Candu Telah Berlalu


Selasa, 28 Juli 2015 - 19:49:39 WIB
Candu Telah Berlalu

Namun, jika kita merasa tersinggung, seperti haknya para psikolog jamak me­nya­rankan: diperlukan ‘kom­pleksitas kognitif’ yang lebih tinggi untuk mengurai hal-hal yang sarkastik. Dalam artian kemampuan untuk memandang sesuatu dari berbagai sudut—agar mam­pu menemukan solusi cer­das dalam setiap hal yang dihadapi.

Baca Juga : Cegah Warga Nekat Mudik, Polri Gelar Operasi Sebelum 6 Mei

Filsuf kelahiran Austria Ludwig Wedgenstein (1889-1951) menyebutkan, “mak­na sebuah kata adalah peng­gunaannya dalam bahasa dan makna sebuah bahasa adalah penggunaannya da­lam hidup”. Maksudnya, sebuah ungkapan sejelek atau sebaik apapun, makna yang sebenarnya itu bukan terletak pada susunan kata atau bahasanya, namun ter­kait pada kondisi dan peng­gunaannya.

Kembali ke per­ma­sala­han di atas, untuk mema­hami ungkapan Marx yang mendalilkan bahwa ‘agama itu candu’, kita tidak bisa menafsirkannya secara gra­matikal atau secara langsung berdasarkan susunan kata-kata itu saja. Terlebih dahu­lu, layaklah untuk menim­bang dan melihat kondisi pada saat itu. Tentunya de­ngan menelusuri apa yang melatarbelakangi Marx un­tuk membuat statement yang dimaksud.

Baca Juga : Inilah Jam Kerja ASN pada Bulan Ramadan 1442 Hijriah

Dialektika Marx

Pada masanya (1818-1883), Marx melihat sebuah realita bahwa penerapan pemikiran kapitalisme da­lam sendi kehidupan, khu­susnya kehidupan ekonomi menyebabkan terjadinya penghisapan manusia oleh manusia. Semenjak dite­mukannya mesin uap oleh James Watt, maka ber­mun­culanlah industri-industri yang melakukan produksi dalam skala besar (Revolusi Industri) dan berujung pada perampasan tanah ma­sya­rakat untuk dijadikan pa­brik-pabrik.

Baca Juga : Gawat! Ada 22.000 Senjata Api Dimiliki Warga Sipil di Daerah Ini

Masyarakat yang kehi­langan tanah ini tidak ber­daya lagi untuk menggarap tanahnya, sehingga mau tidak mau membludaklah per­mintaan untuk menjadi buruh-buruh industri. Kon­disi miris inilah yang mem­buat penindasan terhadap masyarakat semakin meng­gila, banyaknya permintaan untuk menjadi buruh dari pihak masyarakat, diman­faatkan oleh kalangan pe­ngu­saha dengan bertindak semena-mena dalam mem­perlakukan kelompok buruh ketika itu.

Pada dasarnya, keter­gantungan dapat membuat hidup dimobilisasi. Jam kerja yang tidak mengenal waktu istirahat, tidak adanya perhatian akan kese­jah­te­raan buruh seperti jaminan kese­lamatan kerja, dan kese­hatan menjadi pelengkap penderitaan kaum buruh. Dalam kondisi yang ter­tindas, terlontar pertanyaan kepada kaum buruh tentang apa yang akan mereka laku­kan dengan kondisi saat itu. Namun jawaban yang memi­lukan, buruh-buruh tersebut menjawab, bahwa mereka hanya bisa pasrah dan ber­harap Tuhan akan mem­berikan surga dan keba­hagiaan kepada mereka di surga nanti. Jawaban yang penuh rasa putus asa ini yang menjadi latar belakang Marx mengeluarkan dalil di dalam “Das Capital” bahwa ‘agama adalah candu’.

