Ramadan untuk Kehidupan yang Lebih Baik


Senin, 29 Juni 2015 - 18:39:03 WIB
Ramadan untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Tapi, meski lahir dalam keadaan fitrah, setiap ma­nusia juga dibekali dua potensi, yaitu potensi men­jadi orang baik dan menjadi orang jahat. (QS. As Syamsi: 8). Dua potensi itulah yang menyebabkan terjadinya pertarungan hebat dalam diri manusia, antara keingi­nan melakukan hal-hal yang baik di samping melakukan hal-hal yang tidak baik. Karena itu, terkadang ma­nu­sia hidup di jalan yang benar, tapi terkadang hidup di jalan yang salah.

Baca Juga : Capres 2024, PDIP Serahkan pada Keputusan Megawati

Selain itu, manusia juga diciptakan Allah SWT me­miliki hawa nafsu di sam­ping akal fikiran dan hati. Karena manusia punya naf­su­lah bu­mi yang kita tem­pati ini menjadi semarak, kehi­dupan menjadi dina­mis. Gedung-gedung pen­cakar langit di­bangun, tek­nologi-teknologi canggih terus diciptakan, model-model busana yang dipakai manusia terus diran­cang dan berubah sepanjang wak­­­tu, berbagai kebutuhan dan keinginan manusia te­rus meningkat sepanjang za­man.

Tapi, nafsu bagi manusia bagaikan pisau bermata dua. Ia bisa bermanfaat, tapi ia juga bisa menjerumuskan dan membunuh manusia itu sendiri. Karena mem­per­turutkan nafsulah berbagai kejahatan terjadi di muka bumi ini. Karena nafsu manusia menjadi serakah, memangsa di antara sesama, menipu, membohongi bah­kan saling membunuh. Ka­re­na memperturutkan nafsu terjadi pelanggaran aturan agama, norma-norma susi­la, hukum adat maupun hukum negara. Pendek kata, karena memperturutkan nafsu manusia terjerumus ke lembah dosa.

Baca Juga : Tindakan KKB Papua Sangat Keji, Tembaki Guru dan Tenaga Medis Covid-19

Bahkan tidak saja diberi nafsu, manusia juga diberi musuh yang sangat hebat dan piawai untuk men­jeru­mus­kan manusia agar kelak menjadi teman mereka di neraka. Dialah syetan la’natullah yang selalu meng­goda manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak baik. Ia tidak tampak, tapi ia selalu ada dan membisik-bisikkan ke dada manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak diridhai-Nya (QS. An Nas: 4-5).

Allah sendiri se­sung­guhnya telah mengingatkan manusia bahwa syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia (QS. Al An’am: 142) Tapi sayang­nya, dengan kepiawaian syetan menggoda manusia, tidak sedikit pula manusia tergoda oleh bujuk rayu syetan untuk berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan agama. Karena godaan sye­tan manusia berbuat dosa.

Baca Juga : Innalillahi, Pemilik Radwah Hartini Chairuddin Meninggal Dunia

Karena itu, meski manu­sia sudah diberi akal untuk berfikir, hati untuk merasa serta wahyu (Al-Qur’an dan Hadits) sebagai tuntunan hidup, tapi manusia tetap juga tidak ada yang alfa dari berbuat salah dan dosa. Ada yang mungkin tergelincir sedikit, berbuat dosa-dosa kecil, namun mungkin ada yang betul-betul terperosok ke dalam jurang yang dalam, terlanjur berbuat dosa be­sar. Di antara dosa-dosa itu ada yang bisa disem­bunyi­kan, tapi juga ada yang terlanjur terpublikasi. Aki­batnya manusia menjadi terhina, tertunduk malu, kehilangan harga diri, ter­pukul mentalnya, terpuruk ke­hi­du­pan­nya.

Begitu pu­la dosa-dosa yang ter­sembunyi, ju­­ga se­nan­­­tiasa mem­buat resah di ha­ti. Ia ta­kut orang lain tahu. Se­ba­gai­ma­­­na sab­da­ Nabi Mu­­ham­mad SAW:­ ­“Dosa adalah sesuatu yang mem­buat hati manusia ge­lisah dan ia takut orang lain tahu”. Karena itu, orang yang ba­nyak dosa hidupnya tidak tentram, tidak bahagia serta sulit menerima nase­hat dan kebenaran. Sebab, hatinya gelap dan tertutup. Rasu­lullah SAW men­jelas­kan bahwa setiap orang berbuat dosa akan diberi bintik hi­tam di hatinya. Semakin banyak dosa, se­ma­kin ba­nyak bintik hitam di hatinya. Dari hati yang tidak bersih terlahir pula berbagai sifat tercela.

Baca Juga : Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kembali Penggabungan Kemendikbud dan Ristek

Dengan menyadari bah­wa tidak ada manusia yang terlepas dari salah dan dosa, maka kehadiran bulan Ra­madan bagi orang-orang beriman terasa begitu amat penting untuk memperbaiki diri, bertobat dan meminta ampun kepada Allah SWT. Sebab, bulan Ramadan me­ru­pakan bulan magh­fi­rah,­­ bulan penuh am­pu­nan. Na­bi Muhammad SAW men­je­las­kan: “Ba­rang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan per­hitungan akan diampuni dosa-dosa­nya yang telah berlalu”.

Mendapat ampunan da­ri Allah SWT serta kem­bali ke fitrah sebagai manusia yang suci adalah harapan yang ingin diraih orang-orang beriman melalui bu­lan Ramadan. Harapan se­per­ti itu juga menjadi ba­gian dari upaya menjadikan hidup lebih baik. Sebab, meng­ha­pus­ dosa ber­arti meng­hi­lang­­kan ke­ge­­lisa­han, men­jauh­kan ke­­­seng­sa­raan serta men­da­tang­kan ke­ten­tra­man dan ke­baha­gia­­an, me­ngun­dang rahmat dan men­jauh­kan laknat. Firman Allah SWT, “Sung­guh be­run­tung­lah orang yang men­sucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya”. (QS .Asy Syamsi: 9-10).

Peran kedua dari bulan Ramadan untuk men­jadi­kan kehidupan orang-orang ber­iman lebih baik ialah bulan Ramadan mengan­tarkan pada derajat taqwa. Tujuan puasa Ramadan ada­lah un­tuk membentuk pri­ba­di yang bertaqwa (QS. Al Ba­qa­rah: 183). Orang ber­taq­wa secara sederhana ada­lah orang yang selalu me­nger­jakan perintah Allah dan selalu meninggalkan la­ra­ngan-Nya. Semua perin­tah Allah adalah hal yang baik-baik, semua larangan Allah adalah hal-hal yang tidak baik, maka orang ber­taqwa sebenarnya adalah orang yang selalu me­nger­jakan hal-hal yang baik dan selalu meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Orang ber­taq­wa adalah orang yang me­miliki karakter yang baik.­ Dan bulan Ramadan meru­pakan bulan untuk mem­bentuk karakter yang baik.

Di samping memiliki karakter yang baik, orang bertaqwa juga memiliki kecerdasan emosional yang baik. Berbagai hasil pene­litian juga telah mem­buk­tikan bahwa kecerdasan emosional sangat ber­pe­ngaruh terhadap kesuksesan hidup. Daniel Goleman (2002) dalam bukunya Emotional Intelligence mi­salnya, ia mengemukakan bahwa delapan puluh per­sen dari kesuksesan hidup seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya, sementara kecerdasan inte­lektual hanya berpengaruh sebesar dua puluh persen. Dengan demikian, puasa Ramadan sebagai sarana untuk membentuk pri­badi bertaqwa dan me­miliki ke­cer­dasan emo­sional juga berperan un­tuk men­jadi­kan hidup lebih baik dan lebih sukses.

Di mata Allah SWT, orang bertaqwa meru­pakan orang yang paling mulia. Orang yang bertaqwa di akhirat kelak akan mem­peroleh surga. Orang yang bertaqwa dekat dengan rah­mat Allah, diberi ke­mu­dahan dan jalan keluar dari setiap persoalan yang diha­dapi serta juga diberi rezki yang tidak diduga-duga. Di samping itu, taqwa meru­pakan bekal terbaik untuk kehidupan di kam­pung akhi­­­­­rat. Firman Allah SWT: “Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (QS.  Al Baqarah: 197)

Karena itu, marilah kita berusaha bersungguh-sung­guh untuk mengisi bulan Ramadan dengan berbagai ibadah wajib dan sunat, dengan puasa secara lahir dan bathin, memperbanyak istighfar, meminta ampun dan bertobat kepada Allah SWT. Semoga dengan itu semua kita bisa kembali pada fitrah sebagai manusia yang suci, serta mampu pula mengantarkan kita pada derajat taqwa.  Kita juga berdo’a semoga bulan Ra­madan mampu meng­han­tarkan kita pada kehidupan yang lebih baik, lebih ber­makna, lebih bahagia di dunia dan di akhirat nan­tinya. Wallahu a’lam bish shawab. (*)

 

JUNAIDI
(Guru PAI SMPN 35 Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]