Zaman Nabi Luth AS Perlahan Terulang


Ahad, 05 Juli 2015 - 19:34:58 WIB
Zaman Nabi Luth AS Perlahan Terulang

Pada tanggal 27 Juni 2015 lalu, Pemerintah Ame­rika Serikat melegalkan per­kawinan sejenis. Alhasil, kaum LBGT yang sebe­lum­nya terdiskriminasi, kini telah mendapat hak yang sama dengan orang-orang normal (Pria tertarik pada wanita dan sebaliknya). Son­tak, setelah peraturan itu disahkan, ribuan orang ka­um LBGT di beberapa Ne­gara Bagian Amerika ber­pesta, seperti di Chicago, San Fransisco dan Minneapolis, acara itu sekaligus mem­peringati “Gay Pride Day”.

Baca Juga : Puluhan WN China Masuk Indonesia, Publik: Warga Sendiri Dilarang Mudik!

Tak sedikit kemudian dukungan dan kritikan mun­cul terhadap peraturan ter­sebut, terutama via media sosial, yang kemudian men­jadi Trending Topic di dunia Maya lewat #LBGT Rights. Bagi Negara-negara yang berbudaya bebas, seperti barat, cenderung masya­ra­kat­nya mendukung hal ter­sebut. Karena apabila tidak disahkan, maka akan ada diskriminasi dan penge­kangan terhadap kebebasan. Bahkan, kalangan yang pro, berharap peraturan ini “di­du­niakan” oleh pihak Ame­rika Serikat. Namun, pada masyarakat timur, masya­rakat cenderung menolak, terutama yang beragama Islam, karena peristiwa ini sudah pernah terjadi sebe­lumnya di zaman nabi Luth AS, yang berakibat mur­kanya Allah SWT.

Reinkarnasi

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Reinkarnasi saya fikir ada­lah kata yang tepat untuk meng­gambarkan peristiwa atau kasus ini. Secara seder­ha­na, Reinkarnasi meru­pa­kan suatu kepercayaan yang menganggap seseorang yang telah mati, akan dila­hirkan kem­bali dalam ben­tuk kehi­du­pan lain. Mereka yang di­la­hirkan itu, bukan­lah wujud fi­sik sebagaimana kebe­ra­daan sebelumnya, tapi yang la­hir kembali itu adalah ji­wa­ yang telah mati tersebut dan kemudian mengambil wu­­­jud tertentu sesuai dengan ha­sil perbuatannya terda­hu­lu.

Kisah serupa telah ada jauh sebelum zaman seka­rang, yakni pada za­man­ Nabi Luth as. Ketika LBGT te­ngah marak-ma­raknya di negeri Sadum. Perihal keja­dian saat itu diceritakan Allah SWT da­lam Qur’an, diantara dalam surat Al-a’raf ayat 80-81. Se­hingga, Al-walid ibnu Abdul Malik (Khalifah Umawiyah) me­nga­takan, “Sekira jika Allah SWT tidak men­ceri­takan kepada kita mengenai berita kaum nabi Luth AS, niscaya saya tidak percaya ada lelaki yang ber­nafsu kepada lelaki lain”. Se­hing­ga, dapat kita ambil kesim­pulan, setelah han­curnya negeri Sadum yang masya­rakatnya juga bersifat LGBT, kemudian terlahir kembali jiwa atau sifat kaum Sadum itu pada zaman sekarang, dimana banyaknya orang-orang yang juga bersifat LBGT.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Namun, berbicara Aga­ma, ternyata tidak hanya Islam yang berbicara penen­tangan terhadap LBGT, di kalangan Kristenpun juga demikian. Dimana digam­barkan zaman Nabi Luth dengan zaman dimana pe­nuh nafsu dan ditafsirkan sebagai penolakan terhadap hubungan ho­mo­sek­­sual. Da­lam Al­kitab, pe­naf­si­ran ini didu­kung oleh lara­ngan ten­tang hubungan ho­moseksual yang secara eks­plisit tertulis da­lam Imamat 20:13 dan peno­lakan Paulus terhadap ke­biasaan orang Yunani / Ro­mawi. Yudas men­jelas­kan penghancuran Sadum dan Gomora sebagai hu­kuman untuk perilaku seks yang tidak wajar.

