Peranan Tigo Tali Sapilin Memajukan Koperasi di Sumbar


Jumat, 31 Juli 2015 - 20:16:44 WIB
Peranan Tigo Tali Sapilin Memajukan Koperasi di Sumbar

Tiga tokoh utama terdiri dari tiga unsur—pe­me­rin­tah, ulama dan tokoh adat—di Sumatera Barat (Mi­nang­kabau-Pen) disebut “Tigo Tungku Sajarangan” atau  “Tigo Tali Sapilin” .

Baca Juga : Bertemu Gatot Nurmantyo dan Rizal Ramli, Ketua DPD RI: Pemerintah Harus Dikoreksi

Keterlibatan  Tigo Tung­ku Sajarangan untuk men­sosialisasikan koperasi da­lam suatu acara Tablig Ak­bar yang dihadiri dari ber­bagai unsur dan lapisan ma­syarakat, di­yakini dapat mengubah atau menghapus pan­dangan miring segenap ma­syarakat terhadap kope­rasi. Sekaligus bisa melu­ruskan pelesetan-pelesetan segenap masyarakat terha­dap ko­perasi, seperti, Kope­rasi Unit Desa (KUD), dipe­lesetkan mejadi “Keun­tu­ngan untuk Den atau Ko untuk Den) dan lainnya.

Kalau ditinjau lebih da­lam, yang membuat pan­dangan miring segenap ma­syarakat terhadap koperasi, justru ulah oknum-oknum pengurus yang me­man­faatkan koperasi untuk ke­pentingan pri­badi atau ke­lompok. Tetapi, yang kena ge­tahnya justru koperasi.

Baca Juga : Menko Perekonomian-Mentan Salurkan 20 Ribu DOC Ayam Petelur ke Rumah Tangga Miskin

Padahal, koperasi meru­p­akan lembaga usaha eko­nomi berwatak sosial, seka­ligus menyatukan umat, yang telah terbukti mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap peningkatan ekonomi, pen­didikan dan sosial ma­sya­rakat serta pe­nyerapan ba­nyak tena­ga kerja. Koperasi juga telah terbukti sangat ampuh untuk memberantas praktek rentenir.

Melalui Tablig Akbar yang dihelat di masjid ter­besar di Sumatera Barat diyakini mampu me­lurus­kan persepsi masyarakat terhadap koperasi, mem­bangun citra positif  koperasi yang pada gilirannya dapat mendorong lajunya per­kem­bangan dan kemajuan ko­perasi  di Sumatera Barat.

Dengan demikian, tidak ada lagi keraguan masya­rakat terhadap koperasi, bahkan koperasi merupakan lembaga usaha ekonomi yang sangat cocok bagi ma­sya­rakat Sumatera Barat, baik ditinjau dari sudut pandang agama (Islam) mau­­­pun adat (Mi­nang­ka­bau). Syara’ makato, adat mamakai.

Namun begitu, du­ku­ngan ketiga unsur tersebut di atas masih belum cukup, masih dibutuhkan kebijakan yang memihak pada koperasi dan UMKM oleh para kepa­la daerah (bupati/ walikota) serta DPRD kabupaten/ kota yang dibingkai dari suatu kesepahaman dengan per­sep­si yang sama lalu dila­hirkan suatu ko­mitmen untuk me­ma­jukan koperasi di dae­rah masing-masing.

Di antara butir komit­men itu, adalah: menem­patkan pejabat di dinas yang membidangi koperasi sesuai dengan kompentensinya,  mulai dari pejabat eselon II, III dan pejabat eselon IV, serta memperhatikan jen­jang karier setiap pejabat tersebut, sehingga mereka bersaing secara sehat. Yang kinerjanya dinilai bagus akan mendapat promosi dan seba­liknya, yang lemah tentu dilakukan pembinaan.

Dan tak kalah pen­ting­nya adalah, pengalokasian anggaran untuk kegiatan koperasi dan UMKM yang memadai, sesuai dengan potensi daerah masing-ma­sing.­ Sementara kope­rasi yang meraih pre­dikat ter­baik, tingkat kabupaten/ kota, pro­vinsi dan nasional dibe­rikan apresiasi dalam berbagai bentuk sesuai de­ngan kebutuhan.

Untuk koperasi meraih predikat “Terbaik Nasional” misalnya, seyogyanya  dae­rah memberikan bantuan biaya transportasi untuk pengu­rusnya— minimal sa­tu orang— guna mengikuti aca­ra puncak peringatan Hari Koperasi tingkat Na­sional.

Karena selama ini, pe­ngu­rus koperasi ber­prestasi tingkat nasio­nal meng­guna­kan bia­ya sendiri untuk me­me­nuhi undangan panitia Hari Koperasi Nasio­nal. Lebih parahnya, pengu­rus tersebut tidak tampil lang­sung menerima peng­hargaan dari menteri ko­perasi, hanya duduk tenang menyaksikan acara. Hal ini bisa menjadi pemicu “debat” dalam RAT karena sebagian anggota bisa saja ber­pen­dapat: meng­hadiri acara puncak peri­ngatan Hari Koperasi hanya suatu pemborosan .

Beda dengan keadaan  di era Orde Baru, dimana pe­ngu­rus KUD Mandiri yang men­dapat peng­har­gaan di­und­ang ke Istana di Jakarta. Biaya transportasi, pengi­napan di hotel ber­bintang dan konsumsi serta pakaian jas “sapatagak” dijamin pe­me­ri­­ntah. Dapat pula ber­salaman langsung dan ber­foto dengan Pre­siden H. Soeharto. Itulah kebanggan pengurus ko­perasi  ber­prestasi masa lalu,  yang kini hanya ting­gal kenangan. *

 

RUSDI BAIS
(Wartawan dan Pemerhati Koperasi)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]