Kebutuhan Makin Mahal, Harga Karet Malah Menukik


Kamis, 02 Juli 2015 - 19:04:52 WIB
Kebutuhan Makin Mahal, Harga Karet Malah Menukik

Hanya saja, para petani tidak mengetahui penyebab anjloknya harga karet ter­sebut dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal tersebut. Mereka hanya bisa me­nung­gu keajaiban datang dari pemerintah dapat mengatrol harga karet agar hidup me­reka bisa bertahan dalam memenuhi kehidupan me­reka sehari-hari.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Amin (43), salah satu petani karet di Kenagarian Padang Laweh Kecamatan Koto VII  kepada wartawan beberapa waktu lalu mengatakan harga karet yang dianggap masih terlalu murah tersebut membuat para petani karet merasa tercekik. Apalagi dengan harga sembako yang sudah mulai melonjak pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti halnya harga beras yang mencapai Rp10 ribu per kg, ditambah naiknya harga Sembako yang tetap, disaat BBM sudah diturunkan kembali oleh pemerintah. Belum lagi harga beras, ikan, dan kebutuhan lainnya terus melambung yang semua itu terus memberatkan petani setempat.

“Rendahnya harga karet ini sangat berdampak bagi petani. Bahkan petani karet sudah mulai berfikir untuk beralih profesi menjadi buruh lain seperti kuli bangunan bahkan alih profesi menjadi penambang emas untuk mencukupi kebutuhan keluarga meskipun menghadapai resiko besar, apalagi sebentar lagi meng­hadapi hari raya idul fitri” aku Amin.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Amin yang mempunyai dua orang anak yang masih berse­kolah tersebut menambahkan bahwa harga getah saat ini masih terlalu rendah yang bervariasi di setiap nagari ataupun kecamatan, karena mungkin bedanya toke yang membeli karet dari petani. Menurutnya kondisi harga getah sangat tidak berpihak kepada petani. Bahkan ia mengaku karet hasil sadapnya, hanya dibeli dengan harga kisaran Rp4.500-Rp5.500 per kg.

“Sudah tidak sepadan lagi jerih payah kami menyadap karet dengan hasil yang diperoleh dan kebutuhan hidup. Bahkan petani karet sudah hampir putus asa dan enggan merawat kebun meskipun sangat disadari resikonya nanti karena otomatis penghasilannya semakin berkurang, bayangkan saja harga satu kilogram gula pasir Rp.15 ribu per/ kilogram, bila harga karet hanya Rp 5 ribu per kilogram berarti untuk mem­peroleh satu kilogram gula pasir harus menghasilkan tiga kilo­gram karet,” kata amin dengan nada mengeluh.

Ditambahkannya, hal ini le­bih diperparah lagi jika cuaca musim penghujan, dengan keter­batasan luas kebun yang dimiliki petani tidak mencukupi kebu­tuhan ekonomi Keluarga. Hal ini juga dampak pada alih fungsi lahan masarakat kebun karet diganti dengan menanam Sawit.

“Rendahnya harga karet ter­se­but melemahkan semangat kalangan petani setempat untuk mengembangkan lahan kebun karet lebih luas lagi,  dan dikha­watirkan turunnya harga karet tersebut lantaran permainan spekulan atau para pedagang pengumpul yang bersekongkol dengan para pengusaha pabrikan. Sebab, kabar yang saya peroleh harga karet tersebut ternyata cukup baik di daerah lain,” ujarnya.

Sementara itu, Awal (54), petani karet lainnya di Keca­matan Koto VII mengatakan bahwa petani karet di Kabupaten Sijunjung, mulai meninggalkan usaha menyadap karet. Hal itu dikarenakan harga karet yang tidak kunjung membaik. Apabila masyarakat terus menggeluti usaha itu, ­dikhawatirkan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terlebih, harga berbagai kebutuhan pokok saat ini terus melonjak.

“Harga karet saat ini sangat murah. Banyak petani karet seperti kami yang beralih usaha dari menyadap karet,” kata Awal

Awal mengungkapkan, selama kurang lebih tiga tahun terakhir, harga komoditas karet mengalami penurunan yang cukup signifikan. Saat ini harga pembelian karet dari para petani hanya 4 – 5 ratus ribu.

“Harga itu dinilai tidak seim­bang dengan harga berbagai kebu­tuhan pokok. Sehingga para petani harus berpikir ekstra ­mencari alternatif usaha lain, guna menu­tupi kebutuhan hidup,” ujarnya terlihat sangat mengeluhkan

Lebih lanjut Awal menyebut­kan sebelumnya petani rata-rata mampu mengumpulkan 500 kg per/minggu, sekarang hanya mam­pu sekitar 300 kg/minggu. Lan­taran para petani karet sekarang kurang semangat dan menorah karet dengan se adanya serta berpikir untuk mencari hasil sampingan dari yang lain.

“Lantaran berkaca Pada 2012 lalu, harga karet mencapai Rp13 ribu hingga Rp14 ribu. Dengan harga seperti itu para petani bisa bertahan hanya mengandalkan usaha menyadap karet. Tetapi saat ini harga karet sangat murah sehingga tidak mampu menutupi kebutuhan hidup, Apalagi mem­biayai anak saya yang saat ini masih kuliah di salah satu univer­sitas di kota padang yang mem­butuhkan biaya pendidikan yang lumayan besar yaitu antara 600 ribu hingga 800 ribu/bulan, belum lagi uang semesternya” jelasnya.

Ia menambahkan, banyak peta­ni karet yang beralih ke usaha lain. Seperti menambang emas, bekerja di perusahan maupun usaha lain yang mampu menopang pere­konomian keluarga.”Walaupun harus memulai dari awal karena tidak sesuai dengan keahlian yang ada. Namun yang jelas, kami berharap agar harga karet cepat membaik,” pungkas Awal. (*)

 

Laporan: OGY


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]