Menyiapkan Jalur Mudik


Rabu, 01 Juli 2015 - 18:41:12 WIB
Menyiapkan Jalur Mudik

Mereka senang dan bangga sudah punya  sepeda motor atau mobil sendiri. Karena ribuan kendaraan bermotor ikut dibawa pulang kampung, akibatnya jalanan jadi penuh oleh kendaraan bermotor. Kemacetan pun tak bisa dihindari. Kondisi makin parah saat lebaran, terutama H-1 hingga H+5. Ruas jalan yang rusak dan berkuliatas rendah melengkapi kondisi parah tersebut. Akibatnya kemacetan makin menjadi-jadi.

Baca Juga : Motor Nekat Masuk Tol, Siap-siap Kena Sanksi Rp500 Ribu

Kemacetan dan kesemrawutan lalulintas pada jalan-jalan utama Sumbar saat Hari Raya Idul Fitri (H-2 hingga H+7) sejak 10 tahun belakangan menjadi sesuatu yang sangat mengganggu bagi masyarakat. Kemacetan itu terutama terjadi pada ruas jalan Padang-Padang Panjang-Bukittinggi dan Payakumbuh. Berikutnya ruas jalan Padang-Solok. Kemacetan terparah terjadi di Kota Bukittinggi.

Keindahan Hari Raya Idul Fitri tercederai oleh kesemrawutan dan kemacetan lalulintas tersebut. Orang yang ingin bersilaturahmi dengan sanak famili, teman dan relasi bisnis atau juga ingin berwisata di kampung halaman sambil pulang kampung berhari raya, per­jalanannya jadi tersendat-sendat.

Baca Juga : Waspada! Varian Baru Mutasi Ganda B1617 dari India Telah Menyebar ke 5 Negara

Bahkan saking parahnya kemacetan dan kesem­rawutan lalulintas saat Hari Raya Idul Fitri, jalur Padang-Bukittinggi  yang biasa ditempuh dengan waktu 2,5 s/d 3 jam, bisa menghabiskan waktu hingga 8-10 jam atau bahkan lebih. Payakumbuh-Bukittinggi  yang jaraknya hanya 30 km dan biasanya ditempuh dengan waktu 30-45 menit, bisa menyedot waktu 3-6 jam.

Meskipun rencana silaturahmi Idul Fitri terganggu, bahkan bisa  batal, namun mau tak mau orang yang terjebak macet terpaksa bersabar. Jika ingin terbebas dari macet, terpaksa berangkat mulai subuh, karena biasanya jalanan masih lengang. Atau kalau tetap ingin melawati jalan raya siang hari, terpaksa orang yang biasa berpergian dengan mobil, mengganti tunggangannya dengan sepeda motor. Dengan begitu dijamin perjalanan lebih cepat dan relatif lebih mudah menghindar dari kemacetan.

Baca Juga : Polsek Pacet Rangkul Pedagang Keliling jadi Duta Masker

Kemacetan dan kesemrawutan yang sangat parah itu sangat merugikan masyarakat. Di satu sisi, masyarakat rugi waktu dan di sisi lain rugi biaya. Tentu akan lebih banyak bahan bakar yang tersedot saat macet. Biayanya jelas akan membengkak. Kemacetan juga menimbulkan biaya tinggi pada barang kebutuhan pokok dan lainnya yang pada hari raya tersebut masih menggunakan sarana transportasi.

Pemprov Sumbar bersama dengan pemerintah daerah yang daerahnya rutin dilanda kemacetan saat Hari Raya Idul Fitri berupaya agar setiap tahun penguraian kemacetan terus meningkat. Contohnya dengan per­baikan jalur Sicincin-Malalak-Agam dan perbaikan jalan Sitinjau Lauik untuk memperlancar arus transportasi Padang-Solok. Tahun ini kemacetan di Kota Bukitinggi terutama di kawasan Terminal/Pasar Aur kuning sedikit terbantu pengurainnya, menyusul telah difungsikannya fly over.

Baca Juga : Rusia Siap Pasok 20 Juta Dosis Vaksin Sputnik Buat Vaksinasi Mandiri

Karena kemecatan yang paling parah terjadi di Kota Bukitinggi dan jalur Padang Panjang – Bukittinggi, maka sudah seharusnya pemerintah mencarikan solusi atas persoalan tersebut. Keberadaan dan keaktifan petugas kepolisian dan dinas perhubungan pada jalur ini memang sangat membantu. Namun akan lebih efektif lagi jika jalan kampung mulai dari Pasar Koto Baru (Tanah Datar) melewati Sungai Puar-Kubang Putih-Pasar Lasi dan keluar di Simpang Candung, Baso, diaktifkan secara resmi dan kendaraan pribadi atau umum beroda empat.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]