Pemimpin Fatamorgana


Kamis, 25 Juni 2015 - 18:59:44 WIB

Mereka dengan sengaja mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul Allah dalam menggariskan upaya-upaya mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia. Mereka sangat bangga dengan kemampuan intelektual yang mereka miliki, sehingga apapun yang mereka inginkan hanya berdasarkan pada pikiran-pikiran sempit yang mereka rumuskan  dalam program-program pembangunan nasional ataupun pembangunan semesta.

Sistem hidup yang dijalankan oleh pemimpin Negara-negara Muslim, seperti yang dijalankan oleh Ir. Soekarno di masa orde lama, Jamal Abdul Naser di Mesir, pemimpin-pemimpin Negara berkembang lainya dengan menjiplak konsep-konsep kaum kafir. Sekalipun Soekarno dan Jamal Abdul Naser mengaku sebagai Muslim, namun mereka tidak sungkan mengikuti sistem hidup kaum kafir. Begitu juga Jendral Ayyub Khan di Pakistan yang memerintah antara tahun 1960-1970 yang memiliki program pembangunan semesta bagi negaranya yang Islam, akan tetapi dengan menentang dan meminggirkan syariat Islam. Ternyata upaya mereka hanya menghasilkan penderitaan, kekacauan dan kemiskinan di negaranya masing-masing.

Percobaan kalangan muslim tetapi berideologi sekuler seperti halnya ketiga orang di atas pernah diperingatkan oleh pemimpin partai Komunis Uni Soviet bernama Nikita Khrushchev. Nasehat Khrushchev ini disampaikan kepada Gamal Abdul Nasser Presiden Mesir 1956-1970. Nikita Khrushchev seorang perdana menteri dan ketua central commite PKUS (Partai komunis Uni Soviet) yang digulingkan pada tahun 1964 oleh kawan-kawannya dan kemudian digantikan oleh Leonid Brezhnev. Dia pernah menyampaikan kritikan kepada para pemimpin Negara berkembang dalam membangun negaranya. Salah seorang pemimpin Negara berkembang yang diperingatkanya adalah presiden Gamal Abdul Naser sebagai pemimpin Republik Arab Mesir.

Ketika melawat ke Mesir tahun 1962 ia mengatakan kepada Gamal Abdul Naseer Anda telah keliru menerapkan sistem pertanian, perdagangan dan perumahan ala komunis di sini. Anda disini memulai  kerja seperti apa yang dahulu kami lakukan pertama kalinya, tetapi anda tidak menjalankan usaha mulai dari apa yang membuat Rusia gagal karenaya. (Rabithah Alam Islami, No. 3 tahun 14/1976).

Maksud Khrushchev ialah keliru kalau Negara –negara berkembang mencontoh Rusia bagaimana ia dahulu memulai membangun nenerinya. Tetapi, hendaklah Negara berkembang melihat kegagalan-kegagalan Rusia saat sekarang dalam meraih cita-citanya. Rusia sebagai Negara komunis ternyata pada akhir tetap gagal mewujudkan cita-citanya yang paling sederhana sekalipun, padahal Negara komunis ini sudah berjalan hampir setengah abad pada saat ia masih menjadi Perdana Menteri. Begitu juga halnya dengan PM Nehru, ketika Bung Karno mampir di India dalam perjalanan muhibah ke Rusia tahun 1960 ia berkata kepada Bung Karno, Negara tuan mayoritas Muslim, bagaimana tuan dapat mengabaikan perasaan dan aspirasi mereka dalam membangun Negara tuan itu? Kami rasa umat Islam tidak bisa menerima langkah tuan dengan Rusia ini.

Pada dasarnya peringatan Khruchev dan nasihat Nehru itu tidak berbeda, yaitunya agar pemimpin pemerintahan dalam membangun bangsa dan negaranya berpegang kepada aspirasi mayoritas rakyatnya. Bukan kemauan suatu klik, suatu kelompok kecil apalagi seperti yang di buat oleh Lon Nol dan Van Thieu sebagai boneka asing.

