Mudik Asyik Tanpa “Bergidik”


Kamis, 25 Juni 2015 - 18:59:16 WIB
Mudik Asyik Tanpa “Bergidik”

Bertemu sanak saudara di kampung halaman, pergi salat id bersama, lalu pulangnya berkumpul dan makan hidangan istimewa bersama keluarga tercinta. Bersenda gurau dan saling berbagi cerita, menambah syahdunya moment itu.  Jelang mudik tentu berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk halnya memilih angkutan mudik yang digunakan sebagai moda transportasi. Di sinilah point keselamatan harus  menjadi prioritas, jangan sampai celaka di jalan.

Baca Juga : Kasus Covid-19 di Indonesia Merangkak Naik: Tambah 6.177 Positif Baru, DKI Jakarta Terbanyak

Pilihan moda transportasi yang banyak digunakan diantaranya adalah angkutan umum. Namun bicara soal angkutan umum, hendaknya harus senantiasa hati-hati karena jelang lebaran banyak angkutan “gelap” yang menawarkan jasa menjadi angkutan mudik.

Jelang musim mudik tiba, banyak travel liar yang yang tidak memiliki izin trayek,  menawarkan layanan transportasi sebagai sarana mudik lebaran. Di Padang misalnya, kondisi itu sudah bisa terbaca.  Di beberapa lokasi menuju jalan lintas di Kota Padang misalnya, sepekan Ramadan, puluhan travel liar terlihat siaga menunggu penumpang dengan tujuan ke luar Kota Padang.

Baca Juga : Jadi Bandar Sabu, Eks Anggota DPRD Palembang Divonis Mati!

Di antaranya seperti di Jalan Dr. Hamka sampai gerbang kampus Universitas Negeri Padang (UNP), Simpang Lubuk Begalung (Lubeg) arah ke Solok dan Simpang Gaung arah ke Pesisir Selatan (Pessel).  Sebenarnya travel liar bukan barang baru di daerah ini. Di Sumbar, travel ilegal ini sudah marak sejak tahun 2009 lalu. Selain merugikan perusahaan angkutan umum legal, juga tidak memiliki jaminan asuransi kepada penumpangnya.

Tidak hanya itu, keberadaan travel liar ini pastinya juga sangat merugikan daerah, karena retribusi pembelian tiketnya tidak pernah disetorkan menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan data Dinas Perhubungan Sumbar pada 2014, di Sumbar terdapat lebih dari 700 unit travel liar. Pemerintah bukannya menutup mata akan keberadaan angkutan “gelap” tersebut. Selain razia rutin, juga dilakukan kebijakan yang mengharuskan agar travel gelap beralih menjadi angkutan umum berplat kuning. Namun lebih banyak yang tidak mengindahkan peluang untuk menjadi angkutan resmi.

Baca Juga : Kabar Baik Untuk Jemaah Umrah Indonesia, Satgas Prediksi Vaksin Sinovac 'Tersertifikasi' WHO Akhir Mei

Meski merugikan, namun demikian travel ilegal tetap saja diminati penumpang karena memberikan pelayanan lebih, diantaranya penumpang diantar sampai alamat dan waktu tempuhnya lebih cepat dari angkutan umum biasa.

Sebagai konsumen atau pengguna jasa angkutan kita yang hendaknya harus lebih bijak memilih moda transportasi yang aman. Jangan hanya karena ingin cepat sampai, lalu melupakan aspek keselamatan. Keselamatan adalah diatas segala-galanya. Pepatah “biar lambat asal selamat” banyak benarnya juga. Sebab karena  faktor ingin cepat sampai, banyak supir travel illegal yang menjadi ugal-ugalan di jalan, tanpa memperhatikan keselamatan penumpang.

Baca Juga : Penggabungan Kemenristek ke Kemendikbud Jangan Mengganggu Program Vaksin Merah Putih

Sudah sering kita baca di media, banyak terjadi kecelakaan karena ulah supir travel liar yang  ugal-ugalan karena ingin cepat sampai saja. Hendaknya mudik kita bisa berjalan asyik tanpa “bergidik” karena ngeri ulah supir ugal-ugalan. Semoga hendaknya kita semua selamat saat mudik dan saat balik. ***

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]