Pahit Getir Jadi Petani Sawit Jelang Lebaran


Rabu, 24 Juni 2015 - 19:04:28 WIB
Pahit Getir Jadi Petani Sawit Jelang Lebaran

Belum ada satupun kekutan formal di Pesisir Selatan yang bisa memaksa pemain per­da­gangan sawit untuk memberikan harga yang pantas bagi petani. Pernyataan para pedagang ketika itu sudah laksana CEO perusaan besar pula yakni kebutuhan jelang le­baran besar di pe­ru­sahaan maka untuk me­nutupinya dengan me­nurunkan harga TBS. Seolah -olah petani tidak punya kebutuhan saat lebaran.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Petani hanya di­ha­dapkan pada dua pilihan saat musim panen tiba di bupan Ramadhan ini yakni memanen sawit ke­mudian men­jual dengan harga m­u­rah ke touke/pedagang atau membiarkan sawit jadi be­rondol dan membusuk di rumpun sawit. Daripada ter­telungkup dan ka­ram biarlah miring, kira-kira itulah yang ada dalam fikiran para petani.

Ditambah lagi, mumnya pe­tani buta dan tuli akan harga stan­dar TBS. Berapa yang dita­war­kan touke ya itulah yang harus di­ikuti.Sehingga harga tandan buah segar sawit (TBS) di Pesisir Se­latan tidak pernah sesuai ha­rapan pe­tani. Rabu (24/6) harga sawit di luar  perkebunan inti rakyat rata-rata dipatok toke seharga Rp600 hingga Rp650 per­kilogramnya. Sementara har­ga yang diharapkan petani Rp1900 perkilogramnya.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Ijal (57) warga Kambang Utara Kecamatan Lengayang menyebutkan, harga TBS belum sepa­dan dengan biaya pe­ngo­lahan lahan dan tuntutan ke­b­utuhan harian. Harga ideal sawit adalah Rp1900 per ki­logram sementara yang terjadi malah sebaliknya. Dengan harga pada kisaran Rp600 - Rp700 se­be­tulnya petani harus menutup biaya-biaya Rp1700, namun ka­rena petani tidak punya pi­lihan terpaksa menjual harga sawit seperti saat ini.

Dia berandai-andau bila har­ga sawit Rp1900 perkilogram dia bisa membayar upah buruh untuk memanen dan pe­ra­wa­tan. ”Se­karang, karena harga sa­wit tidak menguntungkan, terpaksa diker­jakan sendiri dan anaknya. Di­kerjakan sendiripun masih belum menggembirakan. Biaya pupuk saja setiap batang memerlukan dana Rp800, belum lagi pem­bersihan lahan dan biaya angkut,” katanya.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Hingga kini petani di Pesisir Selatan tidak mengetahui harga sawit yang berlaku secara umum. Bisa dikatakan, petani sawit didaerah tersebut buta harga. Petani disini menyerahkan be­gitu saja harga sawit pada toke atau pedagang pengumpul.

Berdalih biaya angkut tinggi, harga tandan buah sawit segar (TBS) saban waktu selalu ter­gantung pada keinginan tauke. Pada waktu waktu tertentu bah­kan harga ditekan tauke pada harga tidak wajar.

Baca Juga : Perang Inovasi dalam Era Disrupsi

Dia mengatakan, pihak tauke sawit memiliki alasan sendiri bila harga diturunkannya. Mi­salnya salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya angkut ke pabrik dan tingginya biaya jelang Lebaran. Atau beralasan TBS menumpuk di gudang pe­nyim­panan selama berhari-hari. B­e­gitupula kondisinya dipabrik, kendaraan pengangkut antre berjan-jam.

“Alasan selanjutnya adalah produksi sawit milik perusahaan dan masyarakat bulan ini me­limpah. Di pabrik truk pe­ngang­kut sawit antri untuk dapat mem­­­­bongkar buah. Namun aki­bat ter­paksa sawitnya tersebut dijual dengan harga rendah, jika tidak maka buah akan jatuh dan mem­busuk,” kata Sepriadi pe­tani sawit Sutera.

Lalu petani sawit di Pesisir Selatan umumnya sudah terjerat oleh fasilitas yang diberikan touke kepada petani. Disaat harga sawit rendah touke bia­sanya memberikan pinjaman untuk biaya harian dan bahkan untuk pe­rawatan kebun dan beli pupuk.

Nawir (61) petani sawit di daerah tersebut mengatakan. Ia telah menjalin hubungan dengan touke semnjak sepuluh tahun lalu. Touke memberikan bantuan kepadanya disaat petani alami kesulitan.

“Saya dibantu pupuk bila tidak ada dana pembeli pupuk. Kemudian bila beras tidak ada touke juga siap memberikan pinjaman kepada kami. Jadi kami sangat tertolong,” katanya.

Akibat hubungan seperti itu menurut Nawir ia tidak punya pilihan lain untuk menjual TBS bila masa panen tiba. Berapapun harga yang ditetapkan touke ia tidak bisa mengelak. “Meski dengan menjual sawit seharga Rp650 kami tidak mungkin melupakan jasa touke disaat kami dalam keadaan sulit,” katanya.

Selanjutnya terkait dengan harga sawit Bupati Pesisir Se­latan Nasrul Abit menyebutkan, pe­merintah memang sulit me­ngen­dalikan harga sawit. Jalan keluar­nya sebetulnya adalah petani sawit harus bergabung dengan koperasi. Di sejumlah kecamatan sudah ada koperasi petani sawit, dengan bergabung di koperasi petani sawit akan memiliki kekuatan diha­dapan perusahaan.

Sementara itu dari sisi teknis harga sawit yang cenderung rendah ditengarai juga pengaruh mutu bibit yang rendah. Kualitas TBS yang hasil kebun petani Pessel umumnya tergolong pada kelas batu dan banci.

Terkait dengan bibit sawit yang ditanam warga di Pessel Kepala Dinas Pertanian Ta­naman Pangan,Hortikultura Peternakan dan Perkebunan Pes­sel Afrizon Nazar me­nyebutkan, sulit memang memantau asal-usul bibit sawit yang ditanam petani daerah itu. (*)

 

Laporan:
HARIDMAN KAMBANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]