Putra Pasui yang Tak Pernah Berhenti “Berlari”


Jumat, 10 Juli 2015 - 19:11:07 WIB
Putra Pasui yang Tak Pernah Berhenti “Berlari”

Sepenggal informasi ini­lah mengantarkan per­te­mu­an Haluan dengan Anton yang kini menjadi Wakil Direktur II Bidang Umum dan Keuangan Politeknik Negeri Padang. Ya, keinginan orang tua dari bungsu dua bersaudara ini terwujud, buah hati kini jadi PNS.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

Perjalanan Anton bisa men­jadi seperti saat ini bu­kanlah dengan mudah diga­painya. Penuh perjuangan dan bercucuran keringat. Bercucuran keringat dalam arti yang sebenarnya. Kei­nginan yang kuat untuk me­ru­bah nasib, ayah ibu Anton dengan segala daya upaya mendorong anaknya  untuk tetap pergi ke sekolah meski tanpa alas kaki.

Dalam kisahnya, Anton me­n­ceritakan, sewaktu ma­suk sekolah dasar ia harus menempuh jalan setapak sepanjang 6 Km. Dan di wak­tu SMP, ia harus menempuh jarak 12 Km. jika ingin sam­pai di sekolah, ia tak boleh berjalan tapi harus berlari. Ber­lari bahkan tanpa alas kaki, karena daerah yang dilaluinya bisa saja tiba-tiba menjadi licin ketika hujan sudah datang.

Baca Juga : Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis

Jalan yang ditempuhnya tidaklah mudah. Kawasan desa yang berada di deretan Pengunungan Latimojong, salah satu puncak tertinggi di Sulawesi, memaksa An­ton harus menuruni kawa­san bukit yang cukup curam untuk sampai di sekolah. Berangkat pukul 05.00 WB sampai dan sampai di rumah pukul 16.00 WIB, tanpa makan siang. Ya, Anton terpaksa harus menunda lapar ketika mendaki jalan pulang dan baru bisa makan di rumah. Selama sembilan tahun, inilah hari-hari yang dilalui Anton.

Pegunungan Latimojong merupakan salah satu pun­cak pegunungan yang ingin ditaklukkan oleh pendaki. Menuju puncak tersebut, salah satu jalan yang bisa dilewati adalah Desa Pasui. Perjalanan darat dari Ma­kassar ke daerah ini kabar­nya memakan waktu sekitar enam jam. Anton sendiri mengatakan, pukul 16.00 di daerah ini, semua masya­rakat sudah mulai mengu­rangi aktivitas. Karena ka­but sudah mulai me­nye­limuti kawasan tempat ting­gal mereka.

Ya, semangat menggapai pendidikan setinggi-tinggi­nyalah yang menjadi moti­vasi Anton dan bisa melalui medan sulit ini setiap hari. Ia tidak mau seperti teman-temannya yang waktu itu hanya tamat SD dan cuma bisa baca dan berhitung,dan kemudian jadi petani. Ia ingin lebih. Tidak hanya Anton, orang tuanya juga berkeinginan lebih. Jika kakaknya hanya tamat SMA, Anton diharapkan bisa me­nem­puh perguruan tinggi.

Keinginan itu pun ter­wujud. Anton yang menye­lesaikan pendidikannya di SMA 5 Makassar dengan tinggal di tempat kakak orang tuanya, bisa lulus di Universitas Hasanuddin pada Jurusan DIII Elektro .

Untuk bisa tetap kuliah dan memenuhi kebutuhan hidup, bapak empat anak ini berjuang mati-matian. Pergi ke sana ke sini, sebagai pemasang in­s­ta­lasi listrik, jadi loper koran dan lainnya ia kerjakan. Sedikit ber­hemat, Anton pun bisa me­menuhi ke­bu­tuhan makan sehari-hari dan membayar uang ku­liah.

Maka tamatlah Anton dan ia pun mlai mencari pekerjaan. Darisanalah per­kenalan dirinya dengan Po­li­teknik Negeri Padang ini dimulai. Anton waktu itu diminta menjadi ins­truk­­tur yang akan ditem­patkan di poli­teknik dan harus menempuh training selama satu tahun di Pulau Jawa. Pelatihan pun sudah ditempuh dan penem­patan dimulai. Anton ditem­pat­kan di Politeknik Uni­ver­sitas Andalas, sebelum ber­ganti nama men­jadi Poli­teknik Negeri Pa­dang.

Padang merupakan kota yang asing baginya dan be­lum pernah dikunjungi. Ia malah berharap ditem­pat­kan di Kalimantan bukan di Pulau Andalas ini. Sejumlah keta­kutan sempat mewarnai An­ton sebelum be­rang­kat. Se­ba­gai orang timur ia mera­sa khawatir dirinya tidak bisa mengimbangi pen­didi­kan yang ditempuh para sarjana lulusan dari barat. Khawatir ilmunya tidak se­suai dengan yang dibu­tuhkan. Na­mun, ketakutan Anton hanya sam­pai disana saja, ti­dak diba­wanya ke Pa­dang. Di poli­­t­ek­nik, ju­ru­san ter­sebut ma­sih ber­nama elek­tronika dan tele­komu­nikasi dan tergo­long jurusan baru. Berbeda dengan juru­san elek­tro di Unhas, yang sudah mendapat nama dan salah satu jurusan terbik disana. Anton bisa bernafas lega.

Maka,  berangkatlah ia dari Makassar menuju Pa­dang menggunakan kapal laut. Perjalanan yang ditem­puh tidaklah mudah, karena tidak ada rute Makassar-Teluk Bayur. Jadi ia bersama teman-teman yang juga dari Makassar dan bertugas di Sumatera memmilih pela­yaran dari Makassar-Medan. Dan dilanjutkan dengan per­jalanan darat. Ini menjadi kenangan pertama mengin­jakkan kaki di Sumatera.

Tak sampai disana, An­ton yang sudah bekerja sela­ma tiga tahun, masih belum di­ang­kat sebagai PNS. Ini sem­pat membuatnya kha­watir dan berniat pindah dari PNP. Namun rekan-rekan di poli­teknik melarang dan ber­harap ia bersabar. Ter­nyata sabar berbuah manis, tiga tahun setelah itu, tepat­nya di tahun 1993, ia diang­kat seba­gai PNS. Tidak ada kata se­lain syukur yang di­ucap­kan.

Dengan statuts PNS yang sudah disandangnya ini, Anton pun memberanikan diri melamar  gadis Minang, pujaan hati. Maka kini, ia sudah dikarunia empat orang anak. Kini, Anton lebih memilih menetap di Padang dan memboyong keluarganya ke Padang.

Perjalanan Anton di PNP dimulai ketika ia men­jadi Kepala Bengkel, ke­mudian menjadi Ketua Pro­di Elek­tronika, Wakil UPT Humas dan menjadi Kepala UPT Humas dan hingga kini ia sudah menjadi Wakil Direk­tur II PNP. Bersama Direktur PNP Aidil Zamri, Wakil Di­rektur lainnya Al­bar, Ju­nal­di dan civitas aka­de­mika PNP, ia siap berlari membawa poli­teknik ini ke arah yang lebih baik. Berlari seperti dahulu kala ketika membawa cita-citanya me­lanjutkan pen­­di­dikan di perguruan tinggi. ***

 

Laporan :
RAHMADHANI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]