Membangun Solsel dari Sektor Pariwisata


Rabu, 05 Agustus 2015 - 19:25:59 WIB
Membangun Solsel dari Sektor Pariwisata

Pemerintah dan masya­rakat Solsel tak bisa ber­harap banyak dari sektor pertambangan untuk me­nam­bah PAD. Lokasi per­tambangan di kawasan su­ngai dan hutan me­nye­bab­kan aktifitas pertambang sulit dilegalkan karena ter­bentur dengan aturan Ke­men­terian PU dan Kehu­tanan.

Baca Juga : Bertemu Gatot Nurmantyo dan Rizal Ramli, Ketua DPD RI: Pemerintah Harus Dikoreksi

Sementara dari sektor lain, kita ambil contoh sektor pariwisata, ber­po­tensi besar meningkatkan PAD. Namun, sektor ini belum digarap maksimal. Bila digarap dengan serius, PAD Solsel bisa meningkat drastis. Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) sudah mem­­­berikan bukti. Pada ta­hun 2013, PAD Pessel dari sektor Pariwisata ha­nya Rp38 juta. Setelah dikelola dengan baik, pada tahun 2014 menjadi Rp1,5 miliar. Pada tahun 2014, objek wisata di Pessel, teru­tama Pantai Carocok dan Bukit Langkisau di Painan, men­jadi tujuan utama wisa­ta di Sumbar saat lebaran. Pada tahun 2015, Pessel masih menjadi tujuan uta­ma wisa­ta, terlebih lagi setelah di­res­mikannya Ka­­wa­san Wi­sa­ta Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh di Taru­san, oleh Menteri Bappenas, Andrinof Cha­niago. Kita lihat saja berapa pada akhir tahun nanti PAD Pessel dari sektor pari­wisata. Pasti meningkat dari tahun 2014.

Potensi Pariwisata

Baca Juga : Menko Perekonomian-Mentan Salurkan 20 Ribu DOC Ayam Petelur ke Rumah Tangga Miskin

Potensi pariwisata Solsel sangat menjanjikan un­tuk menyumbangkan PAD karena selain bervaria­si, juga berbeda dari daerah lain. Solsel memiliki wisata budaya seperti kawasan saribu rumah gadang di Nagari Koto Baru, dan ka­wa­san rumah gadang pan­jang di Nagari Aba. Pada 2013, kawasan saribu ru­mah gadang menjadi salah satu lokasi syuting film Di Bawah Lindungan Ka’bah.

Ada lagi wisata budaya seperti kerajaan Alam Su­ram­bi Sungai Pagu dan masjid 60 Kurang Aso  di Nagari Pasir Talang.

Kemudian, ada wisata se­ja­rah di Nagari Bidar Alam, yak­ni stasiun pe­man­car (sen­der) radio AURI. Sender ra­dio ter­sebut berjasa mem­per­ta­hankan kemer­dekaan In­do­nesia pada masa PDRI.  Di tempat yang sama ada ru­mah Jama’ yang ditempati Mr. Sjafrudin Pra­wira­nega­ra se­la­ma 3,5 bulan, saat ber­sem­bunyi dari kejaran pasu­kan­ Belanda pada ta­hun 1949.

Solsel juga memiliki wi­sa­ta alam. 65 persen wila­yah Solsel adalah hutan tropis, dan memiliki banyak sungai sehingga daerah ini disebut seribu sungai. Hutan tropis ini baru dimanfaatkan untuk wisata alam, yakni men­jelajah hutan dengan sepeda motor trail yang disebut Trabas (adventure trail). Setiap tahun ada iven Trabas yang digelar di Solsel. Iven tersebut merupakan ker­jasama antara Pemkab de­ngan pihak swasta, dengan tu­juan memperkenalkan alam Solsel wisatawan. Ribuan peserta dari dalam dan luar Sumbar mengikuti kegiatan ini. Selain menjelajah hutan, iven ini juga untuk mem­perkenalkan objek wisata. Ke depannya, tinggal menambah lebih ba­nyak lagi iven serupa agar wisata alam Solsel sema­kin terkenal.

Padahal, hutan tropis juga dapat dimanfaatkan untuk wisata jelajah hutan dengan berjalan kaki, wisata pen­didikan seperti mengenal dan meneliti hutan tropis bagi mahasiswa, dan se­bagainya. Sayangnya be­lum ada yang memanfaatkannya.

Potensi sungainya juga belum dimanfaatkan untuk objek wisata, padahal bisa digunakan untuk olahraga arung jeram.

Masih di segi wisata hu­tan. Hutan tropis Solsel menjadi pecontohan dunia dari segi pengelolaan hutan oleh masyarakat setempat. Hutan tersebut adalah hutan Simancuang yang terdapat di Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo. Pada tahun 2014, hutan ini dikun­jungi oleh utusan 13 negara yang merupakan mitra Rain­forest Foundation Norway.

