Memperkuat Pasar Tradisional


Rabu, 22 Juli 2015 - 18:22:25 WIB
Memperkuat Pasar Tradisional

Pendapat dan saran Prof. Elfindri di atas perlu dilihat menggunakan dua sudut pan­­­­dang dalam melihat dan memahami pasar. Pertama pasar sebagai sebuah tempat (market place) dan yang kedua pasar sebagai sebuah sistem (market system). Pasar sebagai market place mengacu pada pasar yang selama ini dipahami oleh banyak orang, yaitu tempat dimana bertemu antara pe­da­gang dan pembeli (A place where buying and selling occurs). Kemudian, pasar sebagai market system, me­ngacu pada setiap proses yang sistematis yang me­mungkinkan banyak pelaku pasar untuk me­nawar dan ber­tanya: mem­bantu pe­nawar dan penjual be­r­in­teraksi dan membuat pe­na­waran (any sys­tematic process enabling many­ mar­ket pla­yers to bid and ask: helping bidders and sellers interact and make deals) (Mc­Con­nell & Brue, 2005).

Baca Juga : MA Batalkan SKB Tiga Menteri Soal Seragam Sekolah, KPI Kecewa

Dengan dua pendekatan di atas, pertama dalam per­s­pek­tif pasar sebagai sebuah ruang (market place), mo­dernisasi pasar penting dila­kukan untuk seluruh pasar tradisional. Dalam hal ini pasar tradisional harus ter­tata rapi, bersih, nyaman dan aman bagi pengunjung. Me­miliki fasilitas yang baik seperti tempat parkir, atau bahkan penyejuk ruangan. Pasar tradisional harus ter­hindar dari stereotype kotor, semraut, tidak rapi, kumal, becek dan kesan negatif lain­nya. Sejauh ini kondisi pasar tradisional di kota Padang, terutama Pasar Ra­ya tidak bebas stereotype negatif ini. Dalam hal ini, pasar perlu pembenahan dan penataan ruang seara mo­dern sehingga memberikan ke­san bersih, rapi, aman dan nyaman.

Pembenahan terhadap ruang pasar harus menjadi tanggung jawab pemerintah dan tidak boleh diserahkan ke­pada pihak swasta karena pasar merupakan hajat hi­dup orang banyak. Sebagai ruang hajat hidup orang banyak, pasar tidak boleh diprivatkan dengan me­lim­pahkan penataan dan pe­ngelolaannya kepada swasta. Pelimpahan pengelolaan kepada swasta hanya akan menjadikan pasar di­kooptasi oleh pemilik modal besar. Selain itu, pembenahan pa­sar merupakan kewajiban pemerintah dalam rangka pemenuhan hak-hak eko­nomi warga.

Baca Juga : Berapa Jumlah THR untuk Anak? Simak Panduan dari Psikolog Karina Istifarisny

Kedua, dalam perspektif pasar sebagai sistem (market ystem), modernisai pasar –semua barang memakai la­bel, standar harga yang jelas dan dicantumkan pada ke­masan barang- sama saja dengan menjadikan pasar tradisional menjadi pasar modern. Hal ini tentu saja ancaman bagi pedagang tra­disional dan sistem dagang orang minang. Sejauh ini, jamak diketahui semenjak pusat perbelanjaan modern pertama (Sarinah) mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1966-an dan diikuti oleh pusat per­be­lanjaan dan ritel-ritel lain, lalu bercokolnya pemodal kuat dalam sistem pasar modern dengan sistem ma­najemen terpusat, telah me­matikan banyak pasar tra­disional dengan pedagang bermodal kecil.

Pasar tradisional, ter­lepas dari kekurangannya tetap memiliki keunggulan. Keung­gulan pasar tra­disio­nal adalah pada sistem tawar menawar harga yang men­jadikan harga bersaing ketat antara satu pembeli dengan pembeli lainnya. Harga sa­ngat di­te­ntukan oleh kese­pakatan antara pedagang dan pem­beli dalam proses tawar menawar, bukan be­dasarkan keinginan penjual atau pem­beli semata.

Melalui sistem tawar menawar yang ketat antara penjual dan pembeli ruang interaksi yang lebih intensif akan terbangun antara pen­jual dan pembeli. Proses interaksi ini yang men­ja­dikan pasar tradisional me­miliki kekhasan dengan memanusiakan pengunjung dimana interaksi terjadi timbal balik antara manusia dengan manusia, tidak anta­ra manusia dengan (sistem) mesin pada perbelanjaan modern.

Sistem pasar tradisional sekaligus menjadi ruang be­lajar bagi penjual, teru­tama pembeli dalam proses nego­siasi. Proses tawar me­na­war yang alot menjadi labor prak­tek dalam latihan negosisasi. Meskipun tidak ada riset yang menunjukkan kepastiannya, namun ke­mampuan nego­sisasi orang Minang seti­daknya dapat dilihat dari proses tawar menawar. Ke­mam­puan ta­war menawar tersebut, sea­kan menjadi identitas dari cara berbelanja orang Mi­nang baik di Suma­tera Barat maupun di luar.

Selain keunggulan pada sistem tawar menawar, pasar tradisional mem­berikan ru­ang belajar yang luas bagi pe­dagang tanpa modal untuk menjadi pedagang. Di pasar tra­disional, sistem per­ka­deran untuk menjadi pe­dagang berjalan secara infor­mal melalui trans­formasi pengalaman dari pedagang senior kepada pedagang junior. Bebeda dengan pasar modern yang tidak mem­berikan ruang belajar kepa­da karyawan mereka untuk menjadi pedagang.

Jika pasar tradisional di Padang dimodernisasi de­ngan sistem modern layak­nya pusat perbelanjaan, di­pas­tikan pedagang dengan modal kecil akan tergusur dan jiwa dagang orang mi­nang tidak akan ber­kem­bang. Posisi mereka  akan digusur oleh pedagang pa­dat modal. Apalagi jika pe­ngelolaan pasar meli­bat­kan dan atau diserahkan pa­da swasta –sebagai pemodal.

Terkait dengan kekha­watiran pembeli akan ter­tipu degan harga, tidak perlu harus mengubah pasar tra­disional menjadi pasar mo­dern de­ngan mengacu pada sistem di pusat per­be­lan­jaan. Peme­rintah cukup me­lakukan pengawasan ter­hadap per­mainan harga. Pengawasan oleh pe­me­rin­tah bisa dila­kukan antara lain dengan memasang pa­pan daftar har­ga barang yang dijual di pasar tradisional dengan me­ngup­date harga barang yang dijual di pasar. ***

 

FIRDAUS
(Dosen Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]