Mimpi Rosela


Jumat, 24 Juli 2015 - 16:54:00 WIB
Mimpi Rosela

Di bulan-bulan pertama se­telah kematian nenek, Rosela sering didatangi nenek dalam mimpi, dengan rupa yang mena­kutkan. Nenek pernah muncul sebagai orang gila bertelanjang yang memburu Rosela hanya gara-gara mesin penanak nasi yang kosong. Rosela ketakutan se­tengah mati ketika langkahnya kian tak bisa dipercepat dan nenek yang kelaparan hampir saja me­nangkapnya. Banyak orang-orang yang melihat, tapi tak ada yang membantu menghentikan nenek. Mereka seolah tak mendengar jeritan minta tolong yang memang Rosela pun tak mendengar suara­nya sendiri. Nenek terus saja mengejar Rosela sambil teriak-teriak:

Baca Juga : Aurel Hermansyah Ngidam Makan Steak Daging Sapi yang Harganya Jutaan Rupiah

“Lari kemana kau, setan kecil?”

Rosela tersentak dengan napas yang masih tersengal-se­ngal. Tu­buhnya yang gigil, saat bangun, basah bermandikan ke­ringat. Sejenak kemudian, ia pun me­nangis akibat rasa takut yang masih terasa kuat mencekamnya. Bila sudah begitu, Rosela akan segera berlari ke kamar mama untuk meminta pelukan dan ketenangan dan ia hanya akan berkata baru saja bermimpi buruk.

Baca Juga : Wah! Ustaz Jefri Al Buchori Ternyata Punya 3 Istri, Salah Satunya Artis

Dua tahun usai itu, nenek datang lagi. Kini sebagai orang asing yang tak mengenal Rosela. Nenek sedang menjemurkan pa­kaian dalam di tengah siang yang menyengat. Ada yang aneh pada nenek, semua jemurannya hanya berupa celana dalam dan kutang saja. Rosela ingin bertanya kenapa yang nenek jemurkan semuanya cuma pakaian dalam? Tapi ia urungkan, sebab melihat wajah nenek yang tampak tak bersahabat padanya. Sekalipun itu di dalam mimpi, Rosela masih sama ta­kutnya dengan di kenyataan.

Semua mimpi itu akhirnya Rosela pun ceritakan pada mama, setelah merasa benar-benar ter­ganggu dengan kehadiran nenek di dalam mimpinya. Rosela ber­harap mama memberikan tang­gapan yang buruk terhadap nenek, lalu mengakhiri dengan rasa syukur, sebab ternyata memang tak ada yang pernah mendapatkan mimpi indah dengan nenek se­telah ia mati.

Dua hari sepeninggalnya ne­nek, Bu Rusdi—tetangga di depan rumah—pernah bermimpi kalau nenek menggelar helatan besar dengan hidangan daging anjing dan ular. Dan hidangan itu diha­biskan nenek sendirian. Rosela tahu ketika ia menguping pem­bicaraan mama dan Bu Rusdi dari balik pintu kamarnya. Seminggu setelah itu, Tante Ina—anak Ka­kek Kaman di seberang rumah nenek—juga bermimpi nenek meraung-raung tanpa baju di halaman rumahnya, di dekat pohon rambutan yang saat malam biasa jadi sasaran camilan segar Rosela jika nenek sudah sibuk mengaji di dalam kamarnya. Adapula yang mengaku pernah bermimpi dicekik nenek sampai ia berteriak-teriak sendiri saat tidur.

Begitu banyak pengaduan tetangga-tetangga lain perihal mimpi buruk tentang nenek yang tak semua mampu tertampung di ingatan Rosela. Yang jelas, Rosela ingin menambah nilai buruk nenek di mata mama dengan mimpi-mimpi buruk yang bahkan bertahun-tahun masih juga men­datanginya. Tapi, di luar dugaan, kini mama malah menyuruh Ro­sela untuk mendoakan nenek.

