Silang Suntik di Lurah Berbatu


Jumat, 10 Juli 2015 - 19:04:07 WIB
Silang Suntik di Lurah Berbatu

Title sebagai dokter hewan lulusan luar negeri, otomatis men­jadikan Iwan sebagai sang pencerah di kampung halamanya, lantaran kehidupan warga kampung ini tidak bisa dipisahkan dengan alam. Alam takambang jadi guru, begitulah gambaran warga kampung ini de­ngan lingkungannya; terutama bi­natang seperti ayam, sapi, kuda, anjing dan lain sebagainya.

Baca Juga : Nagita Slavina Pakai 'Celana Badut', Harganya Bikin Syok Netizen

Setiap hari minggu, sebagian besar kaum laki-laki dari berbagai kalangan akan pergi berburu babi dengan anjingnya. Keseruan melihat anjing berlari membunuh babi yang merusak tanaman, menjadi keseruan tidak tergantikan bagi kaum Adam di kampung ini. Konon katanya; keseruan berburu lebih seru dari pada mendapatkan unta merah, gajah putih maupun tanduk kuda. Tidak heran, jika para pecandu buru berlomba-lomba mendapatkan anjing yang bagus.  Jika anjing menjadi pilihan umum; lain halnya dengan pejabat dan pengusaha. Golongan elit ini memilih kuda untuk kegemarannya, dalam setahun ada enam atau tujuh kali pacu kuda di kampung ini. Selain berburu dan pacu kuda, disini juga ada pacu itik, pacu jawi, adu balam serta tardisi yang berkaitang dengan hewan lainnya. Meski adu kerbau sudah tidak ada, tapi nyabung ayam masih dilakukan dengan sembunyi-sem­bunyi.

***

Baca Juga : Lesti Kejora Minta Maaf ke Siti Badriah, Ini Tanggapan Rizky Billar

Dengan telaten, Iwan memper­kenalkan berbagai jenis hewan unggulan dari berbagai belahan dunia. Melalui teknik kawin silang dan kawin suntik yang dipelajari­nya, Iwan ingin berguna bagi kam­pung halamannya. Bagi yang hobi memelihara anjing untuk berburu, Iwan memperkenalkan dua ekor buldog jantan untuk dikawin silang­kan dan sampel sperma boxer, pitbull dan helder untuk dikawin suntik. Sementara bagi yang hobi memelihara anjing untuk menjaga rumah, Iwan mengompanyekan sampel sperma elhasa, cihuahua dan pudel. “Selain untuk jaga, bisa pula untuk hiasan,” pernyataan Iwan mendapat tepuk tangan oleh pen­duduk yang mengerumuni halaman balai Desa.

Untuk kuda pacu, Iwan menye­diakan pejantan thorougbred dari Australia agar dikawin silangkan dengan induk kuda lokal. “Memang butuh sedikit biaya, tapi pacu kuda yang tuan-tuan mainkan akan men­jadi lebih semarak, sebab inilah kuda pacu terbaik di dunia.” Iwan me­nunjuk dua kuda jantan yang baru dimpornya tersebut, membuat ka­um elit yang duduk dibawah tenda itu telihat takjub dan tidak sabar untuk mengkawin silangkan iduk kudanya. Tidak cuma hewan ber­kaki empat, hewan berkaki dua juga tidak mau ketinggalan. Melalui Iwan sebagai penghulu, ayam lokal yang selama ini mengerami telur dari suaminya yang juga lokal sekarang mulai mengerami telur  dari turis bangkok Thailand.

Baca Juga : Istri Rizky 2R Lahiran saat Positif Covid-19, Alhamdulillah Bayinya Dinyatakan Negatif

Apabila hewan-hewan yang telah disilang atau disuntik tersebut menghasilkan anak betina, maka anak betina itu kembali dikawinkan dengan pejantan impor. Hal ini terus dilakukan hingga tiga atau empat generasi hingga mencapai hasil yang ideal, dimana darah hewan impor harus lebih kental dari pada darah hewan lokal. Dengan modal sedikit darah hewan lokal tersebut, Iwan menyatakan hewan itu adalah bina­tang dalam negeri.

***

Baca Juga : Begini Respon Siti Badriah saat Kejora dan Boy William Minta Maaf

Semenjak kepulangan Iwan; para hewan jantan di Lurah Berbatu tidak dapat lagi bercinta dengan betinanya karena dianggap merusak keturu­nan. Dengan program silang suntik disana-sini, Iwan berhasil mengubah identitas kampung halamannya dalam waktu lebih kurang tujuh  tahun.

Namun sayang, kampung Lurah Beratu seperti kampung indak tentere. Di kampung ini, ayamnya seperti ayam bangkok dari Thailand, sapinya mirip seperti sapi-sapi yang ada di Selandia Baru. Sementara anjing berburu masya­rakatnya mirip dengan anjing Pitbull Amerika, Bulldog Inggris atau Helder Jerman. Sementra anjing penjaga rumah masyarakat disini mirip dengan anjing Cihuahua Mek­siko dan Pudel Rusia.

