Ribuan Hektare Sawah di Sumbar Kekeringan


Jumat, 03 Juli 2015 - 16:57:50 WIB
Ribuan Hektare Sawah di Sumbar Kekeringan

Anwar (37), petani di Aie Pacah juga menuturkan hal senada. Saat ini katanya, apapun yang akan ditanami tidak akan dapat tumbuh, lantaran tanah kering. “Jika bendungan yang ada di daerah Goa Sungai Lareh bisa berbagi pasokan air sama banyak antara Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan irigasi per­tanian, dipastikan akan dapat mem­bantu pasokan air sawah.

Baca Juga : Etika Politik Koalisi PKS dan PAN dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

Kepala Dinas Disper­nakbunhut Kota Padang Heryanto Rustam mengatakan, untuk mengantisipasi ancaman gagal panen itu, pihaknya telah menyalurkan 60 pompa air ke beberapa titik lokasi pertanian di Kota Padang. Pompa air dapat memanfaatkan lekuk-lekuk air sebagai tandon pengairan lahan pertanian. “Pompa air ini diharap­kan bisa dimanfaatkan petani secara maksimal,” tutur Heryanto Rustam.

Dari Pesisir Selatan, ribuan hektare sawah milik masyarakat di daerah itu juga terancam kekeringan. Dari kondisi itu, dikhawatirkan ekonomi masyarakat akan semakin memburuk, akibat hasil produksi padi sebagai tulang pungung kehi­dupan masyarakat anjlok.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Untuk daerah yang dilanda kekeringan terparah di Pessel, masing-masingnya terdapat di Kena­grian Setara Nanggalo Tarusan, Batu Hampa Tarusan, sebagian lagi ter­dapat di Kecamatan Batang Kapas, Sutera, Lengayang, Ranah Pesisir, Kecamatan Linggo Saribaganti, Pancung Soal, Basa Ampek Balai Tapan, Lunang dan lainnya.

Asrizal (47) salah seorang petani warga Batu Hampa Kecamatan Koto XI Tarusan Pessel mengakui, saat ini yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam mengarap lahan pertanian, salah satunya sulitnya mendapatkan air sawah. Apalagi dipicu dengan tidak berfungsinya irigasi secama maksimal, akibat debit air sungai yang menyusut.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Kepala Dinas Pertanian Tana­man Pangan dan Hortikultura  dan Perkebunan Pessel, Afrizon Nazar berharap, agar para petani tetap bisa memafaatkan lahan yang ada dengan berbagai tanaman yang meng­hasilkan seperti cabai, tomat, ba­wang merah dan lainnya. Harga hasil pertanian tersebut diprediksi akan naik jelang Idul Adha 1436 H mendatang.

Rawan Puso

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Sementara di Tanah Datar, mu­sim kemarau tahun ini juga meng­akibatkan ratusan hektare areal persawaan di daerah itu terancam gagal panen. Jika dalam tiga minggu hingga satu bulan ke depan hujan tidak juga turun, kerugian petani padi diperkirakan mencapai miliar rupiah.

Tahun lalu, kerugian petani padi di Tanah Datar akibat puso atau gagal panen diperkirakan mencapai angka Rp4,8 miliar pada areal sawah seluas 800 hektare. Kerugian tersebut ditaksir dari luas areal dikali biaya produksi Rp6 juta tiap hektare sawah. Saat ini jika saja hujan tidak cepat turun, kerugian serupa tahun lalu juga bisa terjadi, rata-rata usia padi petani saat ini termasuk pada usia rawan puso.

“Saat ini tanaman padi di Tanah Datar umumnya berusia antara satu hingga dua bulan. Usia ini sangat rentan jika minus air. Saat ini kerugian pada petani belum terjadi, namun jika dalam tiga minggu ke depan hujan tidak juga turun, keja­dian seperti tahun lalu mungkin saja terjadi,” sebut Kepala Dinas Perta­nian, Kehutanan dan Perkebunan Tanah Datar, Ir H Edi Arman.

Dikatakan, dalam antisipasi kerugian yang lebih besar pada petani, Dinas Pertanian telah mela­kukan imbauan kepada petani padi untuk mengatur pola tanam. Dan hingga bulan September ke depan, diharapkan petani tidak menanam padi. Karena menurut prediksi BMKG, puncak kemarau akan ber­lang­sung hingga September men­datang.

“Selain pada tanaman padi, kemarau panjang saat ini juga akan berdampak terhadap produksi tana­man palawija lainnya. Produksinya tentu akan turun dibanding panen-panen sebelumnya,” sebut Edi.

Sedangkan si Kabupaten Solok, sejumlah lahan pertanian juga sudah mulai mengering. Salah satunya di nagari Supayang Kec. Payung Se­kaki. Di daerah ini, sekitar 200 hektare lahan pertanian masyarakat teracam puso.

“Kondisi ini diperparah oleh jaringan irigasi Banda La­weh Kanan yang mengaliri lahan pertanian masyarakat di daerah itu, tak kun­jung memadai. Kami khawatir lahan yang baru siap ditanami akan mati, karena tak ada pasokan air,” kata Wali Nagari Supayang Darmansyah Rajo Batuah.

Kepala Dinas Pertanian Kabu­paten Solok Ir. Iriani MM, melalui sekretaris Dinas pertanian Miharta Maria mengaku, hingga saat ini belum ada laporan dari masyarakat. Kendati demikian pihaknya telah menurunkan tim melalui UPTD di tiap Kecamatan, untuk memantau kondisi pertanian masyarakat.

“Saat ini pasokan air masih cukup untuk daerah yang menjadi sentra pertanian masyarakat. Na­mun ada beberapa daerah yang selalu mengalami krisis di saat musim kemarau, seperti Kec. X Koto Diatas, X Sungai Lasi dan Payung Sekaki, “ kata Miharta Maria. (h/tim)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]