Hidup Akan Hampa Tanpa Iman kepada Allah Yang Maha Esa


Selasa, 14 Juli 2015 - 19:32:25 WIB
Hidup Akan Hampa Tanpa Iman kepada Allah Yang Maha Esa

Ka­rena ternyata, yang membina kasih sayang akan disayangi oleh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang .., maka sayangilah sesama penduduk bumi agar menyayangi kamu pula apa yang ada dilangit. (HR.Abu Daud)

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Hari Raya Idul Fitri adalah hari perpaduan umat tanpa membedakan antara satu dan lainnya. Ber­him­punnya umat di pagi harinya disaksikan Allah Azza wa Jalla. Kaya dan miskin sama bersujud kepada Allah. Dan yang paling mulia disisi Allah ialah yang bertaqwa kepada­Nya.Dihari Raya Idul Fitri ini pula umat membuktikan betapa kuatnya tali sila­turahim dengan sikap seba­gai bukti tanda orang mut­taqin adalah maaf me­maaf­kan, sebagaimana Firman Allah “ .. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (har­tanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan ama­rahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran ayat  134).

Inilah hari Idul Fitri yang kita lakukan sebagai suatu ibadah rutin tiap tahun guna mencapai kemurnian jiwa dan diikuti zakat fitrah untuk fakir miskin, agar di­hari ini mereka ikut ber­gembira berhari raya, sesuai bim,bingan Rasulullah SAW “Kayakan mereka para dhu’afak yang larat melarat itu dari kehinaan meminta minta di hari raya ini.” Agar sama dapat merasakan nik­mat hari raya, dan tidak ada yang lapar lagi. Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Kita sekarang tengah bersyukur. Syukur karena puasa Ramadhan ditahun 1436 H ini dapat kita ker­jakan dengan baik dan aman sentosa, ti­dak seperti di­da­erah lainnya yang masih ter­tindas dan tertekan se­perti Palestina, Rohingya dan sebagainya. Walau ada dan ba­gai­manapun masa ini diantara kita mengeluh ka­rena ekonomi sulit dan ke­hidupan payah. Bahkan di­perparah oleh ber­tum­puk­nya musibah.

Pada 1 Syawal di tahun ini, Insyaallah, bagai ombak lautan beralun ber­ge­lom­bang, umat berduyun-duyun menuju tempat shalat hari raya Idul Fitri, berbaris khusyuk merendah diri ke­hadapan Allah Ta’ala. Hapus semua keangkuhan sama mengumandangkan seruan Allahu Akbar … Hanya DIA Allah Yang Maha Besar, DIA Yang Maha Kuasa, Ma­ha Agung. Maka yang paling utama di antara kamu adalah yang paling bertaqwa ke­padaNYA. Sungguhlah amat besar rahmat dan nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, wa lillahil hamd.

Baca Juga : Menpan-KPK Beda Pendapat soal Pegawai KPK, Febri: Ibarat Lomba Lempar Batu Sembunyi Tangan

Khusus kita di Sumatra Barat, akan ada kerja berat memilih pemimpin. Perlu dingat bahwa pemilihan pemimpin menurut Ijmak ulama telah menetapkan bahwa melantik pemerintah yang mampu melaksanakan tanggung-jawab dikalangan umat hukumnya adalah wa­jib. Kepimpinan bukan se­kadar perjanjian antara pe­mimpin dengan masyarakat, tetapi juga merupakan ikatan perjanjian antara pemimpin dengan Allah SWT. Pe­me­rintahan adalah satu amanah dan disyariatkan bagi me­lanjutkan tugas kenabian dalam memelihara agama dan mentadbir urusan dunia umat Islam. Maka Ke­pe­mimpinan itu mesti di­du­kung oleh keimanan kepada Allah SWT, cinta dan meng­hayati sunnah Rasulullah SAW serta berakhlak mulia di mana ianya mampu me­nga­dakan hubungan yang baik dan harmoni dengan semua peringkat ma­sya­ra­kat. Kita dapat belajar ke­pimpinan kepada Khalifah Umar al- Khattab RA yang boleh dijadikan contoh ka­rena beliau adalah seorang pemimpin yang sangat disa­yangi oleh rakyatnya atas perhatian dan tang­gung­jawabnya yang luar biasa terhadap rakyat.

Sesungguhnya pemim­pin yang kehendaki ialah mereka yang tinggi budi pekerti dan akhlak yang merangkumi ciri takwa dan warak, mereka ini seorang yang sentiasa bercakap be­nar, amanah, bersih diri dari perkara haram dan mera­gukan, sentiasa tenang da­lam keadaan biasa dan ma­rah, kualitas maruahnya tampak dalam semua uru­san agama dan dunia. Me­nyeru seluruh umat Islam sekalian ber­sama-sama me­laksanakan tanggung jawab kita demi agama, bangsa dan negara dengan memilih pemimpin yang benar-benar beretika, bertindak selaras dengan apa yang dikata atau yang di­janjikan, bertang­gungjawab menjaga ke­baji­kan dan kese­jahteraan rak­yat yang di­pimpin di dunia dan di akhi­rat. Me­ng­khia­nati amanah kepimpinan adalah satu dosa besar yang akan menerima hukuman Allah di akhirat nanti.

