pasar Pan­cuang Taba, apalagi bila diangkut ke Pasar Baru Bayang, tentu akan lebish besar lagi,” katanya.

Disebutkannya, akbat biaya transportasi besar usaha pertanian warga se­tempat hanya bisa jalan ditempat. Warga bercocok tanam berbagai sayuran rata rata hanya untuk kebutuhan dirumah tangga, bukan un­tuk dijual.

Berdasarkan catatan Di­nas Pertanian Tanaman Pa­ngan Hortikultura, Peter­nakan dan Perkebunan Pes­sel, di tiga nagari tersebut cocok dikembangkan ba­wang merah, kol, cabai dan berbagai jenis sayuran lain­nya.­ (h/har)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]