Perekonomian Indonesia ‘Lampu Kuning’


Selasa, 04 Agustus 2015 - 19:27:19 WIB

Dia menyayangkan pem­beri­ta­an media massa yang menutupi kondisi perekonomian yang sebe­narnya dan hanya mengangkat cerita-cerita yang baik yang se­benarnya tidak sesuai dengan fakta. Media seperti mendukung pemerintahan saat ini dengan menutupi berbagai kekurangan pemerintahan saat ini, tapi fakta­nya media-media ini justru se­dang menjerumuskan pemerin­tahan saat ini dan bahkan rakyat Indonesia menuju jurang.

"Kita kasih isyarat bahwa ada 10 indikator yang bahwa kondisi saat ini sudah lampu kuning, tapi itu tidak dimuat. Padahal kita harapkan dengan peringatan yang kita keluarkan, ada langkah-langkah kongkrit yang bisa dila­kukan pemerintah supaya lampu bisa kembali mengarah ke hijau. Sekarang malah arahnya ke lam­pu merah," ujarnya.

"Saya sering diwawancara juga, tapi kalau tidak sesuai atau meng­kritik pemerintah tidak dimuat. Yang diberitakan hanya cerita-cerita baik dan keberhasilan yang juga tidak sesuai dengan fakta sementara yang faktual justru diabaikan. Ini berbahaya, bukan hanya untuk pemerintahan saat ini tapi juga rakyat Indonesia karena mereka justru mendorong pemerintahan dan negara ke jurang," ulasnya.

Media yang menutupi hal ini, maka pemerintah selalu bisa memberikan alasan yang enteng bahwa fundamental ekonomi masih kuat, pelemahan rupiah tidak jadi  masalah, pelemahan ekonomi hal biasa dan lain-lain­nya sebagainya.

"Pemerintah pun seperti meng­­gam­­pangkan bahwa indikator penurunan ekonomi jika ada capital flight dan selama surat utang negara masih laku terjual maka itu tidak jadi masa­lah," tegasnya.

Dia pun kembali mengingat­kan kondisi saat bahwa sumber utama ekonomi Indonesia adalah konsumsi yang terdiri dari rumah tangga sebesar 60 persen semen­tara pemerintah 40 persen sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekomomi. Ketika daya beli atau konsumsi masyarakat dan pe­merintah rendah, pengusaha tidak mampu berproduksi maka ekonomi pasti turun.

"Contoh lainnya kemarin BPS merilis inflasi pada saat lebaran hanya 0,9 persen dan itu ditegas­kan adalah terendah selama ini. Tapi tidak ditegaskan bahwa inflasi bahan makanan dan maka­nan jadi sebesar 2,2 persen dan ini yang tertinggi selama ini. Sektor transporatsi juga menga­lami peningkatan yang sangat signifikan. Inflasi sandang kecil karena memang konsumsi sandang menurun. Kalau ini yang terjadi, maka berikutnya akan banyak gelombang pemutusan hubungan kerja karena sektor manufaktur tidak bisa berproduksi lagi," tandasnya.

Sekretaris Tim Konsultasi Larangan Perbatasan Lembaga Konsultasi Kepabeanan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta Adil Karim mengatakan, saat ini Indonesia sedang me­ngalami permasalahan di sek­tor makro ekonomi. Di antaranya, inflasi yang meningkat selama bulan Ramadan dan Lebaran, serta daya beli masyarakat yang cenderung menurun.

Dia mencontohkan, pada saat pemerintahan Presiden Bac­haruddin Jusuf Habibie, peme­rintah saat itu berhasil menekan nilai tukar rupiah menjadi Rp6.500 terhadap kurs dolar dibandingkan sebelumnya yang berkisar mencapai Rp15.000.

Hal ini menurut Adi harus dijadikan referensi bagi peme­rintah untuk menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (h/sam/vvn/met)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM