Ribuan Hektare Sawah Terancam Kekeringan


Kamis, 09 Juli 2015 - 19:33:33 WIB
Ribuan Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Petani setempat diteng­garai tidak mem­perhi­tung­kan masuknya musim kema­rau dan mereka tetap mela­kukan gerakan pengolahan sawah dan kegiatan tanam. Berdampak luas terhadap produksi dan produktivitas pangan, sehingga swa­sem­bada pangan di daerah ini dikhawatirkan akan ter­ganggu.

Baca Juga : BPBD Sumbar: Jangan Telan Mentah-mentah Informasi Bencana di Media Sosial

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Limapuluh Ko­ta, Afrizul Nazar didam­pingi Kabid Pemberantasan Ha­ma Pertanian (PHP) Rusli yang dihubungi di Sari­lamak, kemarin, mengakui ter­ja­dinya kekeringan sawah di Ka­bupaten Limapuluh Kota selama musim kemarau ini.

Menurut dia, mengingat sudah lama tak turun hujan sedangkan petani tetap me­ngolah sawah untuk berta­nam padi sebelumnya. Po­ten­si sawah yang kekeringan di daerah ini dimungkinkan ribuan hektare. Sebab luas sawah tadah hujan saja men­capai 7.890 hektare dari luas sawah seluruhnya mencapai 22.222 hektare.

Baca Juga : 17 Napi Rutan Kelas IIB Maninjau Dapat Remisi Idul Fitri

Namun saat ini, belum masuk laporan dari seluruh kecamatan yang ada di Ka­bupaten Limapuluh Kota, kecuali baru di Kecamatan Lareh Sago Halaban. Di kecamatan tersebut, tercatat seluas 373 hektare sawah yang ke­ke­ringan. Akibatnya, seluas 200 hektare terjadi keru­sakan ringan terhadap tana­man. Sedangkan seluas 173 hektar lagi rusak sedang.

Dikatakan, areal per­sawahan yang kekeringan dan merusak tanaman padi di Lareh Sago Halaban itu meliputi, Nagari Batu Pa­yung, Balai Panjang, Sita­nang dan Bukik Sikumpa. Sejauh ini belum ada la­poran masuk terhadap padi puso, namun tidak tertutup kemungkinan terjadi ke­rusakan padi yang parah, jika musim kemarau ber­lang­sung panjang.

“Tidak tertutup ke­mung­kinan padi mengalami puso, kalau hujan tidak kun­jung turun, tanaman padi yang semula tampak tumbuh sumbur dikhawatirkan ma­ti,”ujar Afrizul Nazar me­nambahkan.

Menurut dia, banyak ham­­paran tanaman pangan tapi tak punya register, se­hingga sulit diberikan ban­tuan irigasi. Penyebab lain, bila musim hujan air yang turun utamanya di per­bu­kitan hanya nompang lewat dan mengalir ke tempat yang kerendahan sebelum masuk sungai, sehingga petani ti­dak dapat apa apa. Perlu pe­mikiran membangun em­bung maupun irigasi teknis di lereng pegunungan yang ada di daerah ini. Bila terjadi musim kemarau air ter­tampung bisa dialirkan ke sawah sawah penduduk.

Namun petani daerah ini diharapkan menanami sa­wah utamanya yang tadah hujan difungsikan dengan tanaman jagung. Selain tana­man itu berumur pendek bisa dipanen juga banyak permintaan, disamping ja­gung muda juga sebagai bahan pakan ternak unggas dan masih banyak dibu­tuhkan, ulasnya. (h/zkf)

BERITA POPULER Index »


BERITA TERKINI Index »

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]