Potensi Gempa Mentawai 9 SR dan Pentingnya Mitigasi


Selasa, 23 Juni 2015 - 19:26:25 WIB
Potensi Gempa Mentawai 9 SR dan Pentingnya Mitigasi

Meski demikian, keberanian warga menempati lahan di zona merah, bisa jadi juga dilatari bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Karena mereka tidak punya lahan atau rumah di tempat lain. Mau beli lahan dan rumah, warga tersebut tidak mampu, karena tidak punya uang. Berikutnya ada juga yang disebabkan karena ketidak­tahuannya terhadap bencana gempa dan tsunami yang sewaktu-waktu dapat mengancam kehidupan dan peradaban mereka.  Ketidaktahuan atau ketidakpahaman tersebut juga dapat disebabkan karena rendahnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Baca Juga : Tinjau Bandara Soetta, Kapolri Minta Perketat Pengawasan Warga dari Luar Negeri

Kemarin, sebanyak 10 peneliti geofisika kelautan asal Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP), Earth Observatory Singapore Nanyang Technological University (EOS-NTU), dan Lembaga Ilmu Penge­tahuan Indonesia (LIPI) menemukan banyak patahan aktif di bagian barat Sumatera tepatnya di Kepulauan Mentawai. Tim peneliti juga mengklaim telah berhasil melakukan pengambilan data seismik beresolusi tinggi dan data paras dasar laut.

Melalui penelitian bertajuk Mentawai Gap Tsunami Earthquake Risk Assessment (MEGA-TERA), Profesor Satish Singh dari IPGP kepada media dalam jumpa pers Selasa (23/6) di Auditorium, Gubernuran Sumbar mengatakan, penelitian selama 32 hari di dua lokasi penelitian, masing-masing di cekungan Wharton dan kawasan sebelah barat Pulau Siberut, ditemukan banyak patahan aktif di dekat palung dengan arah berbeda-beda, baik di lempeng yang tersubduksi maupun lempeng di atasnya.

Baca Juga : OTT Bupati Nganjuk Wujud Sinergitas KPK dan Polri yang Pertama Kali

Kekuatan gempa yang tersimpan di pertemuan lempeng tersebut diperkirakan mencapai 9 Skala Richter (SR), bahkan memungkinkan memicu terja­dinya tsunami. Akan tetapi kata Profesor Satish Singh, tidak bisa ditentukan kapan energi tersebut dilepaskan. Peneliti asal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Nugroho Hananto mengatakan, penelitian dilakukan untuk melihat pergerakan zona subduksi di Mentawai. Hasil penelitian akan disampaikan kepada Pemerintah Indonesia, yang bisa dijadikan bahan untuk menyusun mitigasi bencana yang harus disiapkan menghadapi kemungkinan bencana yang ditimbulkan.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya gempa diiringi tsunami, Pemprov Sumbar telah menyiapkan mitigasi bencana, mulai dari memberikan sosialisasi dan kesiapsiagaan bencana pada masyarakat. Menurut pakar dari Earth Observatory of Singapore yang telah lama meneliti kawasan Mentawai bersama LIPI, Profesor Kerry Edward Sieh, dari data gempa besar di Mentawai pada 1797 dan 1833 yang mereka dapatkan, ternyata hampir seluruh megathrust (sesar naik) antara Pulau Pagai Selatan sampai Pulau Batu belum pernah patah sejak tahun 1797 atau bahkan seratus tahun sebelumnya.

Untuk itu, kata Sieh, perlu disiapkan upaya mitigasi yang bervariasi di tiap-tiap daerah, mengingat tsunami yang terjadi baru-baru ini cukup besar. Bangunan-bangunan di sekitar potensi gempa, menurutnya, musti dibuat lebih tahan gempa. Desa-desa juga harus didesain agar lebih tahan terhadap terjangan tsunami. Antara lain dengan menyiapkan pertahanan fisik alami meliputi terumbu karang, bukit-bukt pasir, hutan mengrove dan hutan pantai, maupun pertahanan fisik buatan seperti pemecah ombak, tembok laut, pintu air tanggul, shelter, rumah panggung, atau rumah evakuasi tahan bencana.

Sementara pertahanan non-fisik meliputi pem­buatan peta rawan bencana, sistem peringatan dini, relokasi, pengaturan tata ruang, zonasi, tata guna lahan, serta penyadaran dan penyuluhan masyarakat. Sejauh ini dapat dilihat progress program mitigasi bencana sangat lamban. Progresnya tidak sebanding dengan ancaman gempa dan tsunami yang mengintai wilayah pesisir Sumbar. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]