Empat tahun berlalu, ini per­tama kalinya Rosela melihat mama sama sekali tidak mem­benci nenek. Rosela juga tidak melihat kobaran merah yang kerap ia temukan di dalam mata mama kala mendengar nama nenek. Kata mama, itu pertanda nenek sedang kesusahan di alam­nya dan minta agar didoakan. “Kasihan nenek, tidak tenang di akhirat, sedang kita di sini hidup dengan tentram.”

“Syukurin!”

Tentu Rosela tak ingin men­doakan nenek. Malah ia semakin benci saja pada nenek. Sampai mati tetap saja mengganggu. Pi­kirnya.

“Nenek itu tak berubah se­kalipun sudah mati, tetap saja mengganggu hidup kita, Ma.”

“Tidak boleh bilang begitu. Nenek kan sudah tidak ada. Jadi kita ingat yang baik-baiknya saja”.

Rosela semakin merasa ada yang aneh dengan mama. Satu-satunya kebaikan nenek yang Rosela ingat sampai saat ini hanya dua buah rambutan mengkal yang nenek bagi pada Rosela ketika hampir semua dahan pohonnya merunduk oleh buah rambutan masak. Padahal nenek tinggal sendirian di rumahnya, tepat di sebelah rumah Rosela, usai pa­man berumahtangga, lalu pindah ke rumah isterinya. Mama tahu itu. Sebagai seorang nenek yang darahnya sedikit banyak mengalir di tubuh Rosela, itu belum dapat disebut sebuah kebaikan.

Meski tak tahu akan diapakan nenek semua rambutan-rambutan itu (entah dijual atau dihabiskan sendiri), diam-diam Rosela se­ring menyusup ke halaman rumah nenek dan mencuri sekantong rambutan yang berwarna merah. Besoknya, entah tahu dari mana, nenek langsung tepat sasaran mengomeli Rosela sambil se­sekali disumpahserapahi.

“Dasar anak pencuri! Kela­paran! Tak kurelakan yang kau makan itu, setan kecil!”

Nenek sejak dulu memang tidak suka memanggil nama Rosela, karena Rosela selalu mendengar nenek memanggilnya dengan sebutan “setan kecil”. Dulu, saat Rosela bersembunyi di dalam lemari kamar mama tiap kali nenek mengumpat-umpatinya dari teras rumah, dan kemudian dibalas mama dengan umpatan yang sama, Rosela belum me­ngerti apa arti panggilan itu. Yang Rosela tahu dari mama, itu nama yang tidak baik.

“Tidak perlu didengarkan apa yang dikatakan si tua itu. Rosela anak yang manis, jangan de­ngar­kan kata-kata kotor dari mulut iblis itu.” Jelas mama (selalu) waktu itu.

Sekali lagi, yang semakin membuat Rosela tak mengerti, mama masih meminta Rosela untuk mendoakan nenek. Setelah untuk yang kesekian kalinya Rosela bermimpi, dan kali ini nenek datang utuk membunuh mama, menggorok leher papa, kemudian membakar rumah. Mimpi paling tak termaafkan melebihi kenyataan yang nenek pernah berikan semasa hidupnya. Bahkan anyir darah mama dan papa yang kemudian bercampur dengan bau abu rumah, masih pekat tertinggal di penciuman Rosela. Tapi tetap saja, Rosela tak mengerti kenapa tiba-tiba mama bisa semudah itu memaafkan nenek. Setelah apa yang dila­kukan nenek, bahkan tak pantas untuk diziarahi mama makamnya meski setahun sekali. (Pada jad­wal ziarah bersama kemarin, untuk pertama kali mama pergi menziarahi kuburan nenek).

