Unand Kehilangan Peneliti Terbaiknya


Rabu, 08 Juli 2015 - 19:31:49 WIB
Unand Kehilangan Peneliti Terbaiknya

Semasa hidupnya, guru besar bidang kimia Unand ini memiliki pergaulan yang luas dan beberapa kali me­me­gang jabatan strategis. Pria kelahiran Medan, 22 Juli 1958 itu, pernah men­jabat sebagai Pembantu Rek­tor I dan kemudian menjadi Rektor sementara ketika Marlis Rahman ter­pilih sebagai Wakil Guber­nur. Almarhum juga pernah ditugaskan oleh negara seba­gai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik In­donesia di KBRI Tokyo, Jepang, sejak 07 Januari 2008 hingga Desember 2011. Almarhum mening­galkan seorang istri, yaitu Prof. Dr. Rahmiana Zein, Guru Besar Kimia Unand, dan tiga orang putra.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Almarhum Prof Edison Mu­naf menamatkan pendidikan sarjana muda (BS) tahun 1980 dan Sarjana (Drs) tahun 1982 dari Jurusan Kimia, FMIPA Unand, kemudian melanjutkan studi di negara sakura Jepang dengan beasiswa dari Pemerintah Jepang  (Monbukagakusho). Setelah itu, Prof Edison Munaf melanjutkan studinya di De­partment of Applied and Indus­trial Chemistry pada Graduate School of Engineering, Nagoya University, Jepang. Gelar Master of Engineering dalam bidang Kimia Analisa Lingkungan dipe­roleh pada tahun 1989, dan Doctor of Engineering dalam bidang Kimia Analisa Lingku­ngan diperolehnya dari uni­versitas yang sama pada tahun 1992. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan Post Doc­toral Research selama 1 tahun di Gifu University, Jepang de­ngan fellowship dari JSPS (Ja­pan Society for the Promotion of Science).

Segudang prestasi akademik telah diperoleh antara lain seba­gai Dosen Teladan I Universitas Andalas dan Dosen Teladan III Tingkat Nasional pada tahun 1992 dan finalis peneliti muda Indonesia LIPI tahun 1992. Dalam bidang publikasi ilmiah pada internasional refereed jour­nal Edison Munaf termasuk staf pengajar Unand yang produktif dengan jumlah publikasi lebih dari 35 artikel  di berbagai jurnal di dunia dan 1chapter book yang terbit di USA. Saat ini tercatat di data base Scopus sebagai staf pengajar Unand dengan jumlah publikasi ilmiah internasional terbanyak. Selain itu beliau juga dikenal sebagai penulis aktif di berbagai media lokal dan na­sional. Hampir semua jenis hibah penelitian Dikti telah pernah didapatkan. Almarhum juga telah mengunjungi lebih dari 13 negara untuk memperesentasikan hasil penelitiannya sebagai pem­bicara dan juga menjadi reviewer di berbagai jurnal terbitan Elsevier dan merupakan salah seorang Editor pada Asian Journal of Chemistry yang terbit di India.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Rektor Unand Werry Darta Taifur dalam penghormatan terakhirnya mengatakan, seluruh keluarga besar Unand me­nyata­kan rasa duka yang mendalam dan merasa sangat kehilangan. “Di saat Unand ingin melangkah menuju world class university, yang sangat memerlukan peneliti tangguh, Prof Edison mening­galkan kita semua. Mudah-mu­dahan pesan almarhum agar dosen dan mahasiswa Unand mau dan rajin menulis dapat ditepati oleh seluruh dosen dan mahasiswa Unand,” ucap Werry sambil terharu.

Werry juga menceritakan detik-detik terakhir rencana pertemuannya dengan Prof Edi­son.  Kabar almarhum Prof Edi­son dirawat di RS Royal Prima Medan, telah didengarnya dan berencana untuk menjenguk. Karena kesulitan penerbangan, ia baru mendapatkan tiket ke Medan Rabu (8/7) pukul 11.00 WIB. Tetapi takdir menyatakan lain, sebelum sempat bertemu, almarhum telah lebih dulu di­panggil yang kuasa.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

“Semoga dengan segala amal ibadah sebagai dosen dan doa semua kaum muslimin, almar­hum ditempatkan di surga, tem­pat orang-orang yang dimuliakan Allah SWT. Kita berdoa juga semoga yang ditinggalkan diberi­kan ketabahan dalam menghadapi kehilangan ini,” tutup Werry.

Istri almarhum, Rahmania, dalam isak tangisnya juga menyam­paikan selamat jalan kepada suami tercinta.

Baca Juga : Perang Inovasi dalam Era Disrupsi

“Bapak meninggal dikare­nakan organ hatinya tidak ber­fungsi dan terjadi pembengkakan pada limpa. Selamat jalan suamiku tercinta, kembalilah dengan te­nang, karena kita semua pasti kembali disisinya. Semoga surga menantimu,” isaknya.

Sosok Sederhana

Kabar meninggalnya sang pro­fessor yang menikahi penemu teknik kromatografi tercepat di dunia itu tersebar cepat di media sosial, salah satunya di facebook. Salah seorang alumni Unand, Lukita Purnama Sari pada status facebook-nya sekitar pukul 10.00 WIB, Rabu kemarin menyebutkan keluarga almarhum merupakan keluarga yang sederhana.

Saya mengenal baik almar­hum dan keluarganya... krn dl jaman saya kuliah, saya sempat jadi guru private musik anak2nya eijiro dan ebil selama bbrp tahun... keluarga bapak ini salah satu keluarga yg menjadi inspirasi saya, krn istri beliau yg juga seorang professor, mengurus anak2 dengan sangat baik, tanpa asisten rumah tangga, koordinasi kerja dirumah terjalin baik.... tugas rumah diker­jakan bersama2, tidak ada yang tau klo sang professor ini dirmh mencuci dan menyetrika baju.....,” tulis Luki.(h/rel/eni)

 

Laporan:
RAHMADANI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]