Mantan Ketum PSSI Dihukum Seumur Hidup


Rabu, 08 Juli 2015 - 18:58:14 WIB
Mantan Ketum PSSI Dihukum Seumur Hidup

Hukuman tersebut ber­laku sejak 8 Juli 2015, dan Djohar diberikan waktu untuk mengajukan banding selama 14 hari ke­depan. Haryo menjelaskan, alasan men­jatuhi hukuman ter­hadap Djohar tersebut ka­rena dia dinilai melanggar kode etik lantaran telah menemui Menpora Imam Nahrawi pada 23 Juni lalu. Tindakan itu disebutnya telah melanggar ýkode etik PSSI pasal 3 ayat 1, pasal 6 dan 7 kode etik serta pasal 9 Statuta PSSI.

“Djohar terbukti me­lang­gar. Kode Etik yang dimaksud atas perbua­tan­nya, di mana pada 23 Juni men­ghadiri pertemuan de­ngan Menpora sebagai Ketua Umum PSSI 2011-2015 dan mem­bahas kompetisi, pe­main, dan perangkat pertan­dingan. Itu seharusnya tidak dilakukan Djohar,”ujarnya.

Baca Juga : Comeback, Marc Marquez Juarai MotoGP Jerman

“Kesalahan Djohar juga telah ditemukan bukti be­rupa hasil rapat Djohar de­ngan beberapa pihak. Ia mengeluarkan pernyataan provokatif dan penghinaan, yang menyatakan pengurus PSSI 2015-2019 tidak qua­lified,” sambungnya.

“Bahwa  8 Mei 2015, sesuai bukti, Djohar juga mengirim surat ke Presiden FIFA, Sepp Blatter men­jelaskan tentang situasi PSSI yang disanksi Menpora lewat surat 17 April. Ia men­jelas­kan masih Ketua Umum,” kata pria yang pernah men­jabat sebagai Plt ketua BOPI itu.

Menpora sendiri kala itu memanggil Djohar karena masih menjadi ketua umum PSSI sampai 17 April, se­dangkan ia membekukan PSSI pada 18 April 2015, ketika berlangsung Kongres Luar Biasa di Surabaya yang memunculkan La Nyalla Mattalitti sebagai ketua umum baru.

Djohar Arifin Husin me­nganggap hukuman kepada dirinya yang dijatuhkan PS­SI sebagai sebuah lelucon. Dia menegaskan tidak akan melakukan banding karena organisasi yang pernah di­pimpinnya itu kini tidak diakui pemerintah.

Djohar menduga hu­kuman itu memang sudah di­rencanakan sejak awal. Sebab, dia tidak pernah sama sekali menerima un­dangan dari komite etik untuk hadir di per­si­da­ngan.” Lelucon apalagi ini? Sudah diduga semuanya hanya un­tuk memuaskan dendam ABS (Asal Bos Senang). Ini ‘kan seperti Kepala Sekolah meng­hukum yang bukan mu­ridnya. Saya bukan pe­ngurus PSSI lagi di kepe­ngurusan mereka sekarang. Dan saya diundang Ke­men­pora sebagai Ketum PS­SI 2011-2015. Masa pe­ngurus sekarang bisa meng­hukum pengurus sebe­lum­nya?” ung­­kap Djohar..

“Anehnya lagi, secara fisik saya tak pernah terima un­dangan sidang. Mana buk­­­ti tanda terimanya? Wa­lau­pun saya terima un­da­ngan, (saya) tetap tidak akan datang kare­na kepe­ngurusan ini liar di mata pemerintah. Dan saya tak perlu banding karena kepe­ngurusan ini tidak sah di negeri ini, ka­rena tidak diakui peme­rintah. Ke­mudian perlu di­pertanyakan posisi ketua Komite Etik yang bekas na­rapi­dana (Teu­ku Mu­ham­mad Nurlif Red), apa dibe­narkan statuta FI­FA. Ya sepertinya keputusan ini penuh dendam. Saya akan terus berusaha me­majukan sepakbola In­donesia,” ujarnya.

“Saya belum pernah teri­ma SK sebagai pengurus, saya tahu sebagai pengurus (dewan kehormatan PSSI) dari media. Saya diundang sebagai ketua umum PSSI 2011-2015, bukan sebagai pengurus sekarang. Dendam mendominasi hukuman ini, tidak lagi berdasarkan atu­ran dan logika. Masa ber­temu menteri di peme­rin­tahan yang sah dihukum. Hehehe, ngawur ya,” pung­kas Djohar. (h/dtc)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]