Idul Fitri dan Sesuatu yang Baru


Ahad, 12 Juli 2015 - 19:10:41 WIB
Idul Fitri dan Sesuatu yang Baru

Berpuasa tak sekedar menahan makan dan minum seperti banyak referensinya pada Alquran dan hadist. Justru, belakangan ada kebiasaan menarik di kalangan umat Islam di negeri ini, terutama saat Ramadan dan jelang Idul Fitri, dimana pola hidup masyarakat berpola konsumtif.

Baca Juga : PKB: Permintaan Maaf Nadiem ke PBNU Hanya Suaka Politik agar tak Dicopot Presiden

Tingkat konsumsi masyarakat biasanya meningkat dengan tajam, jika di awal Ramadan, konsumsi atas kebutuhan pokok (sembako), makanan-makanan tertentu terutama ‘daging-dagingan’.  Tak sampai disana. Biaya hidup justru melonjak dari hari-hari biasa sebelumnya. Berbuka puasa, kalau tak berlanja, sepertinya bagi sebagian kalangan adal hal yang kurang. Padahal, kemampuan tubuh makanan-makanan saat berbuka masih terbatas. Inilah yang memicu sikap konsumtif masyarakat. Nabi SAW saja, cukup me­nganjurkan minum dan tiga butir korma

Sedangkan menjelang idul fitri lebih banyak lagi. Selain kebutuhan pokok (sembako), masyarakat berlomba memborong kebutuhan pelengkap seperti kue-kue, pakaian dan asesorisnya, barang elektronik, hingga kendaraan bermotor yang tentunya serba baru.  Sebagian masyarakat, seolah ‘merasa wajib’ membeli berbagai barang konsumsi tersebut dengan dalih momen Ramadan dan Idul Fitri adalah momen yang sangat istimewa.

Baca Juga : Bantah Ada Klaster Covid-19 Usai Maulid, Habib Rizieq: Saya Kena dari Bandara Soetta

Apalagi bagi mereka yang punya tradisi pulang kampung (mudik),saat Idul fitri adalah saat mereka bersilaturrahim, yang bagi sebagiannya, dijadikan sebagai ajang unjuk gigi. Yang lebih menarik lagi, beberapa Ramadan terakhir ini, justru pusat-pusat perbelanjaan, pasar-pasar  atau mall-mall, tidak hanya ramai di penghujung Ramadan, tetapi saat ini sudah ramai di awal Ramadan

Hal ini juga ditambah dengan pesta diskon dimana-mana.  Banyak di antara pengunjung sudah berbelanja un tuk kebutuhan Idul Fitri, sehingga kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan yang sering ditemui di pusat-pusat kota.

Baca Juga : Pemerintah Upayakan Pencarian 53 Awak Kapal Selam Nanggala 402

Bahkan bagi sebagian mereka, seolah tak masalah jika harus merogoh kocek dalam-dalam demi  me­muaskan perilaku konsumtif jelang lebaran. Bahkan tak sedikit yang akhirnya kehilangan rasionalitas; mengutang sana-sini, menggadaikan barang berharga, meminjam uang di bank berrente, semata-mata demi memenuhi “tradisi serba ada dan serba baru” di saat idul fitri.

Tak heran jika bagi kalangan produsen, saat-saat menjelang lebaran adalah masa-masa panen keuntungan, karena volume penjualan barang yang mereka produksi atau yang mereka jual, biasanya meningkat berkali-kali lipat.

Baca Juga : Mau Mudik Pakai Kendaraan Pribadi? Simak Dulu Syaratnya

Padahal, Islam sendiri telah mengatur bagaimana mengembangkan harta, sekaligus juga mengatur bagaimana cara membelanjakannya.  Islam telah menetapkan metode pembelanjaan harta sekaligus menentukan bagaimana tata  caranya.   Sistem Islam sangat  berbeda dengan sistem  kapitalisme-se­kulerisme yang diterapkan saat ini, yang mengagungkan kebebasan pemilikan dan berperilaku, menjadikan manfaat sebagai asasnya.

Dalam Islam, seorang pemilik harta tidak dibiarkan bebas mengelola dan membelanjakan harta, sekalipun harta itu secara hukum, sah merupakan miliknya.  Akan tetapi Islam mengaturnya dengan rinci.

Islam telah melarang seseorang bertindak israf atau tabzir ketika membelanjakan harta, sekaligus melarang seseorang bersikap kikir atau taqtir. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Furqan [25] : 67 :

Ajaran-ajaran seperti inilah yang hendaknya tetap jadi perhatian ummat. Nafsu mendapatkan sesuatu yang baru, hendaknya dituangkan kepada semangat baru dalam mengisi mental spiritual. (*)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]