Putus Sekolah, Ratusan Anak Jadi Penambang dan Bertani


Jumat, 10 Juli 2015 - 20:19:50 WIB

“Data itu kami dapatkan pada pertengahan 2014, dari Bidang Sosial di Din­sos­nakertrans Solsel. Bidang Sosial memeroleh data itu saat pendataan Program Keluraga Harapan (PKH),” ujar Nurasidin saat dihu­bungi Haluan, Kamis (9/7).

Ia menuturkan, penye­bab anak-anak itu putus sekolah karena orangtua mereka tidak memiliki bi­aya untuk menyekolahkan mereka sehingga diajak orang­­­tua untuk bekerja se­bagai penambang emas dan petani. Selain itu, terdapat juga anak-anak yang tidak mau sekolah karena tergiur dengan penghasilan bekerja dengan me­nambang emas dan bertani. Se­mentara sebagian lagi adalah anak-anak nakal yang memang tidak mau bersekolah.

Menurut Nurasidin, anak-anak di bawah umur yang diajak bekerja atau disuruh bekerja oleh orangtua mereka, bertentangan dengan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan UU Nomor 23 Tahun 2002 Tetang Perlindungan Anak.

“Jika anak-anak usia sekolah tapi berhenti bersekolah dan mencari penghasilan, bagaimana nantinya masa depan mereka. Padahal anak-anak adalah gene­rasi penerus bangsa. Oleh karena itu, kami mencarikan solusi untuk mereka. Kami mema­sukkan mereka ke pusat pembi­naan di kantor Dinsosnakertrasn Solsel untuk diberi pelajaran akademik,” ujarnya

Untuk tahun ini, lanjut Nura­sidin, pihaknya membina 60 anak. Pembinaan itu berlangsung sejak 6 Juni hingga 6 Juli. Hasil evaluasi pembinaan tersebut, pihaknya menemukan fakta bah­wa banyak anak-anak tersebut yang tergolong pintar. Pihaknya sangat menyayangkan generasi muda bangsa yang pintar seperti itu putus sekolah hanya karena tak ada biaya.

Setelah pembinaan tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Solsel, apakah mereka bisa diterima di sekolah.

“Biaya sekolah mereka nan­tinya dibiayai dengan dana APBN melalui program Pengurangan Pekerja Anak-Program Keluarga Harapan (PPA-PKH), dari Ke­menterian Tenaga Kerja Dirjen Pembinaan dan Pengawasan Ke­te­n­agakerjaan. Dana yang dibe­rikan oleh pemerintah ter­sebut akan dipantau penggunaanya, untuk melihat apakah dana itu digunakan oleh orangtua untuk keperluan sekolah anak atau digunakan untuk ke­butuhan la­in,” tuturnya.

Sementara itu, 240 anak yang belum mendapatkan pembinaan, kata Nurasidin, akan dibina seca­ra bertahap tiap tahunnya dan diupayakan mendapatkan dana bantuan dari pusat untuk biaya sekolah.

Selain itu, pihaknya juga men­cari solusi alternatif untuk anak-anak yang putus sekolah, yakni dengan menggandeng perusahaan swasta yang ada di Solsel, sebagai orangtua angkat. Saat ini, pi­haknya baru menggandeng satu perusahaan, yakni Kencana Sawit Indonesia (KSI).

“Kami berharap kepada peru­sahaan dan donatur lain untuk menjadi orangtua angkat anak-anak yang putus sekolah ter­sebut,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Solsel, Fidel Efendi mengatakan, pihaknya akan me­nerima anak-anak yang putus sekolah tersebut jika usia mereka sesuai dengan tingkatan sekolah. (h/dib)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]