Polisi Tak Izinkan Penobatan Gala Rajo Alam


Ahad, 05 Juli 2015 - 19:40:55 WIB
Polisi Tak Izinkan Penobatan Gala Rajo Alam

Penobatan gelar raja ter­sebut kepada Muchdan Ta­her Bakrie rencananya akan digelar, Minggu (5/7) di Nagari tuo, Pariangan. Pa­dahal, sebelumnya, nama SM.Taufik Thaib-lah yang menyandang gelar tersebut, Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau. Nama ini, sudah begitu akrab di semua kalangan di Sumbar maupun hingga nasional. Bahkan, ia beberapa kali sudah menobatkan gelar kehormatan kepada banyak tokoh nasional.

Baca Juga : Etika Politik Koalisi PKS dan PAN dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

Rencana penobatan Much­dan Taher Bakrie seba­gai Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau oleh Tampuak Tangkai oleh Datuk Bandaro Kayo di Pariangan, pada Minggu (5/7), tertunda. Sementara, Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau Sultan Taufiq Thaib, menyatakan penobatan Muchdan Taher Bakrie tidak sah tanpa lim­bago tinggi pucuk adat alam Minangkabau.

Namun, Muchdan punya klaim lain terkait tertun­danya penobatan tersebut. Kepada Haluan, ia menga­takan pelaksanaan peno­batan gelar itu tak mendapat izin dari pihak keamanan, Polres Tanah Datar.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

“Agenda adat penobatan yang direncanakan hari ini (kemarin-red) di Pariangan, mendapatkan larangan oleh Polres Tanah Datar. Kami tunda, hal itu karena terjadi kesalahan teknis. Ini kami akui, agenda yang akan di­lak­sanakan yaitu penobatan sedangkan pada izin yang diajukan pada Polres beri­sikan silaturahmi,” sebut Muchdan kepada Haluan, Minggu (5/7) di Wisma Puri Juwita, Lima Kaum.

Dikatakan Muchdan, ke­ha­dirannya di Pagaruyung saat ini merupakan atas panggilan jiwa lantaran ia merupakan keturunan Raja Minangkabau Sultan Alam Bagagarsyah. “Pada tahun 2005 ada seseorang dari Gudam Nagari Pagaruyung yang meminta saya pulang ke Pagaruyung, dia me­nyebutkan saya lah yang seha­rusnya Raja Alam Daulat Yang Pertuan di Pagaruyung, Minang­kabau, beliau juga memberikan ranji saat itu,” sebutnya.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Lalu, setelah kepulangan per­ta­ma pada tahun 2005, Muchdan yang lahir dan besar di Jakarta itu sering kembali pulang ke Paga­ruyung dan daerah lain di Su­matera Barat. Hingga saat ini, ia sering pulang mengunjungi karib-kerabat, kemenakan dan keluarga yang segaris keturunan untuk menjalin silaturahmi.

Muchdan menyebutkan ke­pulangannya ke Minangkabau tersebut berjalan hingga sepuluh tahun. Sepanjang waktu itu, tiga tahun dari awal berkunjung hingga 2008 dirinya dekat dengan Daulat Yang Dipertuan, Sultan Taufiq Thaib, namun setelah itu terjadi berbagai hal yang membuat diri­nya renggang.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

“Selama ini orang tua saya tidak pernah kasih tahu bahwa saya pewaris kerajaan ini, mung­kin saja ayah saya berprinsip lantaran dalam kehidupan mo­dern di Jakarta saat itu, tidak melirik keberadaan kerajaan di Pagaruyung tersebut, lalu setelah saya ke Pagaruyung pertama kali itu, berikutnya keinginan selalu pulang ke sini, dan ini berjalan dengan sendirinya sedemikian lama untuk bertemu dengan keluarga dan kemenakan saya, hingga banyak orang memanggil saya Sultan dan hingga rencana akan dilakukan penobatan,” sebut Muchdan menyampaikan per­jalanannya di Ranah Minang.

Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Pagaruyung, Minangkabau SM. Taufik Thaib menanggapi hal tersebut, mengatakan bahwa pe­no­batan Muchdan tersebut tidak sesuai menurut aturan adat Mi­nang­kabau dan sudah seharusnya dibatalkan. “Itu karena Dt Ban­daro Kayo yang akan melakukan penobatan itu tidak berhak untuk memproses pengangkatan Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Paga­ruyung, Minangkabau, Rajo Adat Buo dan atau Rajo Ibadat Sumpur Kudus.

Kewenangan itu, kata Taufik karena kewenangan ini berada di tangan Basa Ampek Balai, Rajo Tigo Selo, Langgam nan Tujuah, Tanjuang nan Ampek, Lubuak nan Tigo, Karabat Istana Silinduang bulan, raja-raja sapiah balahan kuduang karatan kapak radai timbang pacahan dari Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Mi­nang­kabau serta Datuak-datuak nan tujuah di Pagaruyung dan Datuak-datuak istano Silinduang Bulan,” sebut Taufiq Thaib.

Dikatakannya, jika pun raja-raja sapiah balahan datang mela­kukan ritual adat bersama Much­dan akan tidak berlaku lantaran tidak diundang oleh basa ampek balai dan tidak dilakukan di Istano Silinduang Bulan dan hal tersebut akan dapat dilakukan apabila, pertama jika terdapat kekosongan Raja Alam Minang­kabau Pagaruyung, Raja Adat Buo dan Raja Ibadat Sumpur Kudus, selanjutnya basa ampek balai mengadakan musyawarah untuk meminta kepada kaum ahli waris Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau atau ahli waris raja adat dan raja ibadat.

Selanjutnya atas permintaan basa ampek balai tersebut diki­rim­kan nama-nama ahli waris yang telah dimusyawarahkan, mengundang limbago tinggi pu­cuak adat untuk musyawarah dan mengeluarkan fatwa sakato alam untuk metetapkan sebagai yang Dipertuan Raja Alam Minang­kabau beserta timbalannya dan atau raja adat Buo dan raja ibadat Sumpur Kudus, sebut Taufiq Thaib. (*)

 

Laporan:
FERI MAULANA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]