Cagar Budaya yang Sarat Nilai Spiritual


Jumat, 03 Juli 2015 - 16:49:09 WIB
Cagar Budaya yang Sarat Nilai Spiritual

Masjid Asasi Sigando dibangun di atas tanah wa­kaf dari Datuak Kayo dan di bangun secara gotong royong oleh masyarakat dari empat koto, yakni Koto Gunuang, Koto Jaho, Koto Paninjauan dan Koto Tambangan.

Baca Juga : Pantai Salido Pesisir Selatan jadi Favorit Anak Muda

Tahun pembuatan dari Masjid Asasi Sigando ini belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan masjid ini sudah berusia 400 tahun lebih. Mesjid ini selesai dibangun pada ta­hun 1770 M. Berarti usia­nya sudah hampir men­capai 4 abad silam. Mesjid ini dibangun oleh salah seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Air Bangis Pasaman.

Arsitektur mesjid yang berukuran 300 meter per­segi ini cukup unik. Atap­nya tidak seperti mesjid yang memakai kubah, me­lain­kan atap seng bertingkat tiga. Bangunan yang di­bang­un dengan struktur dari kayu ini dilengkapi dengan tiang besar di tengah-te­ngah­nya yang juga terbuat dari kayu yang kuat. Se­mentara mimbar khatib terbuat dari kayu juga.

Baca Juga : Tempat Wisata Ditutup, Warga Padati Taman Kota Siak

Di bagian eksterior luar, mesjid ini penuh dengan ukiran-ukiran indah khas Minangkabau. Lantai mes­jid ini dibuat dari papan berpanggung, sama seperti rumah adat Minangkabau lainnya. Masuk ke dalam mesjid, suasana teduh dan nyaman membuat pe­ngun­jung yang ingin beribadah kian merasa lebih dekat dengan Sang Khalik.

Bahan-bahan kayu yang digunakkan untuk pem­bangunan masjid ini, di­am­bil dari Hutan Aie Putih. Bahkan, ditengah masjid, ada sebuah tonggak tuo yang berukuran besar. Sa­ngat sulit dibayangkan ba­gai­mana para masyarakat membawa kayu tersebut dari hutan.

Konstruksi Masjid Asasi Sigando, benar-benar me­miliki ciri khas Minang. Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 300 meter persegi ini, juga memiliki ukiran-ukiran yang me­mi­liki ciri khas 3 suku yakni, Minang, China dan Hindu.

Walaupun sudah di­la­kukan pemugaran, bentuk asli masjid ini tidak sama sekali dirubah agar tetap terlihat originalitasnya. Hanya saja atap yang dulu terbuat dari ijuk, kemudian pada tahun 1912, diganti dengan seng.

Perubahan lainnya ada­lah dengan dipasangnya pagar di sekitar masjid. Karena dipertahankannya originalitas bentuk Masjid, ukiran yang rusak pun ak­hir­nya di benahi dan tetap memasang ukiran baru yang bentuknya sama dengan ukiran yang lama. Pada zaman dulu, masjid ini lebih dikenal dengan surau gadang yang memiliki arti surau yang besar. Kemu­dian, barulah setelah tahun 1930 masjid ini lebih di­kenal dengan Masjid Asasi.

Selain memiliki 1 buah tonggak tuo yang paling besar, masjid ini memiliki 6 buah tiang penyangga. Di ruangan belakang masjid ini, ternyata masih juga tersimpan benda-benda ku­no seperti brangkas milik Belanda serta tafsir-tafsir Al-Qur’an yang masih ber­bahasa arab melayu.

Bentuk dari bangunan masjid ini memiliki tiga buah tingkatan atap. Bentuk atap ini melambangan tigo tungku sajajarangan, di ba­gian bawah masjid juga men­yerupai rumah pang­gung karena anda akan me­nai­ki tangga terlebih dahulu.

Sedangkan pada bagian depan masjid yakni di ha­lamannya, anda akan me­li­hat bedug yang memiliki gonjong sehingga men­ciri­kan bangunan khas Minang. Bisa dikatakan bahwa be­dug ini mirip seperti rang­kiang, yakni tempat yang berfungsi sebagai lumbung padi.

Mata Air Alami

Yang juga menarik ada­lah sumber air dari masjid ini. Berbeda dari ke­banya­kan masjid yang harus me­ngan­dalkan sumber air dari air tanah yang disedot de­ngan pompa berkekuatan besar, Masjid Asasi di­ka­runiai mata air yang terus menerus keluar dari tempat tidak jauh dari masjid ter­sebut. Air yang keluar dari mata air ini kemudian di­buat­kan kolam, yang di­sebut sebagai “Sendang”.

Pernah mata air ini di­tawar oleh perusahaan air minum swasta untuk di­la­kukan eksplorasi secara komersial, tetapi ditolak pen­duduk karena meru­pakan sumber air tidak hanya bagi keperluan iba­dah di masjid, tetapi juga berbagai keperluan dari masyarakat sekitar.

Ya, dari kolam pe­nam­pungan tersebut, dibuatlah pipa-pipa panjang yang di­alir­kan ke rumah-rumah pen­duduk sekitar. Ke­be­tulan juga, letak sendang ini di daerah yang cukup tinggi, sehingga me­mudahkan ma­sya­rakat untuk me­man­faatkan sumber mata air tersebut. (*/ryan syair)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]