Anti Dehidrasi dengan 'Jurus 242'


Jumat, 10 Juli 2015 - 19:01:16 WIB

Di bulan Ramadan, kita sering mendengar slogan atau kalimat berbuka puasalah dengan yang manis. Banyak pihak yang tersugesti dengan slogan ini, karena konon sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW juga dipercaya baik untuk kesehatan— sesuatu yang manis-manis ini diyakini dapat mengembalikan kondisi tubuh yang lemas setelah berpuasa.

Maka tak heran yang manis-manis, seperti teh manis, kopi, sirup, minuman berenergi, kolak, cemilan-cemilan manis dan lainnya, jadi pilihan untuk berbuka.

Namun, benarkah berbuka dengan yang manis itu sudah sesuai dengan syariat Islam dan bermanfaat untuk kesehatan?

Menurut kajian Islam, yang disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud, bahwa Anas bin Malik mengatakan, Rasulullah berbuka dengan rutab (kurma yang lembek), atau dengan tamr (kurma kering), dan jika tak ada kurma kering maka Nabi Muhammad SAW berbuka dengan meneguk air.

Bahkan dengan tegas Rasulullah berkata: Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andai kamu tak memperolehnya, berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu suci.

Jadi jelas sudah, bahwa kurma tentu tidak sama dengan yang manis-manis. Kurma adalah karbohidrat kompleks (complex

carbohydrate), sedangkan segala yang manis-manis seperti yang disebutkan di atas adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate), yang justru merusak kesehatan karena penuh dan kaya gula.

Karena itu kita yang berpuasa perlu memahami lebih dalam lagi, bahwa hal benar yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW itu adalah berbuka puasa dengan kurma atau air putih, bukan dengan sesuatu yang manis-manis.

Pertanyaan yang timbul kemudian, kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?

Ketika berpuasa, kadar gula dalam darah turun. Minuman dan makanan manis yang termasuk golongan karbohidrat sederhana ini akan menaikkan kadar gula darah secara tiba-tiba.

Lonjakan kadar gula darah yang tiba-tiba ini sangat tidak sehat, karena tubuh pun makin cepat pula menghasilkan respons insulin. Makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin cepat pula lapar, sehingga mempercepat terjadinya penimbunan lemak tubuh karena dorongan ingin makan, dan makan lagi semakin tinggi.

Karena sulit mengontrol nafsu makan dan meminum minuman manis setelah berbuka ini, maka tak heran jika banyak di antara kita yang justru mengeluh menjadi semakin gemuk setelah menjalankan ibadah puasa.

Tak sedikit orang-orang mengeluh, bahwa di bulan puasa justru lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak, seperti di perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya.

Hal itu terjadi karena saat berbuka kita langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui yang manis-manis tadi, sehingga tubuh menimbun lemak.

Dari telaahan di atas, dapat disimpulkan bahwa hal yang paling ideal dilakukan saat berbuka puasa adalah minum segelas air putih, beberapa butir kurma atau sepotong buah segar, lalu salat magrib, kemudian makan nasi sesuai porsi yang dianjurkan kesehatan.

Nasi, seperti halnya kurma asli, adalah bahan pangan yang mengandung karbohidrat kompleks, yang membantu menaikkan kadar gula darah secara perlahan, yang tentunya baik untuk tubuh, terutama setelah berpuasa. Berbeda dengan karbohidrat sederhana yang membuat kadar gula darah melonjak tiba-tiba.

Namun yang perlu dicatat, satu gelas air putih saat berbuka tentu saja belum mampu mencukupi kebutuhan cairan tubuh kita yang tidak minum dan tidak makan kira-kira 12 jam setiap hari saat Ramadan.

Baik di bulan Ramadan atau di bulan-bulan lainnya, kebutuhan air tubuh kita mencapai 2-3 liter/hari. Hal ini karena air merupakan komponen utama dan penting bagi tubuh. Studi menyebutkan, air membentuk sekitar 60-70% dari berat badan manusia.

Air dibutuhkan tubuh untuk melarutkan racun dari organ-organ vital tubuh, membawa nutrisi ke sel-sel tubuh dan memberikan lingkungan yang lembab bagi telinga, hidung dan tenggorokan.

Kekurangan air dapat mengakibatkan dehidrasi, yaitu suatu kondisi yang terjadi ketika tubuh kekurangan air untuk menjalankan fungsi normalnya.

Tubuh akan mengalami dehidrasi kalau cairan dalam tubuh turun 2 hingga 6 persen.

Pada dasarnya, kebutuhan cairan setiap orang itu berbeda-beda, tergantung kondisi tempat tinggal dan aktivitas masing-masing.

Di Eropa, orang dianjurkan minum 1,5 liter sehari, di Kanada 3 liter sehari, di Australia 2,6 liter, dan di Meksiko 2 liter. Sedangkan bagi kita yang tinggal di Indonesia, memerlukan sekitar 2 liter sehari.

