Perhatikan Nasib Petani dan Pedagang


Senin, 03 Agustus 2015 - 20:09:51 WIB
Perhatikan Nasib Petani dan Pedagang

Karena selama kata Ir­man, meski sawit menjadi salah satu penyumbang pe­masukan yang besar ke dae­rah, namun petani belum sepenuhnya menikmati nik­matnya hasil sawit.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

“Kita ingin 200.000 ke­pala keluarga yang petani sawit di Sumbar benar-benar diper­hatikan kese­jah­tera­an­nya oleh pemerintah melalui pemimpin terpilih nantinya,” ujar Irman.

Perhatian ini ujar Irman, apakah nantinya akan di­wujudkan dalam bentuk regulasi, kebijakan, fasilitas atau pun bantuan lain yang memang menyentuh lang­sung petani.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

“Ketika petani sejahtera perekonomian akan berjalan dan daerah akan maju de­ngan sendirinya. Untuk me­wujudkan ini tentunya butuh peran pemimpin yang nan­tinya akan memimpin Sum­bar,” ucapnya.

Untuk harga sawit saat ini menurut Akasindo ma­sih belum berpihak ke­pada petani, terutama kepada petani swadaya. Karena har­ga yang diberikan masih separuh harga petani plasma yang ditetapkan di harga Rp1.600.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

“Padahal di Sumbar se­kitar 65 – 70 persen meru­pakan petani swadaya, sele­bihnya di kisaran 30 persen baru petani plasma. Ma­kanya kita berharap kebi­jakan nanti apakah berupa peraturan gubernur atau seperti apa dapat mem­per­juang­kan nasib petani sa­wit,” paparnya.

Selain harga Akasindo juga berharap kepada pe­mim­pin mendatang melalui di­nas terkait juga dapat mem­be­rikan bantuan dan bim­bingan kepada petani sa­wit. “Tanpa pemerintah ten­tu kita sangat lemah. Jadi, nan­tinya ada bantuan dari pe­merintah bagi petani teru­ta­ma swadaya ini,” terang­nya.

Baca Juga : Perang Inovasi dalam Era Disrupsi

Dari data Akasindo un­tuk lahan sawit, Sumbar sangat tertinggal jauh dari Riau. Dimana Riau hingga saat ini telah memiliki se­kitar 4 juta hektare lahan sawit sementara untuk Sum­bar masih di angka 400 ribu hektare.

“Andai saja ada kebijakan pemerintah memberikan ke­bijakan perluasan lahan, mini­malnya setiap petani di Sumbar mendapat 5 hektare lahan maka hasilnya akan sangat bagus dan akan memutar perekonomian Sumbar,” tukasnya.

Harapan yang sama juga diuta­rakan Ketua Asosiasi Komoditi Gambir Indonesia (AKGI) Sum­bar, Ramal Saleh. Menurutnya, pemipin Sumbar ke depan adalah pemimpin yang memiliki pan­dangan yang jauh ke depan jangan hanya memikirkan lima tahun masa kepemimpinannya.

“Harus ada hasil karya yang bisa dinikmati rakyat, apakah itu bisa dinikmati di masa k­epe­mim­pinannya atau pun setelah masa kepemimpinanya,” terang Ramal kepada Haluan Senin (3/8).

Khusus untuk petani gambir di Sumbar kata Ramal, memang sangat mengimpikan gubernur yang tidak hanya show ke sana ke mari tapi membuat sesuatu bagi rakayat.

“Katanya gambir komoditi andalan Sumbar tapi buktinya pemerintah terkesan tak serius dengan hal ini. Toh masih banyak petani yang belum menikmati lezatnya gambir,” ungkapnya.

Dilanjutkan Ramal, 80 persen produksi gambir Indonesia itu berasal dari Sumbar. Akan tetapi itu belum bisa dinikmati petani karena hasil ini langsung diekspor ke luar seperti halnya India.

Dengan ketiadaan perusahaan penyangga kata Ramal, juga men­ja­di faktor belum sejahteranya petani gambir di Sumbar.” Kalau saja pemerintah membuat pe­rusahaan penyangga untuk gambir ini, harga gambir kita tentunya tidak akan di­per­mainkan oleh harga pasar dunia,” katanya.

Dengan momentum harga Dollar yang melambung saat ini tutur Ramal sebenarnya bisa dimanfaatkan Sumbar untuk me­ng­ekspor gambir ke luar dan akan mendapat untung yang nantinya akan menyejahterakan petani.

“Ke depan tentu kita ingin pemimpin yang bukan hanya dekat dengan petani tetapi bisa membaca peluang-peluang s­e­perti ini, dan lagi tentunya pemim­pin yang bisa membuat terobosan baru terutama untuk petani gam­bir,” harap Ramal Saleh.

Liriklah Para Pedagang

Beberapa pedagang di Pasar Raya Padang yang setiap ditanya soal calon-calon gubernur hanya mendesis dan mengeluh serta ada yang malas bicara. Pasalnya, mereka beranggapan percuma banyak bicara, meminta, me­mohon dan berinspirasi jika pada kenyataannya hanya hasil kosong yang mereka dapatkan.

Salah seorang pedagang bahan pokok sembako, Soni saat di­datangi Haluan, Senin (3/8) di Pasar Inpres II Pasar Raya Padang mengatakan tidak berselera jika kembali membahas calon-calon yang sedang memperebutkan kursi gubernur. karena, ia hanya akan menelan kekecewaan me­n­dalam dengan janji palsu yang saat pencalonan dilontarkan.

“Sebenarnya saya sudah malas membicarakan soal siapa yang nantinya akan dipilih antara kedua pasang calon gubernur nantinya. Toh jika di antara me­reka sudah terpilih sudah lupa pada kami rakyat jelata ini,” ujarnya.

Dikatakannya, jika memang dipaksa memilih dan berharap ia menginginkan berbernur nan­tinya bisa melihat atau setidaknya bisa melirik nasib para pedagang di Pasar Raya tersebut. Mulai dari keadaan pasar yang hingga saat ini tidak jelas dan semrawutan hingga penataan dan pembangunan yang lama terbengkalai.

“Lihat saja keadaan pasar ini. Kewenangan ada pada tangan mereka. saat pencalonan mereka berjanji ini itu dan seabrik janji manis lainnya. tapi setelah ter­pilih, entah lupa atau pura-pura lupa sehingga kami rakyat kecil ini terpaksa gigit jari lagi,” timpal pedagang.

Hal yang senada juga dika­takan oleh pedagang barang Im­por pakaian bekas, Wandi. Ia menuturkan bahwa siapapun yang akan jadi gubernur terserah saja. Asalkan sesuai dengan janji yang pernah diungkapkan saat kam­panye dan mencalonkan diri.

“Siapa saja saya setuju saja. Yang penting nantinya bisa me­m­buat perubahan yang baik dan bisa mengaplikasikan kata-kata yang telah dikatakan saat ini,” pa­parnya.

Demikian juga yang disam­paikan oleh sala seorang importir hasil bumi, Munas bahwa me­nyimpan harapan bagi calon gu­bernur untuk melakukan per­baikan dan perubahan untuk Sumbar dan para pedagang.

“Saat ini dengan menguatnya dollar impor barang hasil bumi mengalami kemacetan. Sehingga kurang jalan. Kami para importir ini tentu saja berharap siapa yang terpilih nantinya bisa mem­beri­kan solusi terbaik,” katanya. ***

 

Laporan:
ISRA DAN WINDA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]