Tugas Berat Polisi


Ahad, 05 Juli 2015 - 19:34:13 WIB
Tugas Berat Polisi

Setelah itu, korban yang lahir 23 Agustus 1987 dibawa ke kampung halamannya di Titian Tareh, Jorong Data Tampunik Aripan, Kota Solok, dengan iring-iringan oleh Ketua Bhayangkari Cabang Padang, Ny. Linda Wisnu Andayana beserta pengurus dan para pejabat Polresta Padang.  Sesampai di rumah duka, jasad almarhum diserahkan kepada pihak keluarga dan dilanjutkan dengan pemakaman secara kemiliteran. Pangkatnya dinaik­kan setingkat menjadi Bripka (Anumerta) berdasarkan Skep Kapolda Sumbar tanggal 4 Juli 2015.

Polresta Padang benar-benar merasa kehi­langan sosok anggota ulet, rajin dan mau bekerja keras dalam bertugas. Hal itu disampaikan oleh Kapolresta Padang Kombes Wisnu Andayana. Brigadir Nozi ditikam tiga kali saat menangkap seorang tersangka Iksan Kamil (40), DPO kasus pencurian dengan kekerasan dan perampokan lintas Sumatera, Jumat (26/6) pukul 17.00 WIB di Parak Laweh, Kecamatan Lubeg, Padang.

Baca Juga : Akumindo Catat Ada 5 Juta 'Pemain Baru' di Marketplace Online Saat Pandemi

Kejadian yang menimpa Brigadir Nozi dalam menjalankan tugas meninggalkan pesan bahwa tugas dan tanggung jawab kepolisian dalam penegakkan hukum dan menciptakan keamanan, kenyamanan dan ketertiban di masyarakat cukuplah berat. Dalam bertugas, seorang polisi bisa saja bersabung nyawa saat harus berhadap-hadapan dengan pelaku kriminal. Apalagi terkadang di luar  dugaan, pelaku menyimpan senjata tajam (sajam), bahkan senjata api (senpi).

Begitu anggota polisi melakukan penggerebekan dan menangkap pelaku dengan tangan kosong atau persuasif tiba-tiba pelaku kiriminal melakukan perlawanan dengan menyerang petugas menggunakan sajam atau pun senpi. Jika anggota lain kalah sigap mengambil tindakan, anggota polisi yang tengah berhadap-hadapan dengan pelaku bisa jadi korban. Bisa dibacok atau pun tertembak. Resikonya jelas, luka ringan, luka berat bahkan tewas. Karena itu polisi mesti waspada dan hati-hati dalam menangkap pelaku kejahatan.

Di satu sisi, polisi harus ekstra hati-hati dalam melindungi dirinya saat penangkapan pelaku kejahatan. Pada sisi lain, polisi juga tak boleh gegabah dan asal main tembak tanpa terlebih dahulu memiliki keyakinan yang kuat atas ciri sasaran yang diduga sebagai pelaku kejahatan. Kondisi seperti ini terjadi pada jajaran Polres Solok Kota yang tengah bertugas mengidentifikasi dan menangkap empat tahanan yang lari dari LP Muaro Sijunjung. Nahas, ketika jajaran Polres Solok Kota membantu Polres Sijunjung mengejar empat tahanan yang kabur itu, terjadi salah tembak oleh oknum anggotanya di Jl. Lintas Sumatera Sungai Lasi, Jumat (26/6) sekitar pukul 04.00 WIB. Korban salah tembak ini adalah pasangan suami istri, M Abdul R dan Desi Susanti serta anaknya Anisa Yahya.

Pada pagi Subuh itu, Tim Satreskrim Polres Solok Kota melakukan patroli di jalan nasional Sungai Lasi. Patroli itu dilaksanakan menyusul adanya tahanan dari LP Muaro Sijunjung kabur. Beberapa orang polisi berpakaian preman melalukan razia di Sungai Lasi kalau-kalau tahanan itu lari menuju Kota Padang. Informasi yang mereka terima, sejumlah tahanan lari menggunakan mobil pribadi. Kebetulan di Subuh itu, mobil yang dikemudikan M Abdul R bersama istrinya dan anaknya meluncur dari Sijunjung. Otomatis Satreskrim yang ikut memburu tahanan yang kabur menghentikannya. Namun M Abdul R yang mengetahui mobilnya dihentikan sejumlah orang berpakaian preman, langsung tancap gas. Dia mengira  polisi berpakaian preman itu  begal motor.

Karena mobil yang dihentikan tancap gas, polisi langsung mengejar sambil melepaskan tembakan ke udara. Melihat itu, sopirpun makin mempercepat lari ken­daraannya. M Abdul hendak menyelamatkan diri ke kantor polisi terdekat. Tapi malang, di Saok Laweh lebih kurang 1 km dari Pasar Solok mobilnya berhasil dihentikan setelah istrinya Desi Susanti terkena tembakan bagian paha, sementara M Abdul robek bagian punggung dan anaknya juga mengalami luka akibat pecahan kaca. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]