Menurut Prof Dr Hardinsyah Ridwan MS, Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, sekaligus peneliti The Indonesian Hydration Study, dehidrasi atau kurangnya asupan air dapat menyebabkan gangguan fisik.

Dehidrasi juga dapat mengakibatkan gangguan dalam fungsi otak, seperti turunnya konsentrasi dan kemampuan berpikir. Secara fisik, kekurangan cairan dapat menurunkan stamina dan produktivitas. Seseorang yang kekurangan air akan mengalami gangguan sakit kepala, lesu, lemas, kejang, hingga pingsan. Bahkan dehidrasi paling erat kaitannya dengan penurunan volume intravaskular, yang selanjutnya dapat mengakibatkan kegagalan organ dan kematian. Berbahaya bukan?

Selama ini kita sering mendengar saran kesehatan: minumlah setidaknya 8 gelas air setiap hari. Hal tersebut tepat karena konsumsi 8 gelas air/hari atau setara dengan 2 liter digeneralisasikan bagi orang dengan aktivitas fisik yang normal dan kondisi fisik yang sehat.

Nah, di saat bulan Ramadan, diperlukan pengaturan minum yang tepat agar kebutuhan 8 gelas air/hari ini dapat terpenuhi, karena di bulan Ramadan kita tidak bisa minum sepanjang hari.

Kebutuhan 8 gelas air/hari itu harus dapat dicicil dengan bijaksana, mulai dari saat sahur, pada waktu buka puasa dan menjelang tidur pada malam hari, hingga bangun lagi untuk melaksanakan sahur.

Ada pola bijak yang dapat dilakukan untuk mencicil 8 gelas air/hari, yaitu pola 2+4+2. Pola yang direkomendasikan Danone Aqua, produsen air mineral dalam kemasan terbesar di Indonesia, ini sangat tepat untuk memenuhi kebutuhan 8 gelas air/hari untuk tubuh selama bulan Ramadan.

Pola 2+4+2 yaitu 2 gelas air saat berbuka, 4 gelas air pada malam dan 2 gelas air saat sahur. Pengaturannya, saat berbuka awali dengan 1 gelas air putih, setelah makan hidangan berbuka minum lagi 1 gelas.

Berikutnya, minum 4 gelas air putih menjelang tidur malam. Bisa dicicil 1 gelas sebelum makan malam, 1 gelas setelah makan malam, 1 gelas setelah salat Tarawih dan 1 gelas sebelum tidur.

Bahkan jika kita melaksanakan salat Tarawih di masjid atau musala, agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, kita bisa membekali diri dengan membawa air putih secukupnya dalam tabung kecil atau agar lebih praktis bisa membawa air putih kemasan ekonomis yang ukurannya pas untuk dibawa-bawa.

Dan jangan lupa, minum 2 gelas air putih saat sahur, dengan nyicil 1 gelas air sebelum makan sahur dan 1 gelas setelah makan sahur.

Kebutuhan air untuk tubuh tak terbatas hanya diperoleh dari air putih saja. Makanan yang mengandung banyak air seperti buah, sayur, dan makanan lain juga dapat membantu kita mencukupi kebutuhan cairan. Yang penting dijaga, jangan sampai tubuh kekurangan cairan, sehingga tubuh menjadi lemas, dan ibadah puasa Ramadan pun menjadi terganggu.

Selain kebutuhan dasar akan cairan, konsumsi air juga berdasarkan aktivitas tubuh. Semakin sering kita berolahraga atau beraktivitas lainnya dan mengeluarkan banyak keringat, maka semakin banyak pula cairan yang harus digantikan.

Memenuhi kebutuhan tubuh akan air setidaknya 8 gelas/hari, akan membantu tubuh untuk terhidrasi dengan baik, agar metabolisme tubuh berjalan lancar, dan menjauhkan kita dari kegemukan atau kenaikan berat badan berlebihan.

Penelitian menunjukkan, penambahan konsumsi air hingga 1,5 liter perhari dapat membakar 17.400 kalori lebih banyak dalam satu tahun. Ini berarti mampu mengurangi 2,25 kg berat badan.

Maka, agar berat badan tetap ideal dan lemak tidak menumpuk di anggota tubuh selama berpuasa di bulan Ramadan, jaga asupan gizi tetap sehat dan jaga kedisiplinan saat berbuka, dengan tidak membabi buta menyantap yang manis-manis.

Sekali lagi, baik ketika menjalankan puasa Ramadan ataupun di bulan-bulan lainnya, hal paling baik adalah menerapkan pola makan seimbang dalam  keseharian: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45 persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya.

Jauhilah karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana karena butuh energi cepat, carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.

Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga diperoleh sedikit demi sedikit.

Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas sehari penuh. Sebaliknya, karbohidrat sederhana menyediakan energi

sangat cepat, tapi akan cepat sekali habis sehingga kita mudah lemas.

Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis, respon insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan), makanan manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung manis, sirup, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung banyak gula.

Jadi, agar tetap sehat, slogan berbuka puasalah dengan yang manis-manis, baiknya dilupakan saja.***

 

Oleh:
NOVA ANGGRAINI

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]