Peraih Suara Tertinggi Berasal dari Sumbar


Ahad, 02 Agustus 2015 - 20:33:09 WIB

Calon yang berasal dari Sumatera Barat itu di anta­ranya Anwar Abbas. Pria kelahiran Kecamatan Gu­guak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, itu mendapatkan suara tertinggi dalam sidang tanwir, yakni 151 suara.

Yang kedua adalah Yu­nahar Ilyas, 59 tahun. Guru besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muham­madiyah Yogyakarta in lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia pernah menjabat Ketua Majelis Ulama Indo­nesia (MUI). Dalam sidang tan­wir, Yunahar mendapatkan 149 suara.

Kemudian Goodwil Zubir. Wakil Ketua Umum Dewan Mas­jid Indonesia itu berasal dari Padang, Sumatera Barat. Pria 53 tahun itu pernah Sekretaris PP Muhammadiyah dan Ketua PP Muhammadiyah. Alumnus Insti­tut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang ini mendapatkan 120 suara. “Lalu ada juga ada Yusuf Syafruddin Anhar yang masuk 39 calon tetap tersebut,” ucapnya.

Nurman menuturkan peserta Muktamar akan memilih 13 dari 39 orang calon sebagai pimpinan. Mereka yang akan menjadi for­matur untuk memilih Ketua Umum PP Muhammadiyah pe­rio­de 2015-2020.

Menurut dia, 39 calon tersebut sudah memenuhi semua kriteria. Namun, bagi Nurman, yang ter­penting adalah ketua umum ter­pilih memiliki high ideologi dan high politik. “Itu tak bisa dipisah­kan,” katanya. Sebelumnya, penetapan daftar calon tetap dibacakan Ketua Panitia Pemilihan sekaligus Ke­tua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais, dalam sidang pleno sekitar pukul 10.00 Wita.

Pembacaan dilakukan di hadapan pimpinan sidang tanwir yang diketuai Hae­dar Nashir dan dihadiri 200 lebih peserta.

Adapun pemungutan suara dilakukan Sabtu siang ke­ma­rin dan dilanjutkan penghi­tungan suara secara tertutup pada ma­lam hari. “Hasil penghitungan suara menjadi keputusan yang diterima oleh semua peserta tanwir,” ujar Dahlan Rais di sela sidang pleno, Ahad, 2 Agustus 2015.

Tak Ada Calon Perempuan

Dari 39 nama yang tersaring dalam tanwir Muhammadiyah, tak satu pun calon perempuan lolos. "Padahal ada sejumlah nama kader terbaik Muham­madiyah dari unsur perempuan yang didorong," kata Ketua Pim­pinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Norma Sari, Minggu (2/8)

Kader perempuan yang diaju­kan masuk dalam 13 formatur antara lain Ketua PP Aisyiyah Siti Noorjannah Djohantini, Rah­mawati Husein, Isnawati Rais, dan Dyah Siti Nuraini. Namun tak satu pun dari mereka yang lolos dari total 82 calon formatur yang ada.

Menurut Norma, pihaknya sangat menyayangkan unsur pe­rem­puan tidak masuk dalam jajaran calon formatur tetap terse­but. Padahal, menurut dia, semua bidang garap dakwah Muham­madiyah tetap perlu perspektif perempuan dan anak.

Muhammadiyah juga dinilai tetap akan lebih ramah terhadap isu perempuan dan anak jika dalam jajaran kepemimpinannya ada unsur perempuan.

Selain itu, gerakan pencerahan yang diusung Muhammadiyah di muktamar kali ini juga ditujukan untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi serta memuliakan martabat laki-laki dan perem­puan. "Kami berharap unsur perempuan tetap masuk dalam kepemimpinan inti Muham­madi­yah selanjutnya," ucap Norma.

Ia berujar, sejak Muktamar Muhammadiyah Ke-46 di Yog­yakarta, salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah secara ex officio. Hal ini mestinya dilanjutkan dengan tetap adanya unsur perempuan di luar ex officio tersebut.

Sebab, dalam sejarah Muham­madiyah, perempuan pernah masuk dalam jajaran pimpinan. "Kiranya harapan ini tidak berle­bihan mengingat sejak awal didirikan organisasi ini secara prin­sip sangat mendorong kema­juan kaum perempuan," tutur Norma.

Muhammadiyah selama ini juga mendorong dan mendukung penuh perempuan untuk berki­prah lebih luas mengisi posisi jabatan publik. "Perempuan ada­lah mitra dalam Muhammadiyah, bukan kompetitor, apalagi seke­dar kanca wingking," kata Norma.

Parpol Menyusup

Din Syamsuddin menjamin Muktamar Muhammadiyah Ke-47 berlangsung mandiri,  inde­penden dan bebas intervensi dari pihak mana pun, termasuk dari partai politik. Termasuk dalam proses pemilihan calon anggota pengurus pusat serta Ketua Umum PP Muhammadyah perio­de 2015-2020.

“Kader-kader Muhamma­di­yah punya keteguhan untuk me­nge­depankan gerakan dakwah bagi umat, sehingga intervensi dari luar tidak akan mempan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsud­din pada konferensi pers jelang muk­ta­mar di Makassar, Minggu, 2 Agustus 2015.  Din menyadari adanya upaya dari pihak tertentu untuk meng­ganggu ketenteraman umat Mu­ham­madiyah, terutama pada mo­men penting seperti muktamar yang merupakan agenda lima tahunan.

Din menyebutkan akhir-akhir ini sayup-sayup mendengar ada upaya segelintir tokoh partai politik untuk menyusupi mukta­mar. Caranya dengan mendekati serta mendukung calon-calon tertentu pada pemilihan anggota pengurus pusat.

Namun itu tidak akan ber­pengaruh,  katanya, sebab kader Muhammadiyah dianggap memi­liki karakter independensi yang kuat. Dengan modal itu, kader dengan mudah mendeteksi jika ada tokoh yang menjadi titipan dari luar.

Menurut Din, Muhammadi­yah sebagai salah satu ormas muslim terbesar di Indonesia memang menjadi daya tarik ter­sendiri bagi partai politik.

Banyaknya jumlah kader yang tersebar di seluruh provinsi meru­pakan potensi besar untuk me­raup dukungan suara pada pemi­lihan umum. Karena itu, parpol berlomba-lomba meraih perha­tian bahkan menyusupi. (tem/met)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]