Masyarakat Beralih ke Tambang Emas Ilegal


Ahad, 28 Juni 2015 - 19:55:04 WIB

Informasi yang dipe­roleh Haluan di Sijunjung, anjloknya harga karet ini sangat memukul petani. Mereka kesulitan keuangan untuk me­menuhi kebutuhan sehari-hari, maka banyak petani karet ini yang beralih menjadi penambang emas ilegal.

Kondisi tersebut mendapat perhatian DPRD Sumbar. Ketua Komisi I DPRD Sumbar, Drs. H. Marlis, MM me­minta pe­merintah Kabupaten Sijun­jung agar dapat mencarikan solusi atas persoalan yang diha­dapi masyarakat.

Ia menyarankan pem­kab mencari alternatif peralihan pekerjaan untuk warga yang menggantungkan hidup dari perkebunan karet.

“Dengan begitu masyarakat tak melirik kegiatan tambang emas yang jelas membahayakan dan telah banyak makan kor­ban,” katanya sebagai ketua Tim Safari Ramadan (TSR) Pro­vinsi Sumbar ketika melakukan kun­jungan ke Masjid Al-Hida­yah, Desa Kampung Baru, Keca­matan Kupitan, Sijunjung, Sabtu (27/6) malam.

Ia mengatakan, masya­ra­kat  tergiur melakukan kegia­tan tambang emas yang mem­bahayakan tersebut, tak lain karena persoalan ekonomi. Hal ini jugalah yang selama ini dini­lai membuat  aktivitas tam­bang emas ilegal makin marak.

“Pemerintah daerah mesti mencarikan alternatif pem­bukaan lapangan pekerjaan baru, sehingga ini dapat teratasi, “kata Marlis.

Marlis menyarankan agar ada solusi jangka pendek maupun panjangyang dilakukan peme­rintah daerah. Untuk jangka pendek, katanya, bisa dengan menertibkan dan mengawasi akti­vitas tambang ilegal. Sedang­kan untuk jangka panjang mesti dica­rikan sumber kehidupan baru.

“Selain itu, juga harus ada sosialisasi terhadap para pe­nambang soal penga­ma­nan yang tidak memenuhi standar. Itu bertujuan agar Pemkab di sini bisa lebih mudah mengatur dan mensosialiasikan program,” ulasnya.

Di sisi lain, ia juga berharap dan mengimbau pada masya­rakat setempat untuk dapat meninggalkan kegiatan tambang emas ilegal yang masih banyak dijalani. Sebab, selain menim­bulkan efek keruskan pada eko­sisitem (lingkungan), kegiatan itu juga akan berisiko atas kese­lamatan penambang.

Kepala Desa, Kampung Baru, Arlius mengatakan, untuk kam­pung baru tak ada aktivitas tam­bang ilegal. Masyarakat mengan­dalkan ekonomi pada pertanian. Namun, tambahnya, akibat har­ga karet yang saat ini sedang perekonomian mas­yara­kat se­tempat memang lumpuh.

”Saat ini kami memang mengharapkan ada lapangan pekerjaaan lain, ataupun bantuan dari pemerintah kabupaten untuk kelanjutan perekonomian ke depan. Salah satunya dengan meningkatkan bantuan untuk kelompok,” pungkasnya.

Hasil penelitian mahasiswa Program Studi Pendidikan Seja­rah STIKIP Sumatera Barat bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya arti pen­didikan di Desa Kampung Baru masih rendah.

Sekitar 1.700 orang pen­du­duk Kampung Baru Kupitan ini sebagian besar mengantungkan ekonomi mereka sebagai petani, khususnya komoditas karet.    (h/mg-len)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]