Ekonomi Lesu Pengaruhi Omzet


Jumat, 24 Juli 2015 - 16:58:33 WIB
Ekonomi Lesu Pengaruhi Omzet

“Pandai menjahit se­men­jak usia SMP, sekitar tahun 1980. Kepandaian itu diperoleh  hanya dengan belajar otodidak, melihat dan memperhatikan cara kerja para pengrajin sulaman di daerah Naras ini,” ujar Suryati saat disambangi Ha­luan.

Baca Juga : Kabar Baik! Jaringan di Wilayah Sumatera akan Ditingkatkan Selama Ramadan

Namun yang paling uta­ma, katanya, adalah keingi­nan dan kemauan diri sen­diri untuk menjadikan usaha sulaman ini sebagai sumber penghasilan. Karena tak dapat dipungkiri, usaha su­laman ini memiliki nilai ekonomis yang cukup men­janjikan. Sulaman yang diha­silkan dikerjakan dengan tangan secara telaten. Ha­silnya tentu saja tidak sama dengan sulaman yang diker­jakan dengan mesin atau secara modern.

Adapun  spesifikasi ilmu yang dimiliki dalam me­nyulam seperti, melukis, mengerti cara gunting dan membagi ukuran kain yang akan digunting. Selain me­nyulam, usaha sulaman Dua Sejoli juga menjual dan menyewakan peralatan pesta dan pengantin.

Baca Juga : Maksimalkan Pengalaman Aktivitas Digital di Momen Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah

“Kita juga menyediakan pelaminan dan juga menjualnya, termasuk baju penganten, pakaian adat dan baju tari,” katanya.

Sedangkan soal harga, lanjutnya, tergantung model dan ukiran baju penganten yang dipesan. Seperti dasar beludru 1 stel sekitar Rp2 juta, sedangkan bahan saten sekitar Rp1,5 juta.

Baca Juga : Resep Kolak Pisang Tanpa Santan, Cocok untuk Berbuka Puasa

Selanjutnya, untuk baju tari murid TK satu stel untuk dasar beludru dibandrol Rp500.000, bahan saten Rp200.000. Baju tari murid SMP dengan bahan dasar beludru Rp600.000, dan bahan saten Rp300.000 de­ngan dasar ukiran minang terbaru.

Suryati juga mengatakan, jika secara spesifik untuk sulaman benang emas yang dikerjakan melalui tangan pengrajin tanpa bantuan mesin jahit/bordir, maka harganya lebih mahal. Se­perti pelaminan ukuran se­dang dihargai berkisar Rp50 juta, ukuran menengah Rp­75 juta dan pelaminan uku­ran besar mencapai Rp100 juta.

Baca Juga : Intip 5 Trik Kurangi Asupan Karbohidrat

Sedangkan baju pe­ngan­ten yang dikerjakan dengan sulaman tangan, satu stel dibandrol seharga Rp3,5 juta. Dua sejoli juga menjual sunting dari harga Rp­250.000-Rp3 juta, ter­gantung bahan dasar nya dari konengan atau plastik.

Untuk menenuhi pesa­nan pelanggan, Dua Sejoli dibantu oleh 15 orang kar­yawan tukang jahit. Se­lain itu, untuk bagian las tenda dikerjakan oleh 4 orang dan untuk ukiran 3 orang.

Namun sepertinya tahun ini, Suryati kurang ber­un­tung. Karena jelang Lebaran 2015, omsetnya berkurang dibanding tahun sebe­lum­nya. Penurunan omzet itu mencapai 50 persen.

“Tahun ini, produk yang banyak terjual hanya pa­kaian pengantin, karena pada umumnya setelah hari raya, banyak yang akan me­langsungkan pesta perni­kahan. Kemudian pakaian tari dan anak TK, persiapan menyambut 17 Agsutus, sedangkan pelaminan tidak ada yang terjual. Diprediksi turun hingga 50 persen,” ulas Suryati.

Menurut Suryati, tu­runnya peminat usaha sewa pelaminan untuk mem­beli barang dikarenakan sulitnya situasi ekonomi dewasa ini, sehingga pa­sarnya menjadi terbatas. Selain itu kompetitor de­ngan usaha serupa menjual peralatan pelaminan juga mulai menjamur.

“Biasanya pada tahun kemarin, penjualan pada bulan Ramadan bisa men­capai Rp 30 juta/minggu. Sekarang transaksi kami di bawah Rp20 juta/minggu. Pemasarannya pun terbatas, hanya untuk daerah itu saja,” ungkapnya sedih.

Dalam menjalankan usa­hanya, Suryati lakukan se­cara mandiri. Karena sang suami yang berprofesi se­bagai PNS tak mungkin membantunya setiap saat. Namun dia patut bersyukur, dari usahanya itu dia berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan 2 orang diantara anaknya merupakan pener­bang angkatan udara. (h/***)

 

Oleh:
WARMAN

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]