Kala Bus Umum Tak Jadi Pilihan Utama Lagi


Jumat, 10 Juli 2015 - 20:20:30 WIB
Kala Bus Umum Tak Jadi Pilihan Utama Lagi

Diakui pengusaha bus NPM Padang Panjang, Ang­ga Vircansa persaingan antar moda transportasi paling banyak berimbas pada ang­kutan darat. Katanya, dari data Kementerian Perhu­bungan, pada moda ang­kutan lebaran, saat penum­pang melonjak, pengguna bus justru menurun hingga 6 persen setiap tahunnya. Sementara pada moda trans­portasi lainnya, kereta api misalnya, jumlah penum­pang melonjak hingga 8,54 persen setiap tahunnya. Pa­ling banyak dibanding moda transportasi lain. Sementara, untuk moda tranportasi kapal laut, jumlah penum­pang naik tiga persen dan angkutan udara dua persen.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

“Itu angka rata-rata kese­luruhan dari Kementerian Perhubungan. Realitanya, saat ini untuk trayek Jakarta Padang angka penurunannya bisa mencapai 10 persen,”kata Angga lagi.

Diibaratkan generasi penerus bisnis angkutan dengan merek dinding NPM itu, nasib bus kini sudah bak kerakap di atas batu. Hidup segan, matipun tidak. Pada lebaran tahun 2015 ini,  kata Angga, Perusahaan nya mem­berangkatkan 5 bus AC dan 3 bus Jumbo dari Pulau Jawa masing masing dari Depok, Bogor,  Kali Deres,  Rawamangun.  Dan seba­liknya DARI Sumbar NPM be­rangkat dari Padang, Pariaman, Bukittinggi,  Payakumbuh,  Batu­sangkar dan Padangpanjang.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Padahal, sebelum booming tiket murah angkutan udara, ada 10 NPM yang diberangkatkan dari tanah Jawa ke Ranang Mi­nang setiap harinya. Tapi, kini sudah ditinggalkan. Kalaupun ada penumpang, kebanyakan turun sebelum Padang, misalnya Muaro Bungo atau Sijunjung. Karenanya, pada hari hari biasa kini  kami hanya bisa memberangkatkan bus 2 AC dan 2 Jumbo, kata Angga.

Kondisi kian diperparah saat harga tiket mudik pekerja asal Jawa di Padang menuju Jakarta, jauh lebih murah dibanding harga tiket pesawat dari Jakarta ke Padang. Alhasil, pekerja dan warga Pulau Jawa biasanya pu­lang dengan bus tetapi kini me­reka memilih pesawat karena mereka tak harus merogoh kantong lebih dalam. Imbasnya, bus dari Padang ke Jakarta umumnya kosong saja. Kalaupun ada penumpang hanya hitungan jari.

Untuk bisa merebut “kue Idul Fitri, pada masa-masa mudik seperti saat ini , tak ada jalan lain selain memangkas ongkos diban­ding tahun sebelumnya dan lazim dilakukan pengusaha bus jurusan Jakarta ke Padang. Tiket H- 7 tiket bus eksekutif  Jakarta ke Padang harganya Rp625 ribu, hari biasa Rp400 ribu dan bus tipe jumbo Rp400 ribu, lalu hari biasa Rp300 ribu.  Padahal, biaya operasional semakin meningkat sejalan dengan kenaikan harga BBM belakangan ini.

Kendati demikian, masih ada pemudik yang memilih untuk tetap menggunakan angkutan darat yang satu ini. Ada beberapa alasan mengapa angkutan darat yang dikenal dengan bus masih diminati. Ada yang ingin menik­mati pemandangan sepanjang jalan yang dilalui.  Ada juga karena takut dan trauma naik pesawat.  Dan ada juga dengan alasan lebih dekat turun ketim­bang ke Bandara Internasional Minang Kabau di Padang.  Mi­salnya warga Sijunjung,  Paya­kumbuh maupun daerah yang dilalui bus AKAP tersebut. Dengan bus juga bisa membawa barang lebih dari pada dengan pesawat.

Hal ini diakui Noviati Harris, salah satu penumpang yang ditemui Haluan di Padang Panjang. Bersama suaminya, Kol.(Purn) Haris Patriosa, ia memilih mudik ke Padang Pan­jang dengan bus karena ingin bernostalgia, mengenang masa-masa lalu. “Kami berdua  pulang kampung ingin menikmati pe­man­dangan di jalan. Sudah lama tak naik bus ke kampung” kata Noviati Harris yang didampingi sang suami.

Soal biaya, selain harga tiket bus untuk bisa sampai ke Padang Panjang, setidaknya bus berhenti hingga lima kali di rumah makan. Setiap makan, mereka rata-rata harus merogoh uang Rp25-35 ribu perorang setiap makan. Dengan demikian, setiap makan mereka harus mengeluarkan uang Rp50-70 ribu. Jika mereka ma­kan lima kali sepanjang perja­lanan, minimal uang sebanyak Rp250 ribu harus mereka keluar­kan.

Dalam perjalanan dengan  waktu tempuh rata rata antara 1 hari dan dua malam atau sekitar 40 jam, banyak kota yang mereka lintasi. Tapi mereka mengaku buah dari perjalanan panjang itu salah satunya rasa penat karena cukup lama duduk di dalam bus. “Bahkan, kaki menjadi sembab,” kata Epi sapaan akrab Novianti. (*)

 

Laporan:
IWAN DN

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]