Psikopat


Jumat, 31 Juli 2015 - 17:23:33 WIB
Psikopat

Kondisi rumah Hyera sangat kacau, tetesan darah terlihat hampir diseluruh penjuru rumah, beberapa peralatan dapur bahkan pecah,  serta bulu-bulu kucing bertebangan akibat angin malam yang masuk melalui pintu dan jendela yang tidak tertutup.

Baca Juga : Ibu Kalina Ocktaranny Komentari Aksi Vicky Prasetyo yang Masih Centil di TV

“Hyera, apa kau didalam?“

Suara sahutan terdengar dari depan rumah. Suara yang cemas dan sedikit serak. Mungkin saja sipemilik suara serak itu cemas karena melihat betapa beran­takannya rumah ini. Atau keta­kutan jika ada suatu hal buruk yang menimpa seseorang tidak ber­salah oleh ‘sipemilik’ rumah ini. Yang jelas, seseorang yang me­manggil Hyera itu amat men­cemaskannya.

Baca Juga : Hotman Paris Posting Sindiran: Pelihara Cinta Pakai Penghasilan

Hyera menahan suara ta­ngis­nya, mengeratkan pelukan saat langkah kaki terdengar semakin mendekat kearahnya. Kepalanya bergerak gelisah. Menggeleng lemah. Berharap tidak ada yang mendatanginya.

“Hyera, apa kau baik-baik saja?“

Gadis pemilik suara serak itu menutup mulutnya dengan sebe­lah tangan menutupi keka­getan­nya begitu ia menemukan Hyera yang sedang meringkuk dibawah jendela. Setelah menutupi kege­lisahannya ia mendekap Hyera kedalam pelukannya. Mem­beri­kan sweaternya ke gadis yang tampak kedinginan itu.

“ Liana, kau datang ? “ lirih Hyera sembari membalas pelu­kan gadis bersuara serak itu. Mata coklatnya memperhatikan Liana, mata yang ragu-ragu dan butuh perlindungan.

Liana tersenyum, merapikan sweater yang ia pasangkan ketu­buh Hyera, “ Tentu saja, apa yang sebenarnya terjadi Hyera ? “

Hyera menunjuk pisau yang ia lempar, dan menunjuk kucingnya yang tergeletak mati disudut lain kamar. Liana terperangah, tidak percaya atas apa yang terjadi.

“ Kau tidak membunuhnya, bukan ? “

Hyera menggeleng, “ Aku tidak tahu apa yang terjadi. Begitu aku sadar, aku telah mengenggam pisau yang menancap diperut kucing itu. Itu diluar kesa­da­ranku“

Liana mendesah, selalu saja begini. Bukan sekali ini saja Hyera melukai seseorang, mau­pun hewan. Minggu lalu, penjaga sekolahnya mendapat beberapa goresan jarum ditangan. Dan setiap kali ia bertanya atas apa yang terjadi, Hyera selalu menga­takan “ Aku tidak tahu, itu diluar kesadaranku “

Liana bangkit dari duduknya, membersihkan kamar temannya ini dari tumpukan pakaian dan sampah, mengganti alas kasur dan menutup jendela. Ini sudah larut malam, tidak baik menghabiskan sisa malam seperti ini.

“ Kau tidurlah, aku akan mem­bersihkan rumah ini secepat mung­kin“

Hyera mengangguk, melang­kah kearah kasur dengan tubuh yang bergemetar ketakutan. Me­nyem­bunyikan wajah dibalik selimut. Berusaha tidur.

“Terimakasih Liana, jika saja aku tidak seperti ini. Pasti aku tidak akan merepotkanmu “ ujar Hyera pelan, mengusap air mata yang perlahan turun dipipinya. Ia tidak  mengerti tentang apa yang telah terjadi dengan dirinya. Sejujurnya ia merasa amat terte­kan atas segala tindakan yang tidak pernah ia sadari tersebut. Terlebih lagi rasa sakit yang setiap saat ia terima tatkala semua orang disekitarnya menyebutnya sudah tidak waras lagi. Tidak ada yang benar-benar peduli dengannya, kecuali Liana. Semua orang me­ngang­gapnya berbahaya. Mereka bahkan tidak mau mendekat kearah dirinya. Apalagi setiap tatapan yang ia terima hanya tatapan benci atau kasihan.

