Lima Daerah Head to Head


Selasa, 28 Juli 2015 - 20:12:15 WIB

Sebelumnya, isu penun­daan pilkada cukup kuat beredar. Tidak hanya di kalangan DPR dan pejabat di pusat, di daerah hal ini menjadi isu tidak terban­tahkan. Seperti di Kabu­paten Agam yang khawatir hanya satu pasangan calon saja yang mendaftar yaitu Indra Catri dan Trinda Far­han. Namun, belakangan Irwan Fikri menyatakan kesiapan untuk maju dengan menggandeng Chairunnas.

Dari 14 daerah yang meng­gelar alek pilkada ini, terdapat lima daerah yang hanya memiliki dua pasang calon. Artinya persaingan sengit akan terjadi, satu suara sangat menentukan. Daerah tersebut adalah, Provinsi Sumbar sendiri (Irwan Pra­yitno-Nasrul Abit dan Mus­lim Kasim-Fauzi Bahar), Kabu­paten Padang Pariaman (Ali Mukhni-Suhatribur dan Alfikri Mukhlis-Yulius Danil), Kabu­paten Dharmasraya (Adi Guna­wan-Jhonson Putra dan Sutan Riska Tuanku Kerajaan-Amrizal Dt Rajo Medan),  Kabupaten Pasaman (Benny Utama-Daniel dan Yusuf Lubis-Atos Pratama) dan Kabupaten Agam (Indra Catri-Trinda Farhan dan Irwan Fikri-Chairunnas).

Sementara calon terbanyak, lima pasang yaitu Kota Bukit­tinggi. Kemudian calon yang empat pasang berada di Kabu­paten Tanah Datar, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Pada musim pilkada ini, ke­kecewaan barangkali dirasakan sejumlah DPD Golkar dan wakil bupati yang berniat mencalon namun terhalang dukungan. Par­tai Golongan Karya sebagai partai pemenang Pemilihan Umum Legislatif di Sumbar yang me­nguasai 14 kabupaten kota, tidak bisa berkuasa sepenuhnya. Di beberapa daerah, partai ini hanya bisa gigit jari, mendukung tapi tidak bisa mengusung calon, meskipun pemilik kursi legislatif terbanyak.

Konflik dualisme yang melan­da Golkar, telah menjadikan DPD Golkar Sumbar hanya menjadi pendukung untuk pasangan Mus­lim Kasim-Fauzi Bahar, bukan pengusung. Begitu juga dengan DPD Golkar Kota Solok yang sudah bulat akan mengusung Yutriscan-Zaini, gagal mendaftar karena tidak ada kesepakatan dari partai pengusung yaitu Golkar dan PPP. Padahal keduanya, su­dah mendeklarasikan diri Selasa (28/7) pagi.

Di tempat lain di Kabupaten Solok Selatan, Golkar hanya bisa menjadi pendukung pasangan Khairunnas-Edi Susanto. Khai­runnas sendiri adalah Ketua DPD Golkar Solsel. Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Solok. Gol­kar tidak menjadi partai pendu­kung pasangan Ketua DPD Golk­ar Desra Ediwan yang berpasa­ngan dengan Bachtul. Sementara di Kabupaten Agam, Golkar menjadi partai netral hingga hari terakhir pendaftaran calon, dan belum menjatuhkan dukungan kepada pasangan Indra Catri-Trinda Farhan atau Irwan Fikri-Chairunnas.

Di Kota Solok, Golkar juga gagal mengusung calon. Ketua DPD Golkar Kota Solok Risman Siranggi mengatakan partainya gagal mengusung pasangan calon Yutriscan-Zaini, karena di detik terakhir Yutriscan mengun­dur­kan diri untuk mendaftar. Yu­triscan yang juga Ketua DPRD Kota Solok, tidak merasa siap untuk melepaskan jabatannya.

"Ini bukan karena dualisme di Golkar, tetapi karena yang ber­sangkutan mengundurkan diri dari pencalonan. Hal ini memang kami sayangkan,," ucap Risman, Selasa (28/7) malam.

