15 Bangunan Kelurahan Ikur Koto Dibongkar Pemilik


Senin, 27 Juli 2015 - 20:11:25 WIB

Pantauan di lapangan, sepanjang jalan setelah la­m­pu merah di Lubuk Mi­n­tu­run, sejumlah bangunan yang menjorok ke arah jalan rata-rata sudah di­bong­kar pemiliknya. Ba­ngu­nan kedai, rumah ma­k­an, bengkel dan lainnya sudah dibuka masing-ma­sing pemilik. Salah satunya di kedai milik Yusmardi, terlihat besi penyangga kedai dan kanopi sudah berhasil dibuka.

Dikatakan Yusmardi, dirinya telah membongkar bangunan miliknya sejak Sabtu (25/7) atas kesadaran sendiri. Diakuinya, jika nanti jalur dua Bypass se­lesai dibangun, akan di­ra­sa­kan dampak positifnya.

“Malu awak, awak ura­ng siko, jalan ko untuak awak juo. Untuak apo me­lawan (pemerintah,red), IMB lah jaleh mah. Nanti, anak kamanakan awak juo nan ka marasokannyo,” tuturnya.

Yusmardi mengatakan, dia telah mulai berdagang di lokasi itu sejak tahun 1995 dan sebenarnya ia mengaku kecewa, dulu da­na bantuan Bypass ini per­nah dikembalikan lagi ke pemerintah pusat.

Sementara Camat Koto Tangah melalui Lurah Koto Panjang Ikur Koto, Zul­padli menyebutkan, ber­dasar­kan rapat dan per­temuan dengan warga di Kantor Camat Koto Ta­ngah, pada umumnya pe­milik bangunan setuju un­tuk membongkar bangu­nan sendiri.

Setelah dilakukan pe­nge­cekan hingga kemarin, dari 15 bangunan yang ada sebanyak 13 bangunan te­lah dibongkar. Sedangkan dua bangunan lagi belum dibongkar, karena pengon­trak bangunan tersebut sedang tidak berada di tempat.

Zulpadli menyebutkan, pada dasarnya masyarakat di Kelurahan Koto Panjang Ikur Koto siap membantu dan menyukseskan jalur dua Bypass. Hal ini ter­lihat, di mana masyarakat mau bahu-membahu de­ngan kesadaran sendiri membongkar bangunan miliknya.

Warga Kuranji Belum Dibongkar

Sementara di kawasan Kecamatan Kuranji masih terlihat beberapa bangunan semi permanen yang ter­kena pembebasan jalur dua Bypass masih digunakan warga untuk berjualan. Wa­r­ga enggan melakukan pe­m­bongkaran, karena belum ada kejelasan terkait kon­so­lidasi tanah warga.

Sawaldi (48), warga Ba­lai Baru mengatakan, sam­pai saat ini belum mela­kukan pembongkaran ba­ngu­nan miliknya di­karena­kan belum adanya ke­je­lasan terkait konsolidasi tanah yang ditempatinya.

“Kami sangat men­du­ku­ng proyek pengerjaan jalur dua Bypass, akan te­tapi konsolidasi tanah be­lum jelas untuk persoalan ganti ruginya. “Mambuek kadai ko kan indak jo aia ludah se doh, diak,” ujarnya.

Bangunan semi per­manen yang ditempatinya merupakan tanah ulayat dan telah 25 tahun me­nem­pati bangunan tersebut. “Walaupun kami me­nem­pati tanah ulayat, seharus­nya pemko tetap meng­ganti rugi atas pendirian bangunan. Kami meng­harap­kan pemko mem­perhatikan kejelasan hak warga,” diakuinya.

Khairul (46), warga Pi­la­kuik menyebutkan, tidak mempermasalahkan ter­kait pembongkaran yang akan dilakukan pihak Pem­ko Padang, sesuai dengan berpegang pada janji yang telah dikatakan pemko me­lalui pertemuan di Kantor Camat Kuranji beberapa waktu lalu.

“Saya sangat men­du­kung proyek pelebaran ja­lur dua Bypass, selama Pe­m­ko Padang menepati janji yang telah disepakati ber­sama masyarakat di Ke­ca­matan Kuranji, di mana kepemilikan bangu­nan ya­ng saya tempati telah ber­sertifikat. Dan saya ber­harapan kons­oli­dasi yang tengah di­se­pakati antara pemko dan masyarakat jangan ada yang ditutupi,” kata Kh­airul. (h/ows/mg-jef)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]