Ahli: Alat Layak Digunakan untuk Manusia


Selasa, 30 Juni 2015 - 19:16:46 WIB

Dalam keterangannya, ketiga saksi ahli ini ternyata dengan tegas membantah keterangan dari saksi ahli dari Siemens sebelumnya, yakni Erwin Chandra, yang mengatakan uji coba yang dilakukan untuk alat Cath­lab tersebut baru tahap per­tama dari empat tahapan yang ada.

“Sebenarnya tidak perlu lagi adanya uji fungsi alat chatlab dari pigak Siemens itu sendiri. Pasalnya, yang berwenang melakukan uji coba uji fungsi terhadap alat ini adalah Badan Pengawas Fasilitas Kesehatan (BPFK) yang berkantor di Jakarta. BPFK sendiri sebelumnya telah menyatakan bahwa alat ini bisa berfungsi dengan baik dan dinyatakan aman digunakan untuk manusia,” sebut saksi Hari Firmansyah dan diamini oleh dua saksi lainnya yakni Raja Siman­juntak serta Buston Lubis.

Kendati demikian, lanjut saksi ini lagi, sebelum alat ini digunakan, harus ada izin dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). “Alat ini sebenarnya sudah bisa digu­nakan. Sudah aman untuk manusia, karena tidak dite­mu­kan kebocoran radiasi dari alat ini,” lanjut Hari lagi.

Hal senada juga diung­kapkan oleh saksi Buston Lubis, selaku ahli dibidang Radiologi. Menurutnya, alat Cathlab tersebut sebenarnya sudah bisa dipergunakan, karena sudah ada dokter ahli serta operator alat yang mengawasinya. “Jadi intinya tidak perlu lagi empat ta­hapan uji fungsi seperti yang disebutkan oleh pihak Sie­mens tersebut,” tambah saksi Buston.

Dalam sidang kali ini ternyata terungkap juga, kalau alat Cathlab tersebut juga sudah dilakukan uji coba uji fungsi pada tanggal 18 Februari 2013 lalu. “Ini bisa terlihat dari hasil print out yang dicetak dari hasil uji fungsi alat. “Hasi print out tersebut tidak bisa dibuat-buat,” pungkasnya.

Sementara itu, tim pena­sehat hukum terdakwa, yak­ni Fauzi Novaldi Cs tetap opti­mis kalau majelis hakim se­pen­dapat dengan PH ter­dakwa ini. “Kami optimis klien kami bebas. Dan kami juga optomis, hakim sepen­dapat dengan kami,” sebut Fauzi Novaldi usai per­sida­ngan.

Sebagaimana diketahui, pada hari Jumat lalu, majelis hakim sempat melakukan sidang ditempat atau sidang di RSSN Bukittinggi untuk mengetahui dan menyak­sikan sendiri alat Cathlab yang menjadi permasalahan dalam kasus ini. Dalam si­dang ditempat tersebut juga diketahui ternyata, Cathlab ini memang bisa bekerja dengan baik. Hal ini berten­tangan dengan dakwaan JPU Surya Dinata Cs sebelum­nya, yang mengatakan bahwa alat Cathlab ini tidak ber­fungsi dengan baik.

Dugaan korupsi itu ter­kait alat kesehatan (Alkes) catchlab di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Kota Bukittinggi pada 2012 ini, memiliki anggaran sebe­sar Rp16,8 miliar, tahun anggaran 2011. Dalam kasus itu negara diperkirakan te­lah mengalami kerugian keuangan itu negara telah dirugikan sekitar Rp14 mi­liar, karena pengadaan terse­but logikanya dinilai total loss. Hal itu dikarenakan barang alkes catchlab yang diadakan tersebut fisiknya ada, namun sejak barang diadakan tidak dapat difung­sikan. Dalam dakwaan jaksa disebutkan, hal yang meng­akibatkan tidak berfung­sinya alat itu karena spe­sifikasi ruangan, yang me­nyebabkan salah satu bagian dari alat cacthlab tidak dapat berfungsi karena me­nyentuh lantai.

Perbuatan ketiga terdak­wa telah menyebabkan keru­gian negara sebesar Rp15,5 miliar. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam dengan pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1) huruf a dan b ayat (2) dan ayat (3) UU RI nomor 31 tahun 1999 ten­tang tindak pidana korupsi yang telah diubah dan ditam­bah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang peru­bahan atas UU RI nomor 31 tahun 1999 jo psal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (h/hel)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]