Nenek pernah melempari rumah dengan batu bata yang hampir mengenai mama. Nenek juga mengadu domba mama de­ngan sanak saudara, sehingga mereka semua membenci mama dan menghapus mama dari daftar keluarga. Nenek juga selalu mem­bunuh pohon pisang, kelapa, dan ubi jalar yang ditanami papa di belakang rumah. Bukan apa-apa, nenek hanya selalu tak pernah suka jika melihat mama bahagia.

Hingga tak aneh bila ketika itu, tak ada di dunia ini yang lebih membenci nenek dibanding ma­ma. Saking bencinya, mama selalu mengaku tak mengenal nenek tiap kali orang-orang bertanya, meski mereka sudah tahu mama adalah anak dari adik kandung nenek. Mama bahkan pernah berjanji sampai mati tak akan memaafkan nenek. Rosela selalu ingat itu.

***

Ini kali kedua, memasuki 5 tahun meninggalnya nenek. Ro­sela sudah tidak lagi menangis ketakutan bila terbangun dari tidur. Meski masih menangis, tapi kini air mata yang membasahi pipinya terasa hangat dan me­legakan.

Sudah dua kali dengan ini, Rosela mimpi aneh tentang n­e­nek. Nenek sekarang lebih suka mendatangi Rosela dengan wajah cantik, bersih, rapi, dan terse­nyum. Hangat sekali. Sehangat air mata yang kemudian enggan Rosela keringkan.

Nenek memeluk Rosela, men­dekap hangat, hingga untuk pertama kalinya Rosela mencium bau tubuh nenek. Aroma bedak beras yang sering nenek pakai sehari-hari bercampur dengan lembutnya kulit lunak nenek yang dibaluti daster batik agak tipis. Alih-alih memberontak, Rosela malah tenggelam di pelukan nenek. Pelukan yang begitu nya­man dan hangat dirasakan Rosela. Hingga sempat terbesit di hatinya, bahwa ia tidak lagi membenci nenek. Seketika ia jatuh terisak.

“Kenapa menangis?” Bisik nenek lembut di telinga Rosela.

“Rosela rindu nenek.” Kata-kata itu begitu saja terlepas dari bibirnya.

“Nenek juga rindu pada Ro­sela. Sangat rindu.”

Rosela makin mengen­cang­kan pelukan, ketika ia terbangun, dan mendapati wajahnya basah berpeluh air mata. Tangannya tanpa sadar mengalung tubuhnya sendiri, tapi tak ada siapa-siapa dalam peluknya. Rosela kembali teringat nenek dan menangis, entah kenapa ia merasa sangat menyayangi nenek. Sayang yang tak pernah menyapa rasanya di waktu-waktu dulu—saat darah diubah nenek menjadi air limbah, kotor, dan tercemari.

Dengan sedan yang masih tersisa, Rosela mendatangi kamar mama. Seperti biasa, ia akan selalu menemui mama bila ber­mimpi apa pun yang membuat ia menangis saat terbangun. Rosela tahu, pintu kamar mama dan papanya memang tak pernah dikunci, sebab mengetahui ke­biasaannya yang tak akan bisa tidur usai bermimpi jika tidak ditemani.

Meski sedikit enggan, Rosela harus menceritakan kedua mimpi anehnya itu pada mama. Setidaknya, mama akan mem­berinya jawaban kenapa nenek tiba-tiba muncul dengan rupa cantik dan sangat baik meski tak sepotong doa pun yang pernah Rosela kirimkan selama ini.

Rosela dengan hati-hati mem­buka pintu kamar mama sambil masih tersedan. Di tempat tidur, dilihatnya mama tengah menangis tertunduk sambil mengalungkan tangan di tubuhnya.  Tak ada siapa-siapa dalam dekapan mama, persis seperti saat Rosela bermimpi dipeluk nenek, begitu nyaman, begitu sayang, hingga membuat Rosela merasa satu pelukan itu telah menghapus semua kesalahan nenek selama ini.

“Mungkinkah Mama juga....”

***

 

Oleh:
TIARA SARI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]