Ia mengatakan ia sampai di Kantor KPU Kota Solok sekitar pukul 15.00 WIB dengan mem­bawa surat dukungan untuk pasa­ngan ini dari DPP. Sayangnya hingga pukul 16.00 WIB, pasa­ngan yang ditunggu tidak muncul di KPU.

Sebelumnya, Golkar sudah mendapatkan surat rekomendasi yang ditandatangani dua kepengu­rusan Golkar untuk mengusung pasangan ini. Partai Golkar yang  memiliki empat kursi bisa me­ngusung calon sendiri tanpa harus berkoalisi.

Sementara itu, di Padang Pariaman, Wakil Bupati Damsuar bersama Yobana Samial yang dikabarkan turut meramailkan Pilkada, hingga hari terkahir pendaftaran tidak terlihat datang ke KPU. Jumlah kursi PDIP (4) dan PKPI (1) yang akan me­ngusung pasangan calon ini be­lum cukup 20 persen, atau kurang dari 8 kursi.

Sementara di Kabupaten Dhar­masraya, pasangan Syafru­d­din R (Wakil Bupati) bersama Prihandoko yang juga sudah menyatakan diri maju dengan partai koalisi poros tengah, Ge­rindra, PKS dan PAN tidak datang ke KPU Dharmasraya. Pasangan ini gagal karena kabarnya partai pengusung PAN, bergabung de­ngan koalisi PDI Perjuangan, PKB dan Hanura yang telah me­ngusung calon lain.

MK-FB Daftar ke KPU

Hingga hari terahir pen­daf­taran calon gubernur dan wakil di KPU Sumbar, Selasa (28/7) ha­nya dihadiri oleh dua pasang calon yakni, pasangan Irwan Prayitno (IP)-Nasrul Abit (NA) dan pasangan Muslim Kasim (MK)-Fauzi Bahar (FB).

Pendaftaran MK-FB didukung oleh empat partai di antaranya, Nasdem dengan 6 kursi, PDIP 4 kursi, PAN 8 kursi, dan partai Hanura 5 kursi dengan jumlah dukungan 23 kursi. Pendaftaran MK-FB tersebut juga dihadiri oleh partai Golkar kubu Aburizal Bakrie (Hendra Irwan Rahim, dan Yulman Hadi) namun tidak tampak hadir kubu Agung Lak­sono (Yan Hiksas), begitu juga dengan PPP hanya tampak dari kubu Romi (Amora Lubis dan Martias Tanjung). Sebelumnya, pada pendaftaran hari kedua di KPU IP-NA didukung oleh dua partai pengusung, Partai Gerindra dan PKS dengan jumlah kursi di DPRD Sumbar 15.

Sebelum ke KPU pasangan MK-FB melakukan pertemuan di Hotel Rumah Nenek Jalan Pa­dang Baru, dengan partai pen­dukung.

Kedatangan MK-FB men­daftar ke KPU diiringi oleh ratusan massa yang dimulai dari Masjid Raya Sumbar hingga ke KPU. Pasangan calon dan istri masing-masing menaiki bendi, sedangkan rombongan naik sepe­da motor, mobil, dan jalan kaki. Rombongan ini sampai di KPU sekitar pukul 14.00 WIB. Se­sampai di depan KPU mereka disambut dengan pantun dan musik tradisional Minangkabau.

Setelah penyambutan terse­but, pasangan calon dan pimpinan partai yang mendukung melaku­kan registrasi dan setelah itu langsung masuk ke Aula KPU untuk melanjutkan proses pen­daftaran yang pemeriksaan syarat administrasi.

Ketua KPU Sumbar Am­nasmen mengatakan, setelah pendaftaran selesai, KPU akan melakukan verifikasi persyaratan yang diajukan pasangan calon dan partai pendukung. Verifikasi akan dilakukan dari 29 Juli sampai 3 Agustus. 4 sampai 7 Agustus perbaikan persyaratan oleh calon. 8-14 Agustus verifikasi syarat yang telah diperbaiki. Sedangkan 15-24 Agustus masanya verifikasi syarat calon perseorangan. 25 Agustus penetapan calon.

