Ada Skenario Pilkada Tertunda


Kamis, 23 Juli 2015 - 20:01:41 WIB

“Karena hanya be­rorien­tasi pada ke­me­nang­an, maka partai akan melihat elek­ta­bilitas calon. Dan ini selalu berubah-ubah,” terang Asrinal­di ketika dihubungi, Kamis (23/7).

Ia mengatakan, tentu apa yang dilakukan partai saat ini bukan hal yang ideal. Ideal­nya partai melihat calon dengan menilai kompetensi calon. Bukan melihat dari sisi kemenangan. Karena partai sendiri  memiliki andil dalam menciptakan pemimpin bangsa.

“Jika disiapkan dari aw­al, tentu visi Sumatera Barat menjadi lebih baik akan tercapai. Karena calon yang dipilih orang yang memang berjuang. Jika berjuang mau menang atau kalah, tidak jadi soal,” ucap Asrinaldi.

Tak hanya itu, Asrinaldi juga melihat, lahirnya aturan yang mengharuskan partai membuka pendaftaran me­m­buka celah bagi calon untuk mendaftar pada se­mua partai. Tak hanya itu, kondisi pasangan calon yang berubah-ubah ini juga di­aki­bat­kan putusan MK, yang mengharuskan anggota de­wan mundur saat pen­calo­nan. Ini menciutkan nyali para anggota dewan yang berniat maju.

Terkait dengan pe­mi­li­han gubernur Sumbar, As­ri­naldi melihat hingga saat ini kepastian masih didapat dari pasangan Irwan Pra­yitno-Nasrul Abit yang di­du­kung PKS dan Gerindra. Se­men­tara untuk dua pasang calon yang disebut-sebut, masih belum dipastikan. Ini di­se­bab­kan, Golkar di pusat yang belum menentukan sikap, dan adanya kekha­watiran dari Mulyadi ter­hadap pa­sangannya yang tidak bisa membawa ke­menangan.

“Dengan kondisi ini, ma­ka hanya satu pasang calon yang mendaftar ke KPU. Padahal sampai batas waktu tertentu, jika hanya satu pasang calon yang mendaftar, Pilkada diundur sam­pai tahun 2017. Ada skenario seperti ini saya lihat,” jelas Asrinaldi.

Hal ini berdasarkan pada Peraturan KPU Nomor 12 tahun 2015 sebagai perubahan atas PKPU 9 tahun 2015 tentang Pencalonan yang baru saja di­terbitkan pada 16 Juli 2015.

Pasal 89  ayat 1 dalam aturan tersebut berbunyi, dalam hal sampai dengan akhir masa pen­daftaran pasangan calon hanya terdapat 1 (satu) pasangan calon atau tidak ada pasangan calon yang mendaftar, KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Ka­bu­paten/Kota memperpanjang masa pendaftaran Pasangan Calon paling lama 3 (tiga) hari.

Selanjutnya, pada ayat 2 pasal 89 berbunyi, dalam hal sampai dengan berakhirnya perpanjangan masa pendaftaran hanya terdapat 1 (satu) Pasangan Calon atau tidak ada Pasangan Calon yang mendaftar sebagaimana di­mak­sud pada ayat (1), maka KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten/Kota mene­tap­kan keputusan penundaan se­lu­ruh tahapan dan Pemilihan di­seleng­garakan pada Pemilihan serentak berikutnya.

Asrinaldi menambahkan, jika skenario ini dijalankan, tidak akan berlaku ampuh. Mengingat Irwan sebagai bagian dari PKS, tentu memiliki pemikiran panjang jika Pilkada ini ditunda. Tentu PKS akan memperkuat diri dan calon yang akan diikutkan pada 2017 mendatang.

Syamsu Rahim Berkibar

Kejutan datang dari partai Golkar.  Untuk bursa cawagub, nama beken Syamsu Rahim yang sebelumnya sempat tenggelam, kembali muncul. Bupati Solok ini dalam dua hari terakhir kembali naik dan masuk radar dari partai Golkar Sumbar.