Baca Juga : Awas! Larangan Mudik Berlaku, Ini Sanksi Bagi ASN Jika Tetap Nekat

Keunggulan Mukmin itu ada pada teguhnya iman. Islam tidak bangga dengan banyak bilangan tidak ber­kualitas. Rasulullah ber­sabda ; “Menyeru kepadamu musuh laksana serbuan se­mut lelatu memakan kayu mumuk. Lalu orang ber­tanya; Apakah ka­rena kita sedikit pada waktu itu, Ya Ra­su­lullah? Be­liau men­ja­wab; “Bahkan kamu pada wa­k­tu itu banyak sekali, tetapi laksana buihnya air bah waktu banjir saja. Telah di­cabut oleh Allah Ta’ala dari hati musuh-mu­suh kamu “rasa segan” kepada kamu dan kamu kian lama kian lemah. Lalu mereka ber­tanya lagi; “Apa­kah pe­nye­bab kami jadi lemah, Ya Rasulullah?” Be­liau men­jawab; “Karena cintamu telah lekat kepada dunia dan kamupun menjadi takut akan mati”. (HR.Imam Ah­mad).

Demikianlah keadaan kita kini. Bilangan kita ba­nyak. Nilai tidak ada. Kita telah kehilangan agama dan kita pun telah ke­hi­langan budi. Inilah yang menjadi penyebab utama datangnya bencana meng­hampiri kita semua.

Islam adalah agama yang mewajibkan kita beramar ma’ruf bernahyi munkar. Mewajibkan kita menyeru dan mengajak berbuat yang baik. Melarang dari berbuat jahat. Dasar hidup muslim adalah Tauhid. Me­nye­rah­kan segenap kepercayaan kepada Allah Azza wa Jalla. Kepercayaan ini me­nem­patkan takut hanyalah ke­pada Dia. Sehingga terasa tanggung jawab besar dalam menegakkan kebenaran dan menolak segala perbuatan munkar. “Barangsiapa dian­tara kamu ada melihat se­sua­tu perbuatan yang mun­kar, hendaklah tegur dengan tangannya. Jika tidak sang­gup menegur dengan tangan, hendaklah tegur dengan li­dah­nya dan jika tidak sang­gup pula menegur dengan lidah, hendaklah dengan hati. Tetapi dengan hati itu adalah yang selemah lemah iman.”.

Inilah yang terjadi. Hi­lang keberanian menegur dan menyatakan suatu per­buatan itu salah. Kalimat Tauhid tidak berdaulat lagi dalam hati. Bahkan umat muslimin yang jumlahnya banyak ma­kin terjauh dari nilai nilai Islam yang lu­hur.Maka tiada lain upaya yang tersisa adalah kembali “menegakkan Iman” dari diri dan keluarga serta ling­kungan agar ke­mulian Mus­lim tidak hilang dari negeri ini.

Allahu Akbar Wa Lilla­hil Hamd.

Ingatlah bahwa satu per­juangan selalu menempuh penderitaan. Tujuan tidak boleh berubah karena pen­deritaan. Percaya kepada Allah, adalah pangkal segala nur­ dan kekuatan. Firman Allah menyebutkan ; “ Allah semata pelindung bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pe­lindung-nya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Me­reka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS.­AlBa­qa­rah:257).

Dihari Idul Fitri yang mulia ini kita ucapkan Minal ‘Aidin wal Faizin yang te­rangkai dari kata ‘Aidin ada­lah bentuk pelaku Id. Dan Al Faizin adalah bentuk jamak dari Faiz yang berarti orang yang beruntung. Kita telah melalui Ramadhan yang penuh dengan rahmat Allah. Maghfirah Allah dan itqun minannar. Kita telah lalui Ramadhan dengan me­lak­sanakan puasa yang di­lan­dasi keimanan yang mur­­­ni dan ikhlas lillahi ta’ala. Untuk me­nyem­pur­nakan keimanan dan ke­matangan taqwa kita laku­kan puasa sebagai amalan ritual vertikal kita kepada Allah (Hablun Minallah). Kita sem­pu­ma­kan dengan melakukan amal horizontal kita sesama ma­nusia (Hablun Minannas). Mus­tahil keimanan dan ke­taq­waan dapat dicapai jika­lau urusan kita sesama ma­nusia belum beres dan hati masih dihinggapi berbagai pe­nyakit khizid.

Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

Orang bertauhid hidup terus, walaupun telah han­cur tulang belulangnya da­lam kubur. Sedangkan orang musyrik, berarti te­lah mati, walaupun tam­paknya dia berjalan ber­keliaran di te­ngah-tengah masyarakat.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

H MAS’OED ABIDIN
(Ulama)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]