Apkarindo Sawahlunto Terobos Pabrik


Senin, 06 Juli 2015 - 19:21:06 WIB
Apkarindo Sawahlunto Terobos Pabrik

Selisih har­ganya pun ti­dak tanggung-tanggung. Jika harg­a tingkat pengepul ha­nya Rp6 ribu per kilogram, dengan penjualan langsung ke pabrik yang difasilitasi Apkarindo, harga malah mencapai Rp10.800 per kilogramnya.

Baca Juga : PT Mutiara Agam Bantu Paket Lebaran untuk Anak Panti Asuhan

“Alham­dulil­lah, de­ngan kerja sama antara Ap­ka­rindo Sawahlunto dengan salah satu perusahaan pengolah karet di Kota Padang, ter­jadi pe­ning­ka­tan kesejahteraan pe­tani karet,” ung­kap Ketua Ap­ka­rindo Sawahlunto, Hasanurais kepada Haluan.

Ditemui di kediamannya di Dusun Rumbio Desa Silungkang Duo Kecamatan Silungkang, Hasanurais meng­ungkapkan, pada prinsipnya asosiasi yang dipimpinnya tersebut, tidak membeli karet dari petani.

Baca Juga : Pemkab Pesisir Selatan Siapkan Berbagai Dokumen Demi Kelanjutan Pembangunan Pelabuhan Pansahan

Namun, Apkarindo Sa­wahlunto memfasilitasi pen­ju­alan karet dengan mem­per­temukan petani langsung dengan perusahaan pengolah karet. Karet yang dihasilkan petani, dengan kualitas yang telah ditentukan dibawa ke pabrik.

Nantinya melalui pe­nelitian dari labor pabrik, karet petani tadi akan diten­tukan layak atau tidaknya dibeli oleh pabrik. Oleh karena itu, Apkarindo Sa­wah­lunto sangat mewanti-wanti, agar petani karet benar-benar menjaga mutu.

Sebab, mutu dan kualitas karet yang dijual petani sangat menentukan keber­lang­sungan kerja sama dan kepercayaan pabrik terha­dap karet yang dihasilkan dari kebun karet Sawah­lunto.

Semakin bagus kualitas dan mutu karet petani, pab­rikpun akan semakin tinggi menghargainya. Ini berbeda dengan harga di tingkat pe­nge­pul yang menya­mara­takan harga karet petani, dengan patokan harga yang rendah pula.

Apkarindo sendiri, ha­nya mengenakan biaya total sebesar Rp1 ribu rupiah per kilogram kepada petani. Biaya tersebut meliputi ong­kos Sawahlunto – Padang Rp600 per kilogram, tim­bangan dan tetek bengeknya Rp200, Rp50 untuk kas Apkarindo, dan sisanya untuk bongkar muatan serta transportasi pengurusan pen­jualan.

Jika dihitung, menurut ayah empat anak itu, harga bersih setelah dipotong biaya, lebih tinggi Rp3 ribu untuk setiap kilogramnya dibanding harga pengepul. Sebuah angka yang terbilang besar untuk ukuran petani karet.

“Untuk penjualan pekan lalu, setelah dipotong biaya, petani karet masih bisa mengantongi harga bersih Rp9.800 per kilogram. Se­dangkan harga di tingkat pengepul hanya Rp6 ribu hingga Rp6.500 per kilog­ram,” terangnya.

Pabrik, tutur suami Erlinda itu, memberikan cacatan khusus untuk setiap karet yang masuk. Karet yang dibawa ke pabrik tidak direndam air, bongkahan karet bersih dari sampah atau murni.

Begitu juga untuk proses pencetakan karet, tidak dibe­narkan menggunakan air aki atau pupuk yang terbilang primitif. Namun, proses pencetakan menggunakan asam semut, yang juga ber­fungsi sebagai pembeku karet.

Menurut pria yang me­miliki 4 hektar kebun karet itu, penjualan langsung ke pabrik dapat memutus mata rantai pasar karet. Sehingga, petani karet dapat mengecap untung yang lebih baik.

Apkarindo Sawahlunto sendiri, berdiri semenjak Februari 2014 lalu. Dengan dukungan dan dorongan dari Dinas Pertanian dan Per­kebunan Sawahlunto, Apka­rindo mampu berkomuni­kasi dan menjalin kerja sama dengan pabrik Lembah Ka­ret Padang.

Setidaknya, dalam saban bulan Apkarindo Sawah­lunto telah mengantarkan tiga hingga empat kali pro­duk karet petani. Rata-rata 1,5 ton atau total 6 ton karet petani Sawahlunto masuk langsung ke pabrik setiap bulannya.

Lulusan Sekolah Per­tanian Menengah Atas Mua­ro Sijunjung 31 tahun silam itu melihat, potensi karet Sawahlunto terbilang besar. Data yang ada, menurutnya, terdapat 1.500 hektar lebih tanaman karet di kota ber­penduduk 65 ribu jiwa lebih itu.

Jika lahan karet tersebut berproduksi secara kese­luruhan, dengan produksi 2 ton per hektar setiap bulan, maka total produksi karet Sawahlunto setiap bulan mencapai 3 ribu ton.

Dengan harga bersih ra­ta-rata Rp9 ribu per kilog­ram tanpa melalui pengepul, maka pemasukan petani karet Sawahlunto setiap bulan mencapai Rp27 mili­ar. Untuk satu tahunnya tentu mencapai setengah dari APBD Sawahlunto sen­diri.

“Saya rasa, dengan me­manfaatkan kerja sama yang telah dijalin Apkarindo, petani Sawahlunto akan dapat mereguk nikmatnya penghasilan kebun karet yang lebih baik lagi,” terang Hasanurais.

Apkarindo yang berdiri dengan 40 petani karet, menurutnya, akan terus membuka diri merangkul petani, untuk memanfaatkan kerja sama yang telah dibuat antara Apkarindo dengan Lembah Karet.

Saat ini, lanjutnya, asosiasi terus melakukan sosialisasi kepada setiap petani karet Sawahlunto, untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas karet sadapan. Sebab, mutu dan kualitas akan mem­penga­ruhi harga ketika ditampung pabrik.

Selain itu, mantan petu­gas penyuluh lapangan yang sempat menjadi tenaga out­sour­cing di PLTU Ombilin itu, pihaknya juga meng­inginkan pemerintah turut mendukung penjaminan har­ga karet petani, ketika harga jatuh. (h/dil)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]