Meminimalisir Golput


Ahad, 02 Agustus 2015 - 20:28:03 WIB
Meminimalisir Golput

Sebagaimana dimuat Harian Haluan, Sabtu (1/8) tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu Gubernur (Pilgub) Sumbar 2015 dikhawatirkan akan anjlok. Tingginya ancaman Golput (golongan putih) dipicu oleh beberapa factor sehingga pemilih enggan menggunakan haknya menentukan pemimpin di negeri ini. Hal ini juga didukung trend penurunan pada setiap Pilgub, jika dibandingkan dengan Pemilu Legislatif dan Presiden sejak tahun 2004 lalu.

Baca Juga : Innalillahi, Pemilik Radwah Hartini Chairuddin Meninggal Dunia

Dikutip dari laman kpu-sumbarprov.go.id saat Pilgub langsung perdana digelar di Sumbar tahun 2005 lalu, partisipasi pemilih mencapai 63,72 persen. Saat itu, Padang menjadi wilayah dengan partisipasi pemilih paling rendah, yakni hanya 52,62 dan Kabupaten Limapuluh Kota dengan tingkat partisipasi pemilih paling tinggi, yakni 74,44 persen. Padahal, pada Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pilpres yang digelar tahun sebelumnya, partisipasi pemilih mencapai 75,56 persen dan 71,23 – 65,54 persen untuk Pilpres putaran I dan II.

Di periode berikutnya, yakni di Pilgub 2010, partisipasi pemilih melorot sedikit dibanding tahun 2005. Saat Pilgub dimana pasangan Irwan Prayitno-Muslim Kasim mengalahkan petahana Marlis Rahman-Aristo Munandar itu, pemilih hanya mencapai 63,62 persen saja. Jumlah ini, juga menurun jika dibandingkan dengan Pileg dan Pilpres 2009. Pada ajang ini, pemilih di Sumbar mencapai 70,46 persen dan 71,10 persen.

Baca Juga : Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kembali Penggabungan Kemendikbud dan Ristek

Apakah jumlah pemilih yang menggunakan haknya akan turun juga pada Pilgub 2015? Itu terbuka karena dari dua kali Pilgub dan Pemilu di tingkat nasional, angka partisipasi pemilih untuk Pilgub cendrung lebih kecil jika dibandingkan dengan dua iven nasional itu. Pada Pileg dan Pilpres 2014 lalu, partisipasi pemilih di Sumbar jauh lebih kecil dibandingkan dua iven serupa sebelumnya. Tahun ini Pileg hanya diikuti 68,43 persen pemilih dan Pilpres turun menjadi 63,7 persen saja.  Jika melihat trend tersebut, partisipasi pemilih di Sumbar dikhawatirkan pada Pilgub kali ini kurang dari 60 persen.

Kekhawatiran angka golput yang akan bertambah besar ini juga menjadi milik sejumlah masyarakat, salah satunya dari mantan Ketua HMI Sumbar, Reno Fernandes. Ia  melihat ada dua faktor menjadi penyebab turunnya partisipasi pemilih.  Pertama, jumlah calon gubernur yang sedikit. Ia melihat semakin banyak calon, maka partisipasi akan meningkat dan sebaliknya. Faktor kedua adalah calon gubernur saat ini adalah orang rantau atau berasal dari pesisir.

Baca Juga : Hadapi Terorisme, Indonesia Bisa Adaptasi Strategi CTAP Selandia Baru

Ancaman meningkatnya jumlah golput, karena berbagi sebab, sebaiknya menjadi perhatian   serius bagi KPU. Sebagai penyelenggara Pilkada, dari dini KPU bisa melakukan berbagai antisipasi. Di antaranya, Pertama, memastikan masyarakat terdata dan masuk dalam daftar pemilih. Kedua, pemperkenalkan dengan sebaik-baiknya, sehingga pasangan calon benar-benar dikenal optimal di masyarakat. Ketiga, KPU bisaa m,endorong agar masing-masing calon menyampaikan visi dan  misi serta tawaran program, sehingga dengan begitu dapat memancing semangat masyarakat untuk memberikan hak pilihnya di Pilkada Serentak 9 Desember 2015 mendatang. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]