Wisata Religi di Museum Adityawarman


Jumat, 26 Juni 2015 - 17:55:45 WIB
Wisata Religi di Museum Adityawarman

“Sebagian koleksi ter­pajang di ruangan museum dan sebagian lainnya sengaja disimpan dengan alasan pera­watan,” ucap Riza.

Baca Juga : Pantai Salido Pesisir Selatan jadi Favorit Anak Muda

Riza mengatakan, jumlah koleksi kebudayaan ber­na­faskan Islam di Museum Adi­tyawarman cukup banyak dan beragam. Sebut saja piring oval, mangkuk dan cerek yang diukir dengan bahasa arab dan asma Tuhan, selain itu ada tasbih, kitab Alquran, hadist, kitab gundul, arab melayu, reha tempat mengaji, tabung azimat, tempat aneka batu tulis, stempel kerajaan padang laweh dan kerajaan siguntur Dharmasraya, batu tulis, re­bana, miniatur surau atau mesjid bersejarah dan lukisan para ulama ataupun pemuka agama Isalam.

Khusus untuk naskah ku­no, salah satu ruangan mu­seum memang telah di­fung­sikan sebagai ruang pameran naskah kuno. Beragam naskah terlihat dipajang dalam lemari kaca, dan naskah dialasi de­ngan kain halus agar kea­wetannya bisa lebih terjaga.

Baca Juga : Tempat Wisata Ditutup, Warga Padati Taman Kota Siak

Diantara naskah kuno ber­na­faskan Islam yang dipajang di ruang tersebut seperti Kitab pengetahuan agama, antara lain Alquran, Hadis, Nahu, Syaraf, Tarikh, Nazam, Tafsir, Sifat Dua Puluh, Mujarobat, Mubaliq dan Adab. Selain pe­nge­ta­huan agama, ada pula naskah kuno yang berisi ilmu pe­ngetahuan umum, ilmu alam, sejarah dan sastra. Sebut saja naskah tambo, Undang-un­dang Minangkabau, takwil gempa, naskah cerita rancak di labuah, hikayat cindua mato, siti kalsun, cerita nabi barampeh dan lain seba­gainya.

“Untuk naskah atau filo­logika, ada sekitar 81 naskah tua yang kita dapatkan di berbagai daerah. Kondisinya beragam mulai dari kondisi rusak, cukup baik, baik dan sangat baik. Cara perawatan yang dipakai adalah dengan memajangnya di lemari kaca, kemudian memberi bu­buk atau rempah di sekitar naskah untuk mencegah hing­gapnya rayap dan lain seba­gainya,” jelas Riza lagi.

Pengunjung Museum Adi­tya­warman, lanjut Riza, tidak hanya datang untuk melihat-lihat naskah kuno yang ada di museum. Karena tidak sedikit pula pengunjung datang untuk melakukan penelitian-pene­litian untuk keilmuan yang berkaitan dengan naskah-naskah tersebut. Sebut saja penilitian mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra, Sejarah, Keilmuan Islam dan lain sebagainya.

“Para peneliti tidak saja datang dari universitas di Sumbar dan provinsi lain. Karena bahkan ada peneliti yang datang dari luar negeri seperti Malaysia,” jelas Riza.

Selain naskah kuno, terdapat juga beberapa miniatur rumah ibadah, baik mesjid maupun surau di Museum Adityawarman. Seperti Mesjid Bingkudu Kabupaten Agam dan beberapa miniatur rumah ibadah lain yang tentunya me­miliki nilai sejarah. Bukan itu saja, museum juga memajang puluhan tokoh pahlawan dan ulama berpengaruh di masa-masa sebelum kemerdekaan, antara lain Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Mohammad Djamil Djambek, Haji Agus Salim, Buya Hamka, Rasuna Said dan lain sebagainya.

Dengan segala pernak-per­nik sejarah kebudayaan Islam yang tersaji di Museum Ad­i­tyawarman, pantaslah kiranya jika museum kebanggaan Sum­bar tersebut menjadi salah satu destinasi pariwisata religius di Kota Padang. Karena begitu banyak aset sejarah di Museum tersebut yang sifatnya masih sebatas pajangan, padahal di sisi lain fungsi edukasi yang ter­kandung di dalamnya sangatlah bermanfaat.

“Tingkat partisipasi atau kunjungan ke museum, untuk melihat naskah kuno atau pe­ning­galan sejarah bernafaskan Islam cukup baik. Tapi belum mengedepankan kegunaan edu­­kasi dari kunjungan ter­sebut. Paling banyak kunjungan bersifat edukasi itu digunakan oleh peneliti-peneliti yang datang dari berbagai Uni­ver­sitas. Sedangkan pengunjung umum hanya sekedar ber­kunjung untuk mengabadikan momen dan lain sebagainya,” kata Riza lagi.

Bulan Ramadan yang te­ngah berlangsung saat ini, agaknya menjadi momentum yang pas untuk memulai per­jalanan wisata religi ke Museum Adityawarman. Karena tidak sedikit ilmu yang ditawarkan apabila umat Islam meng­gunakan kesempatan kun­ju­ngan tersebut. Tentu saja guna lebih mengenal sejarah, agama dan budaya lebih jauh.

Pantauan Haluan, beb­e­rapa pengunjung memang terlihat menghabiskan waktu di siang Ramadan untuk mem­­baca keterangan sejarah yang ada di Museum Adi­tyawarman. Namun, tentu kunjungan yang lebih ramai lagi sangat diharapkan. Dar­i­pada menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak perlu, berkunjung ke museum dapat menjadi pilihan cerdas. (*)

 

Oleh :
JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]