Bidan, antara Profesionalitas dan Pengabdian


Rabu, 24 Juni 2015 - 18:58:03 WIB
Bidan, antara Profesionalitas dan Pengabdian

Meskipun profesi bidan mulia dan strategis, tapi tidak semua bidan menerima imbal balik dari pengabdian dan profesi yang mereka jalani. Nasib bidan berada di antara profesionalitas dan pengabdian. Bidan belum sepenuhnya dipandang secara pro­fesional. Sebaliknya, masyarakat lebih dominan menilai bidan sebagai pengabdian. Pada posisi seperti itu, dilema dan bahkan tabu bagi bidan berbicara soal kesejahteraan mereka.

Baca Juga : Tingkatkan Koordinasi dan Sinergi, Menko Airlangga Terima Kunjungan Ombudsman RI

Pada sisi lain, tuntutan atas bidan untuk bisa mencapai target-target nasional seperti menekan angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) saat  melahirkan dibebankan di pundak para bidan. Padahal banyak hal di masyarakat yang menyebabkan AKB dan Aki masih tetap tinggi. Data tahun 2010 (hingga kini belum diperbaiki) tingkat AKI Sumbar  mencapai 212 per 100.000 kelahiran. Sedangkan tingkat AKB masih 27 per 1.000 angka kelahiran.

Menekan jumlah AKI dan AKB saat melahirkan tetap menjadi fokus Dinas Kesehatan se-Sumatera Barat. Tahun 2015 merupakan akhir dari pelaksanaan Millennium Development Goals (MDGs) yang telah digagas sejak tahun 2000 silam. Hingga kini angka AKI dan AKB di Sumbar masih tinggi.

Baca Juga : Pemerintah Pantau Mobilitas Masyarakat untuk Cegah Kenaikan Kasus Covid-19

Hingga kini, capaian MDGs di Sumbar belumlah terpenuhi. Berdasarkan hasil survei Fakultas Ke­dokteran Universitas Andalas 2008 lalu, AKI di Sumbar tercatat 212 per 100.000 kelahiran hidup (KH) dari 102 per 100.000 KH yang ditargetkan. Kemudian, untuk AKB Sumbar baru mencapai 27 per 1.000 KH dari 23 per 1.000 KH yang ditargetkan.

Menurunkan angka AKI cukup berat. Bergeser satu koma saja, sangat susah. Pada momentum HBN ke-64 kali ini yang diperingati 24 Juni 2015, IBI menetapkan sebuah tema besar yaitu “Mengawal 1.000 Hari Kehidupan Dalam Mewujudkan Generasi Penerus”. Namun, tidak sampai di sana, peran bidan tidak hanya mengawal kesehatan bayi hingga menjadi balita, tapi juga memastikan calon ibu dan ibu dalam keadaan sehat.

Dinkes Sumbar intensif memantau enam daerah yang berada dalam garis merah terkait tingginya AKI dan AKB. Enam daerah itu yakni, Kabupaten Ke­pulauan Mentawai, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Dharmasraya, dan Kabupaten Pasaman Barat. Tingginya kasus kematian ibu ini disebabkan hipertensi dan perdarahan.

Kemudian, keterlambatan pemeriksaan kehamilan juga menjadi satu permasalahan para bidan dalam menangani para ibu hamil. Kebanyakan, ibu hamil baru memeriksakan kehamilan ketika sudah di usia lima bulan. Mestinya, ketika mengalami keterlambatan datang bulan, si ibu harus mendatangi bidan maupun dokter kandungan untuk memeriksakan diri.

Tak hanya itu, kultur budaya masyarakat juga telah menyumbang angka kematian ibu meskipun per­sentasenya tidak besar. Seperti kasus seorang ibu yang terlambat dibawa ke bidan karena terlalu lama merumuskan di mana tempat persalinan yang baik. Dalam satu kasus, wanita hamil di Sumbar harus melalui rapat yang panjang di Rumah Gadang milik keluarganya untuk memutuskan proses persalinan. Bahkan harus seizin mamak atau paman. Mestinya ini kan tidak terjadi. Sebelum hari persalinan datang, semua sudah di­persiapkan, dimana akan bersalin, kendaraan apa yang akan mengantar, siapa yang akan mengantar sudah harus jelas. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]