Partai Golkar  Sumbar,  setidaknya tetap optimis dan  ingin menunjukkan ko­mitmennya sebagai  suara rakyat dengan mengajukan kader terbaiknya Syamsu Rahim sebagai bakal calon gubernur/wakil gubernur Sumbar.

Kabar tentang Bupati Solok ini masuk dalam radar bakal calon Gubernur/wakil Gubernur sum­bar sudah diramalkan sejak awal karena menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Suasana ini di­benar­kan oleh Tim Seleksi  Pil­kada Golkar  Sumbar Yul­man  Hadi, pihaknya telah me­nga­jukan bakal calon kepala daerah yang diusung Partai Gol­kar ke Jakarta. “ Setelah melihat  hasil survei dan perkembangan  mayoritas kader terhadap calon,  kita mengusung nama yang ber­po­tensi menang dalam Pilgub mendatang,” kata Yulman Hadi ketika di konfirmasi Haluan melalui telepon se­luler­nya, Selasa (21/7).

Daerah Galau

Nasib serupa kemungkinan juga akan terjadi di Agam. Koalisi Gerindra-PKS menjalar hingga ke daerah ini dengan mengusung Indra Catri-Trinda Farhan Satria. Namun, hingga berita ini di­turun­kan, baru satu pasangan tersebut yang siap melenggang ke arena pendaftaran calon bupati/wakil bupati menyusul putusan MK yang mewajibkan anggota legis­latif  mengundurkan diri dari jabatan, apabila mencalon pada Pilkada

Padahal, sebelumnya sejuml­ah legislator dikabarkan siap menghadang petahana, seperti Guspardi Gaus, Marga Indra dan lainnya.  Bagaimana dengan  In­cum­ben lain, Irwan Fikri. Politisi PPP itu  belum diketahui dengan  siapa ia berpasangan. Mantan anggota DPRD Padang itu di­per­kirakan akan  diusung PAN yang memiliki sebanyak enam kursi dan butuhkan lebih kurang tiga kursi lagi. Sementara dua ken­dara­an yang bisa melenggang lain­nya, seperti Demokrat, dan koalisi Partai Golkar dan PBB belum memiliki langkah yang jelas.

Kegamangan juga tergambar di Kabupaten Solok. Jika incum­bent Desra-Bachtul sudah siap meluncur ke KPU untuk men­dapat, dua pasang calon yang digadang-gadang akan menyaingi pasangan besutan Nasdem-PAN itu masih meraba-raba pen­dam­ping, serta partai pengusung.

Kendati Desra merupakan ke­tua DPD Partai Golkar Ka­bu­paten Solok, namun untuk maju pada Pilkada mendatang paslon ini hampir dipastikan akan di­usu­ng oleh partai Nasdem dan PAN. “Untuk saat ini kita telah men­dapatkan rekomendasi dari Nas­dem dan PAN. Sementara untuk Golkar kita masih menunggu hasil dari kesepakatan DPP,” kata Bac­htul menjawab Haluan via telephon genggamnya Kamis (23/7).

Sementara PAN, kendati surat keputusan dari ketum DPP PAN belum keluar, namun dari hasil tim seleksi DPP PAN telah mere­ko­mendasikan kedua Paslon ini untuk diusung oleh partai ber­lambang matahari terbit itu, jelas ketua DPD PAN Gusrial Abbas.

Bagaimana dengan daerah lain? Di Sijunjung bakal calon bupati dari jalur partai politik yang akan mengikuti Pilkada diprediksi bakal sengit dan kini mulai mengerucut ke tiga nama.

Dari informasi yang diperoleh keempat nama tersebut yakni Koalisi PDI-P, Golkar dan Nas­dem Yuswir Arifin/Arrival boy, Koalisi PPP-PAN-demokrat As­hel­fine/H Alpian Kasir, koalisi Hanura-PKS yaitu Marlis dan Hendri Susanto. Sementara itu, dari informasi berbagai sumber incumbent Muchlis Anwar masih gantung karena belum mem­peroleh dukungan dari parpol.