“Liana, maafkan aku jika aku membuat hari-harimu mele­lah­kan “ ujar Hyera tepat  ketika Liana menutup pintu kamarnya.

Liana mengumpulkan buku-buku yang berserakan diper­pustakaan sekolah. Ini memang tugasnya setiap kali bel istirahat berbunyi. Tugas harian yang su­dah menyita waktunya setahun terakhir ini.

“ Tidak ingin istirahat, Liana ? “ ujar seorang murid perempuan berkacamata yang membersihkan jendela perpustakaan tak jauh dari tempatnya berdiri.

“ Tidak, atau mungkin seben­tar lagi. Ada banyak buku yang berserakan hari ini “

Murid perempuan berka­ca­mata itu mengangguk, memu­tuskan untuk tidak menganggu Liana dengan pertanyaan-per­tanyaan tidak penting. Ia sudah tahu ke­biasaan Liana, tidak per­nah ber­henti bekerja sebelum semua­nya benar-benar beres. Dan ia sangat tahu Liana saat ini benar-benar sibuk dengan segala tum­pukan buku dan majalah yang ber­ce­ceran dilantai perpustakaan seko­lah.

“ Liana, kau harus kekantin sekolah sekarang juga ! “ ujar seorang siswa bertubuh kurus yang sedang mengatur nafasnya. Sepertinyaia baru saja berlari untuk menemui Liana.

Liana mendongakkan wajah­nya, meletakkan beberapa buku ditangannya ke lemari kayu besar sebelum merapikan rambut hitam miliknya. Wajahnya berubah cemas saat siswa itu menyebutkan  Hyera dalam masalah.

Hyera bermasalah lagi ?

Ya Tuhan, apa yang terjadi, dan apa yang harus ia lakukan ?

Liana berlari secepat yang ia bisa. Demi tuhan, ia benar-benar mencemaskan Hyera saat ini. Cemas atas apa yang mungkin diperbuat oleh temannya itu. Ia sangat mengenal Hyera, mengenal segala kelebihan emosional yang selalu muncul dengan tindakan berbahaya jika Hyera sangat marah. Jantung Liana semakin berdebar ketika melihat kantin sekolah sudah ramai dikerubungi para siswa. Dengan sedikit pak­saan ia beruaha masuk kedalam kantin, dan nafasnya tercekat saat melihat Hyera mengacungkan pisau saku yang persis sama dengan pisau tadi malam. Me­ngacungkan pisau itu kearah seorang siswa laki-laki berwajah keras. Siswa itu tampaknya ter­luka, ada beberapa darah yang menetes disekitarnya.

“ Apa kau berani Hyera ? Berani menyobek kulitku ini sekali lagi ? “ ujar siswa laki-laki itu, tertawa.

Hyera tak menggubris ucapan siswa itu, tangannya masih kokoh mengacungkan pisau. Sepertinya ia benar-benar muak dengan siswa laki-laki bernama Kenta itu,

“ Ada apa? Masih diam ditem­pat ? Tidak berani membunuhku ? Bukankah ayahmu adalah pem­bunuh handal yang ditakuti selu­ruh masyarakat ? “

Kesabaran Hyera habis. Dan demi segala sesuatu didunia ini, ia sangat tidak suka saat orang lain menyebut ayahnya seorang ‘ pem­bunuh ‘. Ia benar-benar tidak suka dengan ucapan itu.

“ Kau, berhentilah menyebut ayahku seorang pembunuh !! “ teriak Hyera kencang. Ia benar-benar marah, ia sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Kenta. Laki-laki itu sangat keterlaluan. Tidak ada kesabaran lagi. Didalam be­nak Hyera hanya ada satu pe­mi­kiran, ia harus membunuh Kenta.

Ya, ia memang harus mem­bunuh laki-laki kurang ajar ini.

Hyera bergerak mendekat, masih mengancungkan pisau itu kearah Kenta. Beberapa siswa yang menontonnya berteriak ketakutan. Beberapa siswa lainnya menyoraki, menyemangati Hyera agar membunuh Kenta.

