Kejaksaan Usut kasus Korupsi Videotron


Ahad, 26 Juli 2015 - 18:39:59 WIB

“Hingga saat ini kita belum ada menerima la­poran terkait hal itu. Saya baru bertugas disini,” ujar ujar Luki biasa dia dipanggil saat dihubungi Haluan Riau melalui sambungan telepon.

Meski begitu, Luki me­nyaran­kan agar masyarakat melaporkan hal tersebut ke pihak Kejaksaan. “Jika m­a­sya­rakat menemukan ada­nya indikasi dugaan tindak pidana korupsi dalam ke­giatan tersebut, silahkan sam­paikan laporan pe­nga­duannya ke pihak kejaksaan. Kita akan pelajari,” pungkas mantan Kasi Intel Kejari Dumai tersebut.

Terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Ke­jak­saan Tinggi Riau, Mukh­zan, juga menegaskan hal yang sama. “Silahkan lapor­kan ke kita. Akan kita pela­jari dan dalami. Kalau dite­mukan adanya indikasi pida­na, tentu akan kita ting­katkan status perkaranya,” tegas Mukhzan.

Sebelumnya, Badan Pe­kerja Nasional - Indonesian Corruption Investigation (BPN-ICI) Provinsi Riau, menyebutkan kalau proyek pengadaan Videotron atau reklame digital dengan vi­sual gambar bergerak yang berada di lapangan Tugu Jalan Jenderal Sudirman Kabupaten Bengkalis, yang dianggarkan tahun 2014 lalu oleh Bagian Humas Peme­rintah Kabupaten Bengkalis senilai lebih dari Rp1,5 Milyar, diduga kuat sarat penyimpangan.

Proyek pengadaan yang dikerjakan oleh CV Karya Pratama Lestari itu, diduga kuat tak sesuai spesifikasi sesuai yang tertera di dalam dokumen pelelangan dan diindikasikan terjadinya peng­gelembungan atau mark up harga dalam proyek pe­nga­daan Videotron itu.

“Dari temuan kita, bah­wa proyek tersebut tak se­suai spesifikasi diantaranya adalah Gride yang di­ker­jakan ternyata Gride Chai­ne,” Darwis, Ketua BPN-ICI, akhir pekan lalu.

Padahal, terang Darwis, dalam dokumen lelang pro­yek itu, seharusnya meng­gunakan Gride Korea. “S­e­men­tara fakta di lapangan yang kita temui, Gride yang digunakan adalah Gride Chaine dengan harga yang jauh lebih murah,” lanjutnya.

Diterangkan Darwis, har­ga Videotron Gride Chaine senilai 1300 Dollar Amerika (USD) per meter kuadrat (M2), dan ukuran Videotron yakni 3 meter dikali 6 meter, jadi selebar 18 M2.

Jika dikonversi dalam mata uang rupiah, dimana 1 USD senilai Rp13.200, ma­ka, hitungan nilai per me­ternya adalah 1300 USD dikali Rp13.200. Hasilnya, harga satuannya adalah Rp17.160.000 per meter. Dengan total lebar Videotron sebesar 18 meter, jika di­kalikan dengan harga satuan Rp17.160.000 per meter, maka diperoleh harga total sebesar Rp308.880.000.

“Harga tersebut belum termasuk Pajak Daerah se­besar 12,5 persen serta biaya pemasangan. Diperkirakan, nilai total pengadaan Video­t­ron itu hanya berkisar Rp700 Juta. Sementara, dalam lelang pengadaannya, dianggarkan sebesar Rp1,5 miliar lebih. Angka ini cukup besar se­lisihnya dengan perkiraan hitungan riil,” tukas Darwis.

Pengadaan ini, lanjut Darwis, bertentangan de­ngan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 70 tentang Pengadaan Barang dan Jasa milik pemerintah. Dimana, untung dari rekanan tak bisa melebihi dari 20 persen dari nilai anggaran.

“Artinya, kalau kita hi­tung siap pasang Videotron Gride Chaine dengan harga tak melebihi dari Rp700 Juta. Ini artinya ada indikasi terjadi mark-up sekitar 30 persen dari anggaran yang ada,” tegas Darwis. (h/hr)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]