Cek dan Ricek Alutsista TNI


Rabu, 01 Juli 2015 - 18:43:31 WIB
Cek dan Ricek Alutsista TNI

Kecelakaan tersebut bu­kan kali pertama bagi pe­sawat Hercules. Sejarah men­catat, sejak awal tahun 2000-an, sudah terjadi empat kali kecelakaan. Kasus pertama terjadi pada 20 Desember 2001 di Lhokseumawe,  Aceh Utara. Her­cu­les L-100 milik TNI AU ber­no­mor­ re­gis­tra­si A-1329 itu ter­bakar karena pen­daratan overshoot atau tak sem­pur­na. Kasus kedua pa­da tanggal 11 Mei 2009, di Jayawijaya, Papua. Pesa­wat Hercules C-130 milik TNI AU ter­gelincir dan me­nga­lami ke­celakaan Lan­taran satu ban pesawat lepas di landasan pacu Bandar Udara Wa­mena. Kemu­dian kasus ketiga pada 20 Mei 2009, Magetan, Jawa Timur. Pe­sawat Hercules L-100-30 bernomor registrasi A-1325 menabrak per­muki­man dan ladang sebelum akhirnya terbakar. Dan kasus­ keempat pada 30 Juni 2015, Medan, Sumatera Utara Pesawat Hercules C-130 yang me­ngangkut logis­tik jatuh me­nimpa ruko-ruko di Jalan Jamin Ginting, Medan.

Baca Juga : PKB: Permintaan Maaf Nadiem ke PBNU Hanya Suaka Politik agar tak Dicopot Presiden

Perhatian Serius

Peristiwa kecelakaan pe­sa­wat itu semestinya men­jadi cambuk bagi peme­rintah untuk memperhatikan per­soalan alutsista. Apakah masih layak pakai atau tidak, apakah usianya masih me­ngi­zinkan untuk mengudara atau tidak, dan masalah lain­nya. Karena, walaupun Pesa­wat Hercules C-130 itu di­nya­takan masih layak pakai, ternyata usianya sudah tua. Pesawat itu diketahui buatan tahun 1964. Pesawat yang terkenal tangguh dalam sega­la medan ini, ternyata juga bias kalah bila dihadapkan pada persoalan usia.

Baca Juga : Bantah Ada Klaster Covid-19 Usai Maulid, Habib Rizieq: Saya Kena dari Bandara Soetta

Perhatian kemudian da­tang dari berbagai pihak, salah satunya Komisi 1 DPR RI. Kalangan DPR ini me­minta agar pemerintah lebih memperhatikan kondisi pe­sa­wat, apalagi jika pesawat itu statusnya adalah hibah. Karena, pengalaman kita telah mengajarkan agar kita lebih selektif dalam mene­rima hibah, jangan sampai kasus Pesawat F-16 yang merupakan hibah USA teru­lang kembali. Pemerintah harus mengutamakan kua­litas daripada kuan­­titas. Kita ti­dak perlu terpaku atau berharap ba­nyak pada pesa­wat hibah, akan per­cuma apabila ba­nyak pesawat hi­bah tapi berisiko kece­lakaan. Lebih baik membeli baru, walaupun sedikit tapi kua­litas terjamin, ke­timbang hibah yang banyak, tapi kualitas diper­tanyakan.

Oleh karena itu, sudah be­nar apa yang di­perin­tah­kan oleh Presiden Jokowi pasca ja­tuhnya pesawat Her­cules C-130, yaitu untuk menge­valuasi alutsista, teru­tama perihal usianya. Alat-alat yang sudah tidak layak pa­kai, sepatutnya dimu­seum­kan dan jika ada yang masih layak pakai, mesti di­per­hatikan mesin dan hal teknis lainnya.

Baca Juga : Pemerintah Upayakan Pencarian 53 Awak Kapal Selam Nanggala 402

Menunjang Kinerja TNI

Miris memang, me­ngi­ngat TNI yang notabene merupakan Kesatuan yang disegani di dunia karena segudang kemampuan dan pengalaman, ternyata bebe­rapa Alutsistanya yang be­roperasi masih pabrikan lama, alias sudah tua. Hal ini tentu akan mengurangi ke­kuatan tempur TNI, dan bahkan keselamatan per­sonel juga menjadi taruhan.

Baca Juga : Mau Mudik Pakai Kendaraan Pribadi? Simak Dulu Syaratnya

Peristiwa Hercules C-130 menjadi “duri dalam daging” bagi TNI. Skill me­reka tidak diimbangi dengan Alutsista yang dimiliki. Ba­nyak kesatuan Tentara dunia yang belajar skill kepada pasukan-pasukan khusus TNI, apakah itu dari AD, AL ataupun AU. Terlebih baru saja perwakilan TNI juara umum pada Australian Ar­my Skill at Arms Meeting (AASAM) atau lomba me­nembak antar Tentara yang digelar di Puckapunyal, Aus­tralia, pada 20-23 Mei 2015 yang lalu. Perwakilan TNI menang mutlak pada kom­petisi itu, dengan me­nga­lahkan tuan rumah Autralia dan bahkan USA.

Sebagai Negara Ke­pu­lauan terbesar di dunia, adalah tugas berat bagi TNI untuk menjaga kedaulatan NKRI. Oleh karena itu, diperlukan alutsista yang modern dan canggih untuk menopang tugas berat TNI itu. Salah satu alutsista yang penting adalah Pesawat Tem­­­pur. Ini digunakan un­tuk menjaga kedaulatan wi­la­­yah udara NKRI. Jalan terbaik menurut saya ada dua, memproduksi sendiri dengan mengoptimalkan PT.Pindad dan pabrikan lain, atau mengucurkan dana lebih agar TNI bisa membeli alutsista yang baru. Dan, jangan sampai Putera-puteri terbaik bangsa kembali men­­­­­jadi korban akibat peris­tiwa serupa. ***

 

IKHSAN YOSARIE
(Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Litbang HMJ-IP FISIP Unand
Pengurus UKM PHP Unand Unand)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]