Pengadilan Tipikor Gelar Sidang Lapangan Korupsi RSSN


Jumat, 26 Juni 2015 - 19:34:02 WIB
Pengadilan Tipikor Gelar Sidang Lapangan Korupsi RSSN

“Sidang lapangan ini se­ngaja digelar untuk melakukan pemeriksaan langsung di lo­kasi, terhadap alat kesehatan catchlab yang dikatakanb ber­masalah,” kata Badrun Zaini, diwawancarai di RSSN Bukit­tinggi, Jumat.

Baca Juga : Padang Aktifkan Kembali Kampung Nelayan untuk Tempat Karantina Covid-19

Ia mengatakan, dalam per­sidngan itu selain melakukan pemeriksaan alat juga di­la­kukan pemeriksaan saksi ahli dari Siemens yang dihadirkan JPU, yaitu Erwin Chandra, bersama rekannya. Ahli Erwin juga merupakan tim teknis dari pihak Siemens, untuk me­lakukan ujicoba alat.

Berdasarkan hasil pe­me­riksa­an alat yang dilakukan dalam sidang lapangan, ter­nyata alat tersebut ddapat berfungsi dan beroperasi de­ngan baik, yang berbeda de­ngan isi dakwaan jaksa.

Baca Juga : Pemuda Villa Indah Padang Bagi-bagi THR, Pakai Cara Tak Biasa

Menanggapi hasil pe­me­ri­k­sa­an itu, Fauzi Novaldi Cs selaku penasehat hukum dari terdakwa Sri Ambarwati se­laku Pejabat Pembuat Ko­mit­men (PPK), Mawardi selaku rekanan, dan Deni Setiawan Pejabat Penerima Hasil Pe­ker­jaan (PPHP) dalam proyek, mengaku bersyukur karena kebenaran mulai tampak.

“Bersyukur karena ke­benaran telah mulai terungkap, ternyata alat itu seperti yang sama-sama disaksikan dapat beroperasi dan berfungsi de­ngan baik,” katanya.

Sehingga, lanjutnya, men­jadi pertanyaan karena ber­dasarkan dakwaan kasus itu dinaikkan karena tidak dapat beroperasi sejak diadakan.

“kenyataannya alat ber­fungsi, jujur saya heran me­nga­pa terjadi permasalahan di­ka­renakan alat tak berfungsi berdasarkan surat dakwaan, hingga akhirnya proses sampai ke persidangan ini,” lanjutnya.

Fauzi juga mengatakan, adanya bagian alat catchlab yang menyentuh lantai juga tidak ada.

“Tidak ada yang men­yen­tuh lantai, alat telah di­ope­rasikan di hadapan ahli, jaksa, dan majelis hakim,” katanya.

Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Surya Denta, atas hasil pemeriksaan la­pangan itu mengakui bahwa alat memang dapat di­operasi­kan dan berfungsi. Hanya saja, katanya, ujifungsi alat perlu dilakukan beberapa tahap.

“Memang tadi sudah be­roperasi dan berfungsi, tapi itu baru tahap satu, ada tiga tahap ujifungsinya,” kata Surya Denta.

Ia mengatakan, untuk si­dang selanjutnya akan di­hadir­kan saksi meringankan (A de Charge) dari pihak terdakwa, untuk dimintai keterangan.

“Saksi dari JPu sudah ha­bis, sidang selanjutnya akan digelar dengan menghadirkan saksi A de Charge dari ter­dakwa,” katanya.

Usai melakukan pe­me­riksa­an alat catchlab dalam sidang lapangan, ruangan ter­sebut langsung dikunci, dan kunci ruangan diamankan oleh pihak jaksa.

Pada bagian lain, Dugaan korupsi itu terkait alat ke­sehatan (Alkes) catchlab di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Kota Bukittinggi pada 2012.

Proyek tersebut memiliki anggaran sebesar Rp16,8 Mi­liar, tahun anggaran 2011.

Dalam kasus itu negara di­perkirakan telah mengalami kerugian keuangan itu negara telah dirugikan sekitar Rp 14 miliar, karena pengadaan ter­sebut logikanya dinilai total loss.

Hal itu dikarenakan ba­rang alkes catchlab yang di­ada­kan tersebut fisiknya ada, namun sejak barang diadakan tidak dapat difungsikan.

Dalam dakwaan jaksa di­se­butkan, hal yang me­nga­ki­bat­kan tidak berfungsinya alat itu karena spesifikasi ruangan, yang menyebabkan salah satu bagian dari alat cacthlab tidak dapat berfungsi karena men­yentuh lantai. (h/hel)

BERITA POPULER Index »


BERITA TERKINI Index »

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]