Lalu, di Kota Wisata Bukit­tinggi, nama Ismet Amziz di­ka­barkan akan berpasangan dengan Zulbahri MPd, mantan anggota DPD RI 2009-2014, Dapil Riau. Sebelumnya, Walikota petahana ini dikabarkan intens ber­ko­mu­ni­kasi dengan aktifis LSM se­tem­pat, Young Happy serta Ketua DPW PKB Sumbar, H Febby Dt Bangsu.

Sayangnya, pesaing Ismet yang juga Wakil Walikota-nya saat ini, Harma Zaldi belum men­dapat­kan kepastian, siapa yang akan mendampinginya. Jika pasangan pesaing ini tidak terpenuhi, Ismet-Zulbahri diprediksi bakal tetap bertarung karena Bukittinggi sudah memiliki calon pe­rorang­an, yakni Ramlan-Irwandi.

Padang Pariaman kabarnya juga demikian. Calon kepala daerah yang akan bertarung sudah di­pastikan lebih dari satu, dan Pil­kada bisa dilaksanakan 9 De­sem­ber 2015. Di daerah sala Lauak itu, diperkirakan akan terjadi head to head karena yang akan bertarung adalah Bupati Ali Mukhni dan Wakil Bupati, Damsuar.

Menurut informasi, ada tujuh partai yang telah  mengusung Ali Mukhni. Yakni, Partai Nasdem, Hanura, PKPI, Gerindra, PAN,  PPP, PKS . Topik Hidayat, salah seorang petinggi Gerindra Pa­dang Pariaman membenarkan hal itu. Sementara itu Partai Golkar dan PKB dikabarkan juga akan merapat pada Ali Mukhni.

Damsuar sendiri akan me­ng­gan­ding calon wakil Yobana Sa­mial dengan dukungan dari PDIP-Demokrat. Pasangan kedua untuk PIlkada Padang Pariaman, akan diusung oleh koalisi PDI-P de­ngan Partai Demokrat.  Kedua partai ini memiliki 8 kursi di DPRD Padang Pariaman atau 20 % sesuai amanat UU Pilkada untuk pencalonan. Pasangan ini dikabarkan akan mengusung Damsuar sebagai calon Bupati dan Yobana Samial sebagai Calon Wakil Bupatinya.

Ketua DPC PDI Perjuangan Padang Pariaman Salman Har­dani kepada wartawan,  me­nga­kui koalisi kedua partai yang memiliki delapan kursi DPRD itu cukup untuk mengusung ca­lon. “Sesuai peraturan, 20 persen kursi DPRD itu terdiri dari delapan kursi. PDI Perjuangan dan Demokrat punya kursi ma­sing-masing empat,” kata dia.

Di Solok Selatan, dari se­jum­lah nama yang mencuat ke pe­r­mu­ka­an sejak pertengahan 2014 hingga mendekati proses pen­daf­taran ke KPU, hanya tiga pasang bakal calon kepala daerah (Ba­ca­kada) yang dipastikan maju pada Pilkada Solok Selatan (Solsel). Hal ini diakibatkan sejumlah partai pendukung calon ber­ga­bung mendukung salah satu pa­sangan calon.

Tiga pasang Bacakada ter­sebut adalah Muzni Zakaria (Ketua DPC Gerindra Solsel) berpasangan dengan Abdul Rah­man (Ketua DPD PAN Solsel), Khairunas (Ketua DPD Golkar Solsel) berpasangan dengan Edi Susanto, Boy Iswarmen (inde­penden) berpasangan dengan Fachril Murad.

Abdul Rahman yang di­hu­bungi pada Kamis (23/7) men­yampaikan, pihaknya akan men­daftar ke KPU pada Minggu (26/7). Pihaknya sengaja mendaftar di hari pertama pendaftaran di KPU dibuka, karena semua persiapan dan administrasi sudah lengkap.

“Kalau semua persiapan su­dah lengkap, buat apa ditunda untuk mendaftar,” ujar. (h/eni/yat/ndi/wan/ded/dib)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]