PADANG PARIAMAN, HALUAN — Kecepatan angin pada saat ter­gelincirnya pesawat Citilink QG 970 pada Minggu (2/8) malam,di Bandara Minangkabau (BIM), Pa­dang Pariaman mencapai 6 knot, jarak pandang 1.000 meter dan sempat terjadi badai guruh (Thun­derstorm). Kepastian penyebab kecelakaan yang tersebut akan diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Hal ini disampaikan, oleh Ge­neral Maneger (GM) Angkasa Pura II BIM, Yayan Hendrayani di kantor Air Nav, BIM. Ia menjelaskan, Angkasa Pura II tidak mau ber­spekulasi tentang penyebab ke­celakaan pesawat. Namun kondisi rill pada saat itu kecepatan angin 6 knot, dan jarak pandang mencapai 1.000 meter, dan masih kategori normal. "> PADANG PARIAMAN, HALUAN — Kecepatan angin pada saat ter­gelincirnya pesawat Citilink QG 970 pada Minggu (2/8) malam,di Bandara Minangkabau (BIM), Pa­dang Pariaman mencapai 6 knot, jarak pandang 1.000 meter dan sempat terjadi badai guruh (Thun­derstorm). Kepastian penyebab kecelakaan yang tersebut akan diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Hal ini disampaikan, oleh Ge­neral Maneger (GM) Angkasa Pura II BIM, Yayan Hendrayani di kantor Air Nav, BIM. Ia menjelaskan, Angkasa Pura II tidak mau ber­spekulasi tentang penyebab ke­celakaan pesawat. Namun kondisi rill pada saat itu kecepatan angin 6 knot, dan jarak pandang mencapai 1.000 meter, dan masih kategori normal. " /> PADANG PARIAMAN, HALUAN — Kecepatan angin pada saat ter­gelincirnya pesawat Citilink QG 970 pada Minggu (2/8) malam,di Bandara Minangkabau (BIM), Pa­dang Pariaman mencapai 6 knot, jarak pandang 1.000 meter dan sempat terjadi badai guruh (Thun­derstorm). Kepastian penyebab kecelakaan yang tersebut akan diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Hal ini disampaikan, oleh Ge­neral Maneger (GM) Angkasa Pura II BIM, Yayan Hendrayani di kantor Air Nav, BIM. Ia menjelaskan, Angkasa Pura II tidak mau ber­spekulasi tentang penyebab ke­celakaan pesawat. Namun kondisi rill pada saat itu kecepatan angin 6 knot, dan jarak pandang mencapai 1.000 meter, dan masih kategori normal. " />

Badai Guruh, Saat Citilink Tergelincir di BIM


Senin, 03 Agustus 2015 - 20:15:44 WIB

“Sempat terjadi Thunderstorm pada saat itu. Namun untuk kepastian penyebab tergelincirnya pesawat akan diselidiki oleh KNKT,” terang­nya. Kepala Air Nav Distrik Padang, Deri Yusral menyampaikan, kondisi cuaca pada saat itu memang ekstrem, namun untuk pesawat yang akan landas masih dapat d­ilalui. “Disability 1.000 meter masih pas untuk pendaratan. Ko­mu­ni­kasi Air Traffic Control (ATC) dengan pilot sudah sesuai standar,” ung­kapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihak Air Nav yang melayani na­vigasi penerbangan, siap mem­be­rikan semua komunikasi yang terjadi saat tergelincirnya pesawat ke­pada KNKT.

Data dari Wheater and Cli­mate Prediction Laboratory (WC­PL) dari Institut Teknologi Bandung.  Thunderstrom atau TS merupakan kondisi dimana cuaca diakibatkan oleh awan Co­mo­lunimbus (Cb) yang meng­hasil­kan angin kencang, guntur dan petir. Dalam dunia penerbangan TS diberi lima peringkat (ka­tegori) 1 hingga 5. Thunderstrom tingkat 5 ini adalah badai yang paling kuat dan tidak bisa dilalui oleh pesawat.

Pihak BMKG Padang melalui Kepala Seksi Observasi dan Informasi Budi Samiaji, saat dihubungi Haluan terkait adanya Thunderstrom pada malam ter­ge­lincirnya pesawat, melalui Short Message Servise men­jelas­kan, pihaknya tidak dapat mem­berikan informasi karena se­muanya sudah di bawah we­wenang KNKT.  Sementara itu, terkait dengan kerugian dari pihak bandara, Yayan me­nga­takan, AP II belum memastikan berapa kerugian yang diaki­batkan oleh ter­ge­lincirnya pe­sawat.

AP hanya fokus untuk me­ngatasi kelancaran arus lalu lintas penerbangan di bandara dan pengurai penumpang.

“Kami belum menghitung kerugian, tapi yang pasti ada 6 penerbangan yang tertunda dan terjadi penumpukan p­e­num­pang,” terangnya.

Hal yang sama juga disam­paikan oleh Direktur Utama Citilink, Albert Burhan, pihak­nya belum dapat memastikan berapa kerugian akibat ter­ge­lincirnya pesawat Citilink. Nanun Citilink akan mem­beri­kan asuransi kepada semua pe­numpang.

“Semua penumpang sudah kami asuransikan, tetapi pem­bayaran tegantung fatalitynya,” papar Albert.

Dari pantauan Haluan, se­kitar pukul 08.50 WIB pesawat mulai ditarik menggunakan push back car and tractors/aircraft towing truck menuju hanggar. Evakuasi pesawat berjalan lan­car, untuk nose wheel (roda depan pesawat) memerlukan plat baja agar sampai runway, karena lo­kasi evakuasi terbenam rumput yang berlumpur.

Sebelumnya pesawat Citilink QG970 yang membawa waktu mendarat tergelincir keluar run­way 33. Penerbangan tersebut berasal dari Jakarta dengan tu­juan Batam-Padang. Pesawat jenis Airbus A320 itu membawa total 178 penumpang, terdiri dari 174 dewasa, satu anak, dan tiga bayi. (h/rvo)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 20 Juli 2016 - 11:55:47 WIB

    Badai Dan Ombak Besar, Nelayan Tak Berani Melaut

    PADANG, HALUAN — Ratusan kapal nelayan di Pantai Purus Padang tak turun ke laut karena badai dan tingginya gelombang air laut. Menurut Badan Me­te­orologi, Klimatologi, Dan Geofisika (BMKG) kondisi ini akan tetap terjad.
  • Senin, 06 Juni 2016 - 03:16:35 WIB

    Badai, Nelayan Tak Melaut

    Badai, Nelayan Tak Melaut PADANG, HALUAN — Badai, nelayan susah melaut membuat harga ikan me­lambung. Disisi lain sejumlah kapal juga tidak bisa melaut karena tidak ada izin..
  • Rabu, 27 Januari 2016 - 04:52:15 WIB

    Kerugian Akibat Badai Miliaran Rupiah

    PADANG, HALUAN — Badai yang mener­jang Provinsi Sumbar sejak Minggu malam (24/1) hingga Senin (25/1) siangnya diperkirakan menimbulkan kerugian miliaran rupiah. Hal ini disebabkan karena selain pohon tumbang di Kota Padang.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]