Kuda gayo dan kuda padang manganteh, kuda endemik kampung ini begitu sulit ditemukan. Meski pun terlihat, mereka bukan lagi kuda pacu yang disayang atau di­bang­gakan. Tetapi telah menjadi kuli gerobak sepanjang jalan. Sebab masyarakat Lurah Berbatu telah memiliki kuda pacu baru, yakni kuda hasil kawing silang hingga generasi ke empat, kuda yang dina­mai dengan istilah kuda G IV.

Meski Iwan sukses merubah identitas alam kampung halaman­nya, namun alam tidak diam begitu saja. Alam memperlihatkan hukum­nya yang tidak bisa dilawan. Jika sore tiba, saat masyarakat Lurah Berbatu yang gemar berburu mem­bawa anjingnya jalan-jalan, maka kita akan menjadi tontonan yang me­narik.

Anjing tersebut menarik-narik mereka, kadang kekiri, kadang kekanan atau malah anjingnya yang tidak mau jalan. jika sudah begitu, maka si Pemilik akan menarik dengan gaya ususnya yang hendak keluar. Tidak jarang juga mereka terjatuh, karena tiba-tiba si anjing berlari kencang. Ironisnya, tidak satu pun dari mereka yang sadar kalau anjing-anjing itu diciptakan untuk orang eropa dan Amerika yang memiliki postur kuat lagi tinggi. Belum lagi anjing tersebut sering membuat ulah. Terkadang menye­rang ternak warga atau menggigit orang yang berujung pada per­cekcokan.

Hal yang sama juga terjadi pada pemilik kuda. Kuda G IV yang mereka miliki memang kencang dan kuat. Hanya saja, suburnya rumput alam Lurah Berbatu ternyata tidak cocok dengan lidahnya, jika dipak­sakan membuat kuda menjadi sakit. Akhirnya si pemilik harus meng­impor pakan dari Australia dengan harga yang sangat mahal.

Kuda ini juga harus diperiksa rutin oleh Iwan, sebab si kuda gampang sakit dikare­nan iklim di Lurah Berbatu kurang cocok untuk tubuhnya. Pacu kuda yang dulunya menjadi ciri khas tradisi permainan rakyat sekarang telah menjadi permainan para pe­ngusaha kelas kakap dan kepala daerah”yang kental oleh aroma bisnis maupun politik.  Meski demikian, kuda G IV dijadikan standar  Kuda Pacu Indonesia oleh pihak yang berwenang.

Atas prestasinya selama ini, masyarakat Lurah Berbatu membe­rikan penghargaan dan puji sanjung kepada Iwan. Sebab ia dianggap telah memberikan yang terbaik untuk kampung halaman. Tidak heran, di usia yang relatif muda Iwan telah menjadi kaya raya. Hingga Nurlaila si bunga desa pun disun­ting­nya. Oops!! Jagan dulu berpikir kalau aksi Iwan sampai disini.

***

Tidak percuma kampung ini dinamai Lurah Berbatu, sama se­perti kepala orangnya. Puas dengan hewannnya mereka melirik orang­nya. Entah sejak kapan, masyarakat kampung ini mulai snewen dengan para bule. Bule rombeng pun jika datang kekampung ini, paling tidak bisa jadi bintang iklan atau minimal menjadi rebutan para gadis. Hingga kawin silang pun terjadi. Menurut masyarakat disini. Jika ingin Mem­beli kecantikan atau kegagahan, tidak lagi bisa memakai kuning lansat atau sawo matang, apa lagi dengan rambut hitam. Melainkan harus putih pucat dengan rambut jagung. Bahkan banyak pemuda-pemudi disini  mendirikan komu­nitas BULCHERI. Diwajibkan bagi semua anggota komunitas ini untuk mewarnai rambutnya sendiri dan berbicara dengan gaya sakarek ula, sakarek baluik. seperti: Thank you bangets, hay guys makan jengkols yuk dan lain sebagainya. Namun yang anehnya, sebagain besar dari mereka tetap banyak yang gagal ujian bahasa Inggris.

***

Telah bertahun-tahun Iwan me­nikahi Nurlaila, namun jabang bayi yang dinantikan tak kunjung datang. Dokter memvonis Iwan mandul, sementara Nurlaila memiliki kelainan rahim, sulit baginya hamil dengan cara yang normal.

“Drh. Iwan. sangat jago membuat hamil binatang, namun tak mampu menghamili istrinya”

“Ha ha ha ha ha”

“Ssstt dia datang”

Begitulah sepenggal cerita yang saban hari terdengar di warung-warung kopi Lurah Berbaru. Mas­yarakat disini memang susah untuk dimengerti, disatu sisi mereka mengangap Iwan sebagai orang yang telah berjasa, sementara disisi lain Iwan tetap menjadi bahan olok-olokkan mereka.

Iwan yang tidak bisa menerima dirinya mandul, apalagi ditambah dengan cemooh para warga. Mem­buat  ia berencana mengajak istri­nya untuk berkunjung ke Denmark Cryos, sebuah bank sperma ternama yang ada di Denmark.  Huh! Bukan­nya kalian tergila-gila pada bule. Lihat saja, akan saya buktikan. Kalau saja bisa mempunyai anak bule, batinnya.

Sekali lagi. Iwan ingin menjadi sang pencerah!  Di kampung halamannya.

 

Oleh
YANSEN WAPITA ANWAR

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]