Ketika ditanyakan terkait administrasi partai Golkar yang tidak masuk dalam pemeriksaan KPU, ia mengatakan bahwa Gol­kar hanya sebagai partai pendu­kung karena ada syarat adminis­trasi yang tidak bisa  ditindak­lanjuti prosesnya sebagai partai pengusung pasangan calon MK-FB ini.

"Artinya partai Golkar tidak menjadi pengusung karena tidak memenuhi persyaratan, sesuai dengan pasal 36 terkait pen­calonan. Berkas pencalonan oleh partai Golkar kan mesti diusung oleh kedua kubu, tapi berkas yang kita lihat hanya ditandatangani oleh satu kubu dan kubu yang lain belum menandatangani. Selain itu, pimpinan partainya juga tidak ada di sini," ungkapnya.

Begitu juga dengan PPP, ke­dua kubu partai berlambang kakbah ini memberikan dukungan untuk pasangan calon yang berbeda. Dan berdasarkan aturan KPU nomor 12, partai yang kepemimpinan ganda harus memberikan duku­ngan pada paslon yang sama.

Saat dikonfirmasikan pada Sekretaris PPP Sumbar versi Romi, Amora Lubis mengatakan, kubunya berikan dukungan kepa­da MK-FB, sedangkan PPP se­belah (kubu Djan Farid) dukung calon lain. Ia menyadari partainya tidak bisa dikatakan sebagai pendukung, tapi hanya sebagai pembantu saja.

Komisioner KPU Sumbar, Mufti Syarfie menambahkan, salah satu kubu tidak menge­luarkan surat dukungan buat paslon yang sama maka syarat dukungan dari partai tersebut dicoret.

Terpisah, saat dihubungi Ke­tua DPW PKB Sumbar Febby Dt Bangso Nan Putiah, menerangkan alasannya kenapa partainya tidak jadinya memberikan dukungan kepada pasangan MK-FB. Karena saat yang bersamaan ia sedang melakukan pendaftaran sebagai Cawako di Kota Bukittinggi, sementara aturan KPU bagi par­tai pengusung calon harus di­hadiri langsung oleh ketua dan sekretaris saat mendaftar ke KPU.

Selain itu, partainya dari awal memang sudah menginginkan ada head to head pada pilgub. Karena dengan begitu PKB me­milih pasangan MK-FB, hanya saja SK dukungan dari DPP be­lum juga keluar. "Meski tidak jadi masuk sebagai partai pengusung, seti­daknya PKB bisa menjadi partai pendukung bagi pasangan calon MK-FB," ungkapnya.

Hal yang sama juga diung­kapkan oleh pengurus DPD Gol­kar Sumbar kubu Agung Lak­sono, Osmiati yang mengatakan bahwa dukungan untuk pasangan MK-FB sudah disetujui ketum­nya. Namun tidak ada di antara tim sukses atau partai pendukung pasangan calon MK-FB yang menjemput SK DPP Golkar, sehingga SK yang seha­rusnya dibawa saat mendaftar nyatanya tidak bisa diserahkan pada KPU Sumbar.

Sementara itu, dua kandidat yang berburu kursi ketiga dalam Pilgub Sumbar yaitu Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim akhirnya gagal mencalonkan diri, karena tidak mendapatkan partai pengusung.

"Ini adalah kehendak dari Allah. Semoga ada hikmah di balik ini Doa kita pemilihan Gubernur Sumbar berjalan lancar sesuai dengan tahapannya," ka­tanya.

Sebagai seorang PNS, Shadiq mengaku bersedia ditempatkan dimana saja. Ia mengucapkan terima kasih kepada pendukung, karena tanpa pamprih menso­sialisasikan ke masyarakat.  (h/eni/mg-rin/mg-isr/mat)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]