Kenta tak bergeming, hanya menatap setiap langkah Hyera yang semakin mendekatinya. Ken­ta tidak takut, ia tidak pernah takut atas segala hal yang ada didunia ini. Dan Hyera, gadis tirus itu bukan­lah ancaman besar baginya.

“ Sudah siap membunuhku, Hyera ? Silahkan saja, bunuh aku seperti ayahmu membunuh ayah­ku. Bunuh dengan tatapan puas seperti tatapan ayahmu saat mem­bunuh ayahku. Aku akan me­ngingat detik-detik menye­nang­kan ini “ ujar Kenta sinis.

Semua siswa terkejut atas apa yang diucapkan Kenta. Mereka benar-benar tidak tahu jika ayah Kenta dibunuh oleh ayah Hyera. Ayah Kenta merupakan pemilik sekolah tempat mereka saat ini, sosok yang sangat dihormati dan dikagumi. Sontak pengakuan Kenta tadi membuat semua siswa menyoraki ayah Hyera ‘pem­bunuh sialan’. Mata Hyera me­manas, tangan kokohnya yang sedari tadi memegang pisau, kini bergetar. Hyera juga terkejut atas apa yang diucapkan Kenta.

Ayahnya membunuh ayah Kenta ?

Apakah itu benar atau hanya karangan Kenta saja ? Ia  benar-benar terpukul atas ucapan Kenta, kakinya semakin gontai.

“ Tidak jadi membunuhku, Hyera ? Sayang sekali, padahal jarak kita hanya terpaut beberapa senti saja. Apa kau tidak seberani ayahmu yang membunuh ayahku ? Kau tidak berani, Ha !! Ayo bunuh aku, bunuh aku sesadis ayahmu membunuh ayahku !! “

Hyera terduduk, menutup kedua telinga dengan tangannya. Air matanya menetes. Tubuhnya berguncang hebat. Ia berteriak frustasi. “ Ayahku tidak mungkin membunuh ayahmu. Ayahku bukan pembunuh, Kenta ! Ayah­ku tidak mungkin menyakiti siapapun, termasuk Ayahmu !! “

Kenta tertawa, berjalan men­dekati Hyera. Menatap gadis itu ge­ram. Ia benar-benar marah ke­pada gadis ini. Ia tidak akan takut apalagi mundur dari anak pem­bunuh yang telah membunuh ayah­nya. “ Kau tidak perlu me­nyang­kalnya, Hyera. Ayahku me­ninggal akibat ayahmu, Hyera“

Dan tepat ketika Kenta me­nyebut “ Ayahmu gila, Hyera !! “, pisau yang berada digenggaman Hyera menusuk perut Kenta, membuat laki-laki itu meringis kesakitan.

“ Kau memang berniat mem­bunuhku ternyata, benar-benar se­per­ti ayahmu “

Hyera terduduk, menangis sese­gukan. Tubuhnya terguncang, tata­pan matanya yang tajam kini beru­bah ketakutan, seperti baru saja ter­sadar.

Baru tersadar jika ia baru saja menusukkan pisau keperut Kenta.

Liana yang sedari tadi me­natapnya dari kejauhan,kini men­dekap Hyera. Menenangkan Hye­ra yang terguncang, “ Sudah Hye­ra, ini semua bukan salahmu “

“ Bukan salahku ? Aku yang telah menusuk perut Kenta. Lia­na, apa kau tidak melihatnya ? “

Hyera bangkit dari duduknya, meng­hampiri Kenta yang tampak me­nahan sakitnya. Wajah Kenta pu­cat, “ Maafkan aku, aku tidak ta­hu apa yang terjadi. Kenta, ku­harap kau dapat memaafkan­ku“­

Kenta mendongakkan wajah­nya, menatap Hyera dengan tidak percaya. Tidak pecaya dengan ucapan gadis itu. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja berusaha membunuhnya kini mengaku tidak tahu ? Itu tidak mungkin. Hyera pasti mengada-mengada.

