Sejak Kecil Hanya Ingin Jadi Tentara


Jumat, 03 Juli 2015 - 19:29:55 WIB
Sejak Kecil Hanya Ingin Jadi Tentara

Darman dan Manis lalu me­nyambut kedatangan ustad yang akan memimpin tahlilan, menyusul pula tetangga dan tamu lain di bela­kangnya. Juga tampak istri almar­hum, Masyitah Asima, yang tengah sibuk mempersiapkan acara tahlilan. Sedangkan Sanum Ichaya Rasema, anak almarhum yang berumur lima bulan tengah tertidur dalam lelapnya. Di antara keluarga yang menunggu, hadir pula Praka M. Yusuf. Ia adalah sepupu, sahabat seperjuangan dan kawan se­penanggungan bagi Almarhum Pratu Doni.

Baca Juga : Blunder Jokowi Berulang

Kelurga almarhum sepakat mengatakan bahwa Praka Yusuf adalah orang yang paling me­ngetahui lika-liku perjalanan almarhum dalam menggapai cita-cita. Sebagai sahabat, Praka Yusuf sangat hafal detil perjua­ngan almarhum untuk mam­bangkik batang tarandam (mem­perbaiki nasib keluarga) dengan cara meraih mimpi menjadi TNI Angkatan Udara.

“Doni itu sepupu saya. Orang­tua kami bersaudara. Saya lebih tua dua tahun. Sejak kecil kami memang punya cita-cita yang sama, jadi tentara. Masa kecil yang penuh permainan sangat mempengaruhi lahirnya cita-cita itu. Ditambah lagi, saat beranjak dewasa kami sadar bahwa di sepanjang silsilah ke­luarga, belum ada yang jadi pegawai, apalagi tentara. Hal itu makin membulatkan tekad kami untuk membanggakan keluarga sekaligus mengabdi pada negara sebagai seorang prajurit,” kata Praka Yusuf.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

Jalan terjal dilalui Doni dan Yusuf remaja demi mereali­sasikan mimpi mereka. Dimulai dengan membentuk fisik dan mental, sampai keduanya merasa mantap mengikuti tes masuk sebagai tentara sejak tahun 2005. Bukan sekali dua kali kegagalan dihadapi saat mengikuti tes. Yusuf remaja baru dinyatakan lulus pada tes kali ketiga. Sedang­kan Doni baru diyatakan lulus pada percobaan keempat. Bah­kan almarhum mengikuti tes pertama saat masih sekolah di SMK 5 Lolong, Padang. Saat itu mendaftar hanya berbekal ijazah SMP.

Sejak masih di bangku SMP, lanjut Praka Yusuf, ia dan Doni sudah rutin membentuk fisik dengan berolahraga setiap kali ada kesempatan. Terus berlari selagi ada waktu untuk berlari. Kebulatan tekad membuat me­reka merasakan ada yang kurang jika dalam sehari tidak ada olah­raga lari.

“Dulu, setelah pulang sekolah kami selalu lari dari Pasia Jam­bak sampai Muaro Panjalinan. Bahkan pernah satu kali, saat perjalanan pulang dari tes per­tama yang kami ikuti, kami kehabisan ongkos untuk naik angkot dari Mutiara Putih menu­ju rumah. Kami santai saja. Kan bisa lari, dan memang kami lari saja waktu itu sampai ke rumah. Kami tak peduli ada yang men­cemooh dan menganggap kami tak akan bisa menjadi tentara. Kami tetap tenang dan akhirnya membuktikan kalau kami bisa,” tambah Praka Yusuf yang meru­pakan lulusan Tan­tama 2006 dan saat ini berdinas di Satuan Radar 232 Dumai.

Marnis selaku ibu menam­bahkan, setelah lulus SMK Doni pernah mendapat tawaran kerja sebagai seorang mekanik. Tapi almarhum menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Karena yang ada di benaknya hanya menjadi tentara. Tidak ada ke­inginan untuk menjadi apapun selain menjadi tentara.

“Doni merengek-rengek ingin jadi tentara. Mak, pokok­nya Doni ingin jadi tentara,” tutur Romanis mengenang re­ngekan anak lelakinya.

Rencana Mudik Lebih Awal

Sebelum menjadi bagian dari personil Batalyon Pasukan Khas (Paskhas) 462/Pulanggeni Pe­kan­baru, Pratu Sepridoni me­ngawali karirnya di Papua dan Megelang, selain itu ia juga mele­wati pendidikan lanjutan di Ba­ndung. Sedangkan Praka M. Yusuf yang berdinas di Satuan Radar telah berpindah-pindah tempat dinas pula. Hal itu menyebabkan dua sekawan itu tak pernah ber­temu di kampung halaman saat lebaran.

“Saya dinas di Dumai, dan Doni baru dinas tiga bulan di Pekanbaru. Kami sudah sepakat lebaran ini mudik bersama. Ka­rena selama berkarir sebagai ten­tara, kami tidak pernah bertemu saat lebaran di kampung halaman karena kebijakan dalam tugas yang berbeda-beda,” jelas Praka Yusuf.

Marnis juga mengatakan bah­wa anaknya sudah menyampaikan padanya tentang rencana mudik pada lebaran tahun ini. “Apa kabar, Mak. Sehat kan, Mak. Sebelum lebaran ini Doni pulang, Mak,” kata Romarnis menirukan ucapan anaknya beberapa waktu lalu lewat sambungan telfon dengan dirinya.

Tapi Tuhan berkata lain. Ke­inginan Praka Yusuf untuk pulang bersama sepupunya tak kesam­paian. Pratu Doni mudik lebih dulu dari waktu yang diren­cana­kan. Ia mudik selama-lamanya, setelah gugur dalam perjalanan tugas sebagai tentara kebanggaan bangsa.

Semuanya memang takdir yang kuasa. Benar kiranya bunyi pe­patah lama bahwa manusia pergi meninggalkan nama. Be­gitulah kita menyikapi kepergian Pratu Sepridoni. Kepergiannya menyi­sakan banyak penghargaan dan pelajaran yang patut menjadi penerang bagi orang-orang yang hendak mengejar cita-cita dan keinginan mulia. Kebulatan te­kad almarhum untuk membang­gakan keluarga dan mengabdikan pada negara sebagaimana diceri­takan Praka Yusuf, adalah pela­jaran hidup tiada duanya. Selamat Jalan Pratu Sepridoni, Semoga ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.‘***

 

Oleh : JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]