Agama dan HAM

Baca Juga : Menpan-KPK Beda Pendapat soal Pegawai KPK, Febri: Ibarat Lomba Lempar Batu Sembunyi Tangan

Acapkali tameng yang digunakan oleh mereka yang LBGT adalah HAM. Dima­na, setiap orang atau manu­sia itu memiliki hak yang bersifat asasi, yang Negara tidak berhak ikut campur atau bahkan mengintimi­dasi­nya. Sehingga, hal-hal yang bersifat asasi itu tidak bias diatur pemerintah ka­rena itu bersifat inheren (bukan domain peme­rin­tah). Namun, kemudian mun­­­­cul kritikan, apakah itu suatu HAM yang kebablasan atau memang itulah HAM yang kita kenal selama ini.

Namun, jika kita meng­gunakan perspektif agama, terutama Islam, tentu sifat LBGT itu tidak dapat dibe­narkan. Hal ini tentu ber­tentangan dengan fitrah ma­nusia serta kodrat alam, yaitu Allah SWT telah men­cip­takan manusia secara ber­pasangan antara pria dan wanita, untuk menjaga ke­lang­sungan perkembangan umat manusia sebagai mak­luk ciptaan-Nya yang ter­mulia di atas bumi. Terlebih, kasus ini sudah pernah ter­jadi dan dijelaskan dalam Al-Qur-an. Sehingga, tidak ada alasan menurut saya bagi umat islam jika seandainya ada yang membenarkan LB­GT, karena akan membuat Allah Swt murka seperti zaman nabi Luth as.

Diceritakan dalam kisah nabi Luth as, Allah Swt mem­butakan mata kaum Sadum karena berusaha meng­goda Malaikat yang diutus Allah Swt ke Ne­geri Sadum. Ma­laikat ter­sebut tengah me­nyamar layaknya lelaki yang tam­pan. Kemu­dian masya­rakat itu saling bertabrakan ka­rena buta. Kemudian, Nabi Luth as dan keluarganya di­beri pe­san oleh malaikat untuk pergi me­ning­galkan Sadum ka­re­na­ azab Allah akan segera tiba.

Kemudian, azab itupun datang. Sewaktu fajar me­nyingsing, Nabi Luth as dan dua putrinya telah melewati batas kota sadum, bege­getarlah dengan dahsyat bu­mi di bawah kaki masya­rakat Sadum, begitu juga dengan istri Nabi Luth as yang muna­fik. Getaran itu lebih hebat dan kuat dari pada gempa bumi dan juga diiringi de­ngan angin ken­cang serta hujan batu yang meng­han­curkan kota Sa­dum dan para warganya yang sesat itu.

Nah, itulah kisah yang diceritakan dalam Islam, bahkan juga termakhtub dalam Al-Quran, salah sa­tu­nya dalam surat Al-a’raf 80-81. Sehingga, saya fikir HAM­ itu tidak bisa disan­ding­kan atau dijadikan ta­meng apabila bertentangan dengan Agama. Ibarat kons­titusi kita, Undang-undang tidak bisa melabrak atau bertentangan dengan Un­dang-undang Dasar 1945. Mengutip kata Eistein, “Tu­­­­­han tidak bermain da­du” dalam mengatur dan me­ne­tapkan peraturan-Nya.­­ ***

 

IKHSAN YOSARIE
(Pengamat Politik dan Kebijakan Publik di Litbang HMJ-IP FISIP
dan Departemen Hukpol UKM PHP Universitas Andalas, Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]