Wisata alam Solsel yang lain adalah air terjun. Kabu­paten bermoto Sarantau Sa­surambi ini memiliki banyak air terjun. Salah satu air terjun yang terkenal adalah air terjun Tangsi Ampek di Nagari Lubuak Gadang Ti­mur, Kecamatan Sangir.

Selain itu, ada juga wisata alam yang tak kalah me­nantang: mendaki Gunung Kerinci. Selain dari Sungai Penuh, Puncak Sumatera juga bisa didaki dari Sosel, yakni melalui pekebunan teh milik PT Mitra Kerinci.

Mendaki Gunung Ke­rinci lewat Solsel, bisa meng­hemat waktu perjalanan pen­daki untuk sampai di puncak. Menurut Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah IV di Solsel yang menaungi Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), bila mendaki melalui Sungai Penuh menghabiskan waktu selama kurang lebih 8 jam, mendaki lewat kebun teh PT Mitra Kerinci membu­tuh­kan waktu kurang lebih 6 jam. Kemudian, jalur yang dilalui lebih landai diban­dingkan jalan melalui Su­ngai Penuh yang cukup cu­ram. Namun, hingga saat ini, Pemkab Sol­sel belum juga membuka jalur pendakian melalui PT Mitra Kerinci, padahal pada Maret 2015, sudah ditan­datangani nota kesepahaman dengan SPTN wilayah IV karena jalur pendakian terse­but melalui TNKS. Padahal ini adalah kesempatan besar bagi Sol­sel untuk menarik wisata­wan ke Solsel.

Solsel juga memiliki ob­jek wisata pemandian air pa­nas atau Hot Water Boom (HWB) di Nagari Alam Pauh Duo. Pemandian air panas milik Pemkab ini merupakan pemandian air panas terbesar di Sumbar ini. HWB memberikan sum­bangan terbesar terhadap PAD dari sektor pariwisata.

Beberapa objek wisata yang saya sebutkan di atas merupakan sedikit contoh objek wisata yang terdapat di Solsel. Masih banyak lagi objek wisata lain, yang apa­bila saya tuliskan di koran ini dengan deskripsinya, akan menghabiskan ber­lembar-lembar halaman.

Kurang Infrastruktur dan Promosi

Meski memiliki banyak objek wisata, namun Solsel belum menjadi daerah kun­jungan utama para wisa­tawan di Sumbar. Kalau lebaran, orang lebih cen­derung ke Mifan di Pa­dang­panjang, Jam Gadang di Bukittinggi, atau Pantai Carocok Painan dan KWBT Mandeh di Pessel.

Mengapa Solsel belum menjadi tujuan utama objek wisata di Sumbar? Pertama, karena infrastruktur untuk menuju lokasi objek wisata tersebut masih kurang. Ke­dua, tidak dipromosikan secara maksimal.

Kurangnya infra­struk­tur, kita ambil contoh objek wisata air terjun Tangsi Ampek. Jalan untuk me­nuju Tangsi Ampek dari gerbang PT Mitra Kerinci yang ber­ja­rak sekitar 5 kilo meter, sangat buruk. Kondisi jalan yang berbatu-batu besar, membuat pengunjung lama sampai di tujuan. Ke­mu­dian, pengunjung tidak nya­man berada di atas ken­daraan. Apabila meng­gu­nakan mo­bil, pengunjung diaduk-aduk seperti pa­kaian dalam mesin cuci, selama perjalanan me­nuju Tangsi Ampek. Apa­bila menggunakan sepeda mo­tor, besar risiko terjatuh karena terganjal bebatuan. Banyak pengujung yang menge­luh­kan soal bu­ruk­nya akses menuju Tangsi Ampek.

Pada Maret 2015, Pem­kab Solsel sudah menan­datangani nota kese­paha­man dengan PT Mitra Ke­rin­ci sebagai pemilik lokasi akses menuju Tangsi Am­pek. Namun entah mengapa, jalan ke sana belum juga ditingkatkan kualitasnya.

Contoh lain kurangnya infrastruktur objek wisata di Solsel menurt Nofrins Napi­lus adalah kurangnya toilet. Keberadaan jumlah toilet yang cukup di objek wisata adalah standar objek wisata di mana saja. Ia juga mengk­ritik kurangnya bak sampah di objek wisata. Padahal, objek wisata harus bersih untuk menjaga ke­nyamanan pengunjung.

Sementara kurangnya promosi objek wisata di Sol­sel bisa kita ambil con­toh Tangsi Ampek. Tidak banyak orang tahu bahwa air terjun dua tingkat ini me­rupakan air terjun tertinggi sekaligus air terjun yang kolam peman­diannya ter­besar di Sumbar. Air terjun ini memiliki tinggi lebih kurang 30 meter. Pada ting­kat bawah, air terjun ini tingginya 20 meter (M). Sedangkan yang tingkat atas, tinggi air terjunnya 8 M hingga 10 M. Selain tinggi, air terjun ini juga merupakan air terjun dengan debit air ter­besar dibandingkan de­ngan air terjun lain di Sum­bar. Dengan deras debitnya, Tang­si Ampek menjadi lo­kasi penerjunan kayak per­tama di Indonesia yang dila­kukan oleh turis Afrika Selatan pada 24 November 2009.

Mengapa kunjungan wi­sa­tawan dari luar Solsel ke air terjun ini masih sedikit? Kurang promosi barangkali salah satu penyebabnya. Kalau banyak pengunjung, bisa ditarik uang karcis dan uang parkir di lokasi ini.

Menurut Pengamat Pari­wisata Sumbar, Nofrins Napilus, melengkapi sarana pra­­sarana dan mem­pro­mo­si­kan objek wisata adalah dua hal yang harus sejalan. Apabila infrastruktur objek wisata lengkap, namun ku­rang promosi, menyebabkan kurangnya pengunjung. Se­mentara jika banyak pro­mosi, namun minim infra­struktur, akan me­nge­cewa­kan pengunjung.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mem­pro­mosikan objek wisata. Mela­lui media massa, baik cetak, elektronik dan daring. Ke­mudian melalui media so­sial seperti facebook, twitter, dan sebagainya. Lalu, de­ngan menggunakan brosur, baliho di pinggir jalan, dan sebagainya.

Butuh Dukungan Dana

Memajukan pariwisata tanpa dukungan dana dari adalah hal mustahil. Me­lengkapi sarana dan pra­sarana objek wisata dan mem­promosikannya, mem­butuhkan dana yang besar.

Mengenai dana, Pemkab dan DPRD Solsel mesti me­ma­hami bahwa pariwisata adalah potensi yang tidak ada habisnya selama alam­nya dijaga. Dengan sekali berinvestasi, setelah itu pa­nen terus.

Namun, persoalan dana adalah sesuatu yang dile­matis di Solsel. Bupati Sol­sel, Muzni Zakaria berkali-kali menyebutkan, mem­perbaiki dan me­leng­kapi infrastruktur adalah prio­ritas pem­bangunan Sol­sel, Kare­na infrastruktur se­perti jalan dan jembatan masih kurang. Barangkali hal itu menyebabkan ku­rang­nya alokasi dana untuk sektor lain, termasuk sektor pari­wisata.

Meski demikian, tetap mesti ada alokasi dana untuk objek wisata yang diprio­ritaskan untuk dima­jukan seperti Tangsi Ampek, HWB dan kawasan saribu rumah gadang.

Ambil contoh jalan me­nuju ke Tangsi Ampek. Pem­kab melalui Dinas PU mesti menganggarkan dana untuk perbaikan jalan itu, karena tidak akan menghabiskan dana sebanyak menga­loka­sikan dana untuk infra­struk­tur arus utama.

Suvenir, Kuliner dan Atraksi Senin Budaya

Suvenir, kuliner dan atrak­­­si seni budaya adalah penunjang pariwisata. Suve­nir yang khas bisa menjadi penanda seseorang ber­kun­jung ke sebuah objek wisata atau ke sebuah daerah. Kalau berkunjung ke Bukitinggi, wisatawan biasanya mem­beli kaos atau mainan kunci ber­motif Jam Gadang. Ka­lau tidak ada su­venir, tidak ada yang dibawa pulang oleh wisatawan, ke­cuali ke­na­ngan.

Kuliner juga hal yang tak kalah penting. Kuliner bah­kan bisa menjadi wisata tersendiri. Jika kuliner di sebuah daerah enak dan tidak terdapat di daerah lain, orang juga akan tertarik mendatangi daerah tersebut.

Demikian pula atraksi se­ni budaya. Solsel me­miliki ke­senian tradisi yang tak ada di daerah lain seperti Silek Lun­cua, Batombe, dan se­ba­gainya.

Berwisata ke objek wisa­ta, menikmati kuliner, me­nyak­sikan atraksi seni bu­daya, membeli suvenir, mem­­buat wisatawan tidak ingin cepat pergi dari Solsel. Dengan begitu, wisatawan akan menginap.

Keuntungan dari sektor pariwisata diperoleh oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat kecil seperti pedagang makanan, pe­da­gang suvenir, tukang parkir, pemandu wisata, jasa antar seperti ojek dan penyewaan mobil, pemilik penginapan, seniman lokal yang me­nampilkan atraksi seni tra­disi, dan semua pihak dari sektor yang berhubungan dengan pariwisata.

Jika sudah begini, apalagi yang kurang jika berwisata ke Solsel? Untuk apalagi ma­syarakat Solsel susah payah berendam siang ma­lam di sungai untuk mencari emas. Untuk apa juga Pem­kab Solsel susah payah men­cari cara untuk melegalkan tam­bang emas jika pari­wisata itu sendiri adalah emas yang tidak akan ada habisnya. ***

 

HOLY ADIB
(Wartawan Haluan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]