Wajah Hyera terpekuk, tidak berani menatap para siswa yang meneriakkannya seorang pem­bunuh. Tubuh Hyera kembali terguncang, ia menangis sese­gukan. Menutup wajahnya dengan kedua tangannnya.

“ Aku benar-benar minta maaf Kenta. Aku benar-benar tidak tahu !! “

Liana menghampiri Hyera, mengusap-ngusap pundak gadis itu. Menenangkannya. Sejenak setelah Hyera tenang, Liana me­natap Kenta.

“ Ia benar-benar tidak tahu. Mungkin kau pikir aku sedang mengada-mengada. Tapi Kenta, kau harus percaya dengan uca­panku”

Kenta terdiam, memper­hati­kan Liana sekasama. Kenta selalu percaya dengan Liana, gadis yang dikenalnya sebagai teman terbaik. Bahkan Liana yang menghiburnya saat ayahnya meninggal dunia, terbunuh oleh ayah Hyera.

“ Tidak mungkin. Apa kau berusaha mengatakan hal yang tidak mungkin kepadaku, Liana ? Kau tidak mungkin berbohong padaku, kan ? “

Liana tersenyum tipis. “ Aku mengatakan hal yang sebenarnya“

Kenta terdiam, tidak menatap wajah Liana lagi, tidak menatap wajah Liana sampai beberapa perawat datang dan membawanya pergi ke klinik terdekat.

Liana memandang khawatir kearah Hyera yang sedang diinte­gorasi salah seorang pskiater rumah sakit jiwa. Sudah dua jam lamanya, dan Hyera masih tidak diperbolehkan untuk menemui dirinya barang sejenak.

Liana berdoa, berharap agar segala sesuatu yang akan mence­lakakan Hyera tidak terjadi. Liana sangat mencemaskan Hyera, ia tahu gadis itu benar-benar terte­kan semenjak ayahnya meninggal akibat dibunuh masyarakat kare­na ketahuan berusaha membunuh salah seorang tokoh masyarakat. Ayah Hyera memang seorang pembunuh bayaran. Ia mencukupi kebutuhan keluarganya dengan hasil bayaran dari hasil pekerjaan membunuhnya.

Hal itu yang membuat ibu Hyera meninggalkan Hyera seo­rang diri dirumah. Wanita malang yang telah membesarkan Hyera segenap hati itu sudah tidak tahan menanggung malu lagi. Tapi ia tidak sadar, jika perbuatannya membuat Hyera sangat tertekan.

Dan semenjak itu Hyera se­ring menyakiti orang-orang yang menyinggung soal ayah dan ibu­nya, dan membunuh binatang yang menganggunya. Hyera tumbuh sebagai seorang gadis yang kese­pian, yang tertekan mental dan jiwanya. Ia benar-benar terputus dari apa yang dikenal manusia sebagai ‘akal sehat’.

Semua hal yang Liana ketahui tentang Hyera sudah ia ceritakan pada psikiater. Psikiater itu tam­pak terkejut, tidak percaya. Dan berjanji untuk selembut mungkin menguak dan mengobati masalah kesehatan jiwa Hyera.

Liana tersadar dari lamunan­nya saat pintu ruangan peme­riksaan terbuka, Hyera meng­hampirinya dengan wajah muram.

“ Bagaimana Hyera ? Apa semua baik-baik saja ? “ tanya Liana khawatir. Hyera meng­geleng lemah. Membuat Liana semakin cemas. Sejanak kemu­dian Liana tersadar, para psikiater tidak menghampiri mereka.

“ Kemana para polisi dan psikiater itu, Hyera ? Kenapa mereka tidak menghampiri kita ? “ tanya Liana heran. Hyera hanya diam, menunjuk pintu peme­riksaan.

“ Mereka menyinggung ayah dan ibuku, Liana “ ujar Hyera serak. Liana tersentak kaget, dibenaknya terlintas hal buruk yang mungkin saja terjadi pada parapsikiater itu.

Dan benar saja, saat Liana memasuki ruang pemeriksaan itu ia mendapati psikiater itu tidak lagi bernyawa.

“ Hyera, apa yang telah kau lakukan ? “

_the end_

 

Oleh:
FADHILA MADEVI


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]