Salin Pelajaran di Kertas Rokok


Jumat, 24 Juli 2015 - 17:03:27 WIB
Salin Pelajaran di Kertas Rokok

Ketika belajar petatah petitih ini, ia menyalin pe­lajaran berupa naskah dalam bentuk paragraf per paragraf pada kertas rokok. Inilah yang membuat Mak Katik memiliki ribuan kosa kata dalam bahasa Minang.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

“Dalam membuat nas­kah randai, Mak Katik sa­ngat teliti. Semua kata-ka­tanya Minang asli. Tidak ada kata-kata kiri dan kanan, yang ada suok dan kida. Tidak ada merah yang ada sirah,” katanya.

Di tahun 1967 Mak Ka­tik berangkat merantau ke Padang. Dan memulai hi­dupnya di percetakan. Suatu ketika Mak Katik mengikuti kegiatan randai dan ini mem­bawanya kem­bali te­ringat masa lalu. Mulai saat itu Mak Katik tekun me­menuhi undangan bersama grupnya dimana saja hingga pertemuannya dengan Ha­san Basri Durin.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Pertemuan itu meng­hasilkan kelompok randai Talago Gunuang di Padang. Mak Katik langsung sebagai pelatih. Pemainnya orang Cina dan Nias. Randai ter­sebut sempat terkenal dan ber­tahan lebih kurang de­lapan tahun. Kini, sekitar 52 kelompok randai di Kota Padang, Mak Katik salah seorang pembinanya. Tidak hanya di Padang, pada ham­pir seluruh daerah di Su­matera Barat, Mak Katik terlibat sebagai pelatih atau pembina.

Pergumulan Mak Katik secara rutin dengan randai sudah sejak berpuluh-puluh  tahun lalu. Tak heran ia dipanggil Tuo Randai, pang­gilan kehormatan dalam sistem kebudayaan Minang yang sejajar dengan sebutan guru besar atau pakar dalam sistem pendidikan Indo­nesia. Bedanya, seorang yang dianggap Tuo Randai tidak hanya sekadar ahli dan sangat menguasai, tetapi juga sekaligus pelestari.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

“Untuk mengurus ran­dai sampai tahun 1986, su­dah satu mobil dan satu sepeda motor yang diha­biskan. Tak ada pamrih. Melatih randai, silat, dan saluang, tidak untuk men­cari makan, tetapi me­ngem­bangkan kesenian tra­disi dan menjalin tali sila­turah­mi. Sudah seluruh pelo­sok daerah di Sumatra Barat dikunjungi untuk mema­jukan kesenian randai. Sam­pai sekarang tali silaturahmi dengan masyarakat tempat randai itu hidup dan ber­kembang, tetap jalan,” pa­parnya.

Berkawan dengan Cina

Baca Juga : Perang Inovasi dalam Era Disrupsi

Pada era tahun 70an me­masuki kawasan pecinaan di Pondok merupakan hal yang tak lazim di masa tersebut bagi orang Minangkabau. Ada jarak yang membuat orang Minang masih belum bisa bergabung dengan pe­ci­naan, termasuk menempuh pendidikan di sekolah yang didominasi Cina.  Hal ini juga membuat pusing kepala Walikota Padang Hasan Bas­ri Durin pada waktu itu.

Suatu hari dalam diskusi pagi dengan mengundang budayawan dan seniman wa­likota menyampaikan ke­ingi­nannya untuk me­nyatukan orang Minang de­ngan suku bangsa Cina dan Nias yang berada di Padang. Hadir dalam diskusi ter­sebut Musra Dahrizal Katik Ra­jo Mang­kuto atau di­kenal Mak Katik. Melalui Mak Katik ini, saat ini kita bisa menemukan orang Mi­nang bisa ber­sekolah di Don Bosco dan beraktivitas di kampung pe­cinaan. Apa yang mem­buat hal itu terjadi?

Secara ringkas Mak Ka­tik menceritakan, melalui ke­senian tradisi dirinya meng­gabungkan kedua ke­bu­dayaan tersebut. Mak Katik membuat Randai yang dimainkan oleh orang Nias dan Cina. Sejak itu, jadilah orang Minang sangat akrab dengan orang Cina. Se­ka­rang kita masih bisa me­nikmati hasilnya, dimana kesenian Cina tidak bisa dinikmati di kawasan Pon­dok saja, tapi sudah ber­gerak ke luar dari kawasan Pondok.

Tidak hanya berhasil menyatukan antara Minang dan Cina, sejak kejadian itu nama Mak Katik mulai di­kenal. Mak Katik sudah di­undang menjadi juri kesana kemari untuk randai, pidato adat dan saluang yang sudah menjadi makanan Mak Ka­tik sehari-harinya. Ini juga menjadi awal perkenalan Mak Katik dengan dunia luar.

Siapa sangka, pria yang hanya menamatkan kelas VI SD tanpa ijazah ini sudah menjadi dosen tamu di Uni­versity of Hawaii, Manoa, Amerika Serikat. Menurut catatan Dewan Kesenian Sumatra Barat, saat Mak Katik jadi dosen tamu di University of Hawaii, Ma­noa, AS itulah, kali pertama kesenian randai tampil dan jadi bahan studi di luar negeri. Ini terjadi pada tahun 1999.

“Pertemuan saya dengan peneliti Kirstin Panka ini ketika dia datang ke Sumbar. Awalnya dia tidak tahu saya ini siapa. Tapi lima belas hari jelang kepulangannya, ba­rulah Kirstin menyadari saya orang yang dicarinya selama ini. Kami bercerita tentang silek, randai dan lainnya. Kirstin terkagum-kagum dengan uraian saya tentang silek dan pada 1999 dia mengundang saya men­jadi dosen tamu selama 6,5 bulan,” kisah pria kelahiran Batipuah, 18 Agustus 1950 ini.

Tidak sampai disana, pada 2011 lalu, kembali Mak Katik diundang  ke Eropa Timur bersama tim lainnya untuk mem­per­ke­nalkan kebudayaan In­do­nesia pada umumnya dan Minang khususnya. Pe­ran Mak Katik dalam mem­per­kenalkan budaya Minang ini telah menjadikan randai masuk dalam kurikulum di University of Hawaii dalam mata kuliah ASEAN studies. ***

 

Laporan :
RAHMADHANI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]