Baca Juga : Launching Polri TV dan Radio, Jenderal Listyo Sigit: Untuk Mengedukasi Masyarakat

Marx  memandang bah­wa ratapan-ratapan kaum buruh hanya diganti dengan janji-janji surga oleh pihak roha­niawan. Tindakan roha­nia­wan ini menurut Marx ibarat memberikan candu kepada kaum buruh. Candu yang semacam dengan opium atau narkotika.

Seperti yang kita ketahui bahwa jika seseorang meng­konsumsi narkotika, akan merasakan ketenangan, ke­da­maian, dan semua di du­nia ini serba mudah serta membahagiakan. Akan teta­pi, setelah efek candu itu hilang maka mereka akan kembali ke alam nyata mere­ka, yang penuh dengan him­pitan penderitaan. Sehingga doktrin-doktrin kesabaran menunggu surga itu bagi Marx harus dibuang jauh-jauh dari pikiran masya­rakat. Masyarakat, khususnya ka­um buruh harus berani mela­wan dan menyelesaikan ma­sa­lah yang menghimpit me­reka, dan mereka harus be­rani melawan penindasan oleh kaum pemilik modal. Ringkasnya, Marx tidak ingin melihat peran agama, ketika itu, yang sekedar monolitik dan statis.

Bukan hal yang Kontraproduktif

Jujur, bagi penulis, tak ma­salah juga jika dikatakan ‘agama itu candu’. Sebab, ke­tika kita dengan ikhlas men­dekatkan diri kepada Allah—tiada Tuhan selain Allah—memang akan terasa ke­te­nangan, kedamaian, dan In­sha Allah menjalani hidup di dunia ini akan terasa mu­dah serta memba­hagia­kan.

Lagi pula dalam Islam urusan dunia dan akhirat bukanlah hal yang kon­tra­pro­duktif. Sebagaimana da­lam sebuah hadist yang diri­wayatkan Abdullah bin asr, Rasullullah SAW bersabda; Kejarlah Duniamu seakan-akan kau akan hidup sela­manya, kejarlah akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok hari”.

Bahkan, lebih ditegaskan lagi dalam Kitab Suci Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11; “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang berusaha mengubah apa apa yang pada diri mereka”. Maka dari itu, rasa ‘candu’ agama dalam perspektif Islam ti­dak menemukan argu­men­tasi pembenaran atas feno­mena ketidaksadaran manu­sia, mengenai hidupnya.

Semenjak

Ramadhan Berlalu

‘Candu’ terhadap agama yang didalilkan Marx, ber­dasarkan kondisi ketika itu, muncul semenjak diga­lak­kannya revolusi industri di Eropa. Berlainan, mega feno­mena di masyarakat muslim Indonesia, ‘candu’ yang ja­mak dirasakan ter­hadap aga­ma malah musnah semenjak Ramadhan ber­lalu.

Lihat saja, gejala-geja­lanya hampir merata-me­nge­muka semenjak di peng­hujung Ramadan. Jamaah ta­rawih semakin maju, ta­dinya ada beberapa shaf, tinggal satu shaf saja, yang tadarus mulai berkurang. Mereka yang pada awal Ra­madan memadati masjid dan musa­lla mengalihkan akti­fitasnya ke mal, plasa, pasar dan pusat keramaian untuk belanja, sibuk menyiapkan Idul Fitri. Bak baru saja memenangkan trofi Piala Dunia, Idul Fitri pun seperti mendesak untuk dirayakan dengan segala ge­mer­lapnya dunia.

Sehabis itu, kita semua juga sama-sama tahu, Allah apalagi. Ramadhan bagai ‘musim ibadah’ bagi seba­gaian besar umat muslim. Dan betapa meruginya, jika sekedar hitung-hitungan pa­hala yang menjadi motivasi untuk ramai-ramai beri­badah ke mesjid di bulan Ramadhan. Hingga, setelah Ramadhan berlalu, ‘candu’ pun telah berlalu. Wallahu a’lam bish-shawab. ***

 

ALEK KARCI KURNIAWAN
(Pengurus International Law Students Association (ILSA)–FH Unand)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]