Kampanye Media Luar Ruang Memicu Antipati?


Ahad, 26 Juli 2015 - 19:17:00 WIB
Kampanye Media Luar Ruang Memicu Antipati?

Aktifitas kampanye di ruang publik dijadikan seba­gai panggung untuk me­nyam­paikan visi dan misi melalui jargon politik yang menonjolkan citra positif, janji-janji , bahkan klaim keberhasilan yang narsistik. Selain melalui media massa dan media sosial, penggu­naan media luar ruang masih jamak terjadi karena diang­gap lebih efisien dan mampu menjangkau berbagai lapi­san masyarakat. Kecen­de­rungan untuk menggunakan komu­nikasi luar ruang ma­sih ter­jadi menjelang Pilka­da seren­tak yang akan di­lang­­sungkan beberapa bulan ke depan.

Baca Juga : Pemerintah Putuskan WNI dari India Boleh Masuk Indonesia dengan Prokes Ketat, Karantina 14 Hari

Calon kepala daerah ber­lomba-lomba memajang ba­liho dan spanduk pada setiap momentum yang ada, ter­masuk menjelang Ra­madan dan hari raya sehinga tidak mengherankan jika baliho dan spanduk selalu diper­barui sesuai dengan mo­mentum yang ada.

Ruang publik yang stra­tegis seperti taman kota, trotoar, ruang terbuka hijau, tiang listrik, ratusan pohon di sepanjang jalan lintas sumatera, jalan lintas ka­bupaten, jalan lintas ke­camatan dan pelosok jorong di Sumatera Barat tidak luput dari baliho dan span­duk calon kepala daerah.

Baca Juga : MAKI: Apa Urusan Wakil Ketua DPR Kenalkan Penyidik KPK ke Walkot Tanjungbalai?

Dari baliho dan spanduk yang ada saat ini terlihat kesamaan dalam bentuk penggunaan citraan visual dengan pose yang sama dan penekanan pesan verbal me­lalui jargon-jargon politik yang menjual ke­mi­nang­kaba­uan, religiositas dan harapan untuk kemajuan daerah.

Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2013, sudah me­ngatur tentang pemasangan alat peraga kampanye, ter­masuk pembatasan iklan-iklan yang berada di luar ruangan. Jika ditelisik lebih lanjut, pemasangan baliho dan spanduk banyak yang tidak sesuai dengan keten­tuan yang ada.

Baca Juga : Tak Segera Reshuffle Kabinet, PKS: Tunjukkan Jokowi Lemah

Semangat calon kepala daerah yang menggebu-gebu untuk membangun citra po­sitifnya membuat tim sukses merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membuat ba­liho dan spanduk, namun mengabaikan hal-hal teknis seperti perizinan, jadwal kam­panye dan lokasi pa­ma­sa­ngan. Cara pe­ma­sa­ngan yang serampangan ten­tu saja ber­tolak belakang dengan esensi desain media luar ruang yang dirancang agar tampil mena­rik, artistik, informatif, dan komunikatif sehingga pesan-pesan politik bisa diterima.

Alih-alih berhasil me­nyampaikan pesan, pola kampanye melalui ko­mu­nikasi luar ruang yang dila­kukan secara serampangan cenderung menimbulkan efek psikologis bagi peng­guna ruang publik sehingga menimbulkan sikap antipati terhadap calon kepala da­erah. Jika ini terjadi, ma­sihkah media luar ruang dianggap efektif untuk mem­­­persuasi publik?

Baca Juga : 117 WN India Masuk ke RI Disebut Punya Izin Tinggal

Dinamika politik mo­dern dengan masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan dunia politik menuntut para calon kepala daerah  untuk menerapkan cara yang lebih efisien dan efektif dalam berkampanye untuk memenangkan per­saingan politik.

Sudah saatnya para calon kepala daerah mem­per­tim­bangkan pemilih rasional yang menjadikan informasi ten­tang calon kepala dae­rah­ sebagai ba­­­gi­an pen­ting da­lam me­­nen­tukan pilihan po­litiknya. Tim suk­ses ma­­­sing-masing calon kepala daerah sebaiknya men­cari me­dia alternatif untuk me­la­kukan kam­panye selain menggunakan media luar ruang yang dinilai telah memberikan ketidak­nya­ma­nan pengguna ruang publik.

Kampanye diharapkan bisa memberikan pendi­dikan politik bagi masya­rakat dengan melibatkan calon pemilih dalam inte­raksi melalui dialog lang­sung maupun melalui media sosial. Dengan adanya per­temuan dan dialog langsung itulah para pemilih dapat menilai karakter dan kela­yakan calon kepala daerah secara dekat.

Calon kepala daerah per­lu untuk bekerja dengan optimal dan baik pada fase sebelum ia mencalonkan dirinya dalam bentuk pr­ogram politik dan hasil kerja nyata bukan hanya melalui pajangan foto dan janji po­litik yang semu dan sulit untuk ditagih. Pembatasan penggunaan baliho dan span­duk hanya pada tempat stra­tegis seyogyanya dilakukan untuk ajang sosialisasi calon kepala daerah.

Untuk menentukan pili­han­ politik masyarakat, per­­­­­­lu dilakukan pe­nyam­paian pro­gram melalui pro­ses dia­log dan interaksi secara lang­sung maupun melalui media sosial. Jika proses men­citra­kan diri terus menerus dila­ku­kan me­lalui baliho dan span­duk secara massif dan se­­ram­pangan pada ruang publik, bukan tidak mung­kin hanya akan menjadi sampah visual dan bumerang yang be­­ru­jung pada sikap antipati ke­pada tokoh yang ada da­lam ba­liho dan span­duk tersebut. (*)

 

BUDHI AFRIZALDI
(Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNAND)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]