Metode Efektif Bangun Negara

Cara yang harus dipergunakan oleh pemimpin pemerintahan Negara berkembang haruslah cara bangsanya sendiri. Hendaklah mereka memulai dari apa yang tumbuh nyata menjadi kepentingan rakyatnya. Kalau sejenak kita mengkaji apa yang di lakukan Gemal Abdul Naseer pada awal pemerintahanya. Pertama, menggantikan akidah rakyatnya dengan ideology yang asing bagi jiwa dan pikiran mereka. Rakyat Mesir mayoritas Islam, tetapi Gamal menggantikannya dengan Sosialis Arab. Kedua,pergantian yang mendasarkan ideology asing seperti itu sangat membingungkan rakyatnya selain konsep ini baru juga masih seporadis dan belum ada pedoman prakteknya yang jelas. Langkah yang diambil oleh Gamal masa itu jelas masih keliru. Ketiga, memenjarakan dan membunuh orang-orang yang tidak sependapat dengan garis kepemimpinya. Cara ini memang memang ala komunis Rusia dari awal sampai sekarang. Keempat,kalau pemimpin suatu pemerintahan telah melenyapkan setiap orang yang tidak sejalan dengan pikiranya, maka fatalnya menyebabkan setiap orang menjadi takut dan srba gelisah tentang apa yang sebenarnya bisa dikerjakanya. Pola pemimpin seperti ini akan membuat rakyatnya menjadi dan merasa tidak mempunyai kepentingan dalam pembangunan lagi. Kelima, kenyataan seperti itu memang dirasakan oleh Gamal Abdulah Naser ketika kalah perang melawan Israel tahun1967. Pada saat itu rakyat acuh tak acuh, korban ribuan tentara pun berjatuhan dan peristiwa dan malapetaka ini tidak dirasakan kesedihan oleh rakyat Mesir. Kesedihan hanya dirasakan oleh orang-orang pemerintahan saja, disini Gamal Naseer sadar bahwa dia telah di asingkan oleh rakyatnya. Keenam, sifat meniru usaha Negara lain dan keyakinan asing tanpa memperdulikan rakyatnya sendiri. Kita lihat saja Turki dibawah Kemal Attauruk dengan membabi buta berkiblat ke Eropa, pada akhirnya hanya membuat derita Negeri Turki sendiri. Namun kita bisa mencontoh Negara Jepang, meskipun mencontoh gaya Barat, tetapi hanya pada teknologi dan pengetahuan , dan bukan berupa kultur rakyantnya.

Oleh karena itu, wajar rasanya bila orang/rakyat memperingatkan para pemimpin pemerintahan Negara berkembang agar mereka itu manunggal dengan keyakinan rakyatnya. Nehru yang telah berhasil membangun India, baik dalam system pemerintahanya maupun pembangunan materiilnya adalah seorang negarawan yang manunggal dengan rakyatnya. Kesalahan yang mendasar dari pemerintah Negara berkembang pada umumnya memindahkan teknologi pembangunan yang belum mampu di jangkau oleh rakyatnya dan kurang berhasil menyedot tenaga kerja mereka. Kesalahan lainya yang dilakukan Negara berkembang adalah mengikuti komsumsi Negara maju. Kita lihat contoh RRC dalam penggarapan lahan pertanian, andaikan RRG menggunakan mesin teknologi canggih otomatis sedikit memakai tenaga manusia, tentu berdampak tingginya angka pengangguran. Lain halnya dengan Negara berkembang, mereka lebih mengutamakan hal-hal yang mewah ketimbang yang sederhana.

Dari semua halnya diatas apakah dibutuhkan oleh jumlah rakyat Indonesia yang kita ajak membangun? Kita memang tidak boleh ketinggalan mengikuti kemajuan teknologi, tetapi jangan kita korbankan nasib rakyat sekedar untuk mengejar hal-hal yang seperti itu. Apa artinya semua teknologi yang hebat dan maju serta canggih, kalau rakyat merasa mereka tidak diperlakukan dengan wajar dan kesejahteraan mereka diabaikan.

Para pemimpin di negeri-negeri Islam yang melaksanakan pembangunan negaranya berkiblat pada ideology sekuler sebagaimana yang dilakukan oleh Ir. Soekarno di Indonesia, Gamal Abdul Nasser di Mesir, dan Jendral Ayyub Khan di Pakistan semuanya terbukti dalam sejarah hanya merupakan upaya sia-sia sampai sekarang.

Hal ini merupakan gambaran kongkret dari apa yang telah di firman kan Allah SWT pada ayat diatas. Oleh karena itu, para pemimpin Islam harus menghentikan langkahnya mengejar Fatamorgana dalam membangun kehidupan bernegara agar tidak menerima azab dari Allah SWT. Kita rakyat Indonesia telah merasakan derita ini sejak proklamasi kemerdekaan, akibat para pemimpin yang menempuh jalan kekafiran dalam membangun Negara.  Berkaitan dengan helat terakbar tahun 2015 ini, Sumatera Barat akan mengadakan PILKADA serentak untuk memilih pemimpin di negeri ini, baik Gubernur, Walikota maupun Bupati, kita sebagai rakyat harus bisa memilih dan mencari pemimpin yang merakyat, pilihlah pemimpin yang amanah, mementingkan pembanguan Sumbar yang Religius, Adat Basandi Sara’, sara’ basandi kitabullah, pilih pemimpin  emas dan bukan Loyang. ***

 

H. IRFIANDA ABIDIN
(Ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) Sumbar)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 13 Februari 2020 - 15:26:44 WIB

    Datuak Marajo Mahyeldi Ansharullah: Melayani adalah Kewajiban Pemimpin

    Datuak Marajo Mahyeldi Ansharullah: Melayani adalah Kewajiban Pemimpin PADANG, HARIANHALUAN.COM - DATUAK Marajo Mahyeldi Ansharullah, SP, adalah kepala daerah yang juga ulama. Karena itu, panggilan Buya masih sering ditujukan padanya kendati ia sudah memasuki periode kedua memimpin Kota Padang, .
  • Ahad, 12 Januari 2020 - 21:55:58 WIB

    Subuh Mubarakah Ajang Menyatukan Pemimpin dengan Masyarakat

    Subuh Mubarakah Ajang Menyatukan Pemimpin dengan Masyarakat PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Meningkatkan ukuwah islamiyah di Kota Padang khususnya di Kecamatan Padang Selatan laksanakan program Subuh Mubarakah di Majid Al-Furqon di Kelurahan Rawang..
  • Ahad, 12 Januari 2020 - 13:27:47 WIB

    Sosok Mahyeldi di Mata Azwar Anas: Beliau Pemimpin yang Komplit

    PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Tokoh nasional asal Sumbar, Azwar Anas mengapresiasi Mahyeldi Ansharullah yang dianggap sosok pemimpin yang berhasil membangun perkotaan saat dia menjadi Wali Kota Padang. Azwar Anas pun mengucapka.
  • Senin, 02 Oktober 2017 - 11:42:47 WIB

    Temui Nasrul Abit, Faldo Maldini Belajar Kepemimpinan

    Temui Nasrul Abit, Faldo Maldini Belajar Kepemimpinan PADANG, HARIANHALUAN.COM--Faldo Maldini, pendiri pulangkampuang.com, menemui Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, di Padang baru-baru ini.  Dalam pertemuan tersebut, tokoh lintas generasi ini berdiskusi banyak hal tent.
  • Senin, 05 Desember 2016 - 00:43:30 WIB

    9.500 Pemuda Ikuti Seminar Internasional Kepemimpinan

    9.500 Pemuda Ikuti Seminar Internasional Kepemimpinan PADANG, HALUAN — Sekitar 9.500 pemuda yang terdiri atas mahasiswa dan masyarakat umum mengikuti seminar internasional kepemimpinan di GOR Universitas Negeri Padang (UNP